
Seorang pria bertudung dengan topeng Phoenix yang menutupi wajahnya menghampiri pemuda yang tergeletak di gang sepi. Pria bertudung itu mengamati tempat disekitar pemuda itu dan menemukan sebuah kalung anjing yang telah terpotong lalu mengamatinya sebentar.
"Kalung perbudakan, ya?" Gumamnya seraya menatap pemuda malang yang tergeletak tak berdaya dengan luka tembak dipunggungnya.
"Sepertinya dia masih hidup. Sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit dan dia mungkin bisa berguna untukku." Lalu pria bertudung itu mendekati pemuda yang tergeletak tak berdaya dan membopongnya. Pria itu melirik sekitar memastikan tak ada seorangpun yang melihatnya lalu segera menghilang dari sana.
Mereka muncul tiba-tiba di sebuah rumah sakit dan membawa pemuda itu ke UGD.
"Tolong obati dia. Sepertinya dia korban penembakan." Ucap pria bertudung itu membuat semua yang berada disana terpaku. Siapa yang tidak mengenal pria bertudung dengan topeng Phoenix? Menurut rumor yang beredar, sosok pria bertudung itu seorang pembunuh bayaran yang terkenal dengan kesadisannya dalam menghadapi target. Beberapa perawat segera menghampiri mereka dan melakukan penanganan karena segan sekaligus takut pada sosok itu.
"B-baik, Tuan. Silahkan tunggu diluar dan urus administrasi nya." Ucap salah seorang perawat dengan gugup.
"Hn." Pria bertudung itu segera beranjak menuju tempat administrasi.
Beberapa saat kemudian beberapa perawat keluar sambil mendorong brankar dengan seorang pemuda bersurai pirang kecokelatan yang tergeletak tak berdaya terbaring diatasnya. Terdapat selang oksigen dihidungnya dan infus serta dua buah kantong darah menancap disalah satu lengannya bertepatan dengan kembalinya pria bertudung itu.
"Syukurlah Anda membawanya tepat waktu. Telat sedikit saja mungkin nyawanya tak tertolong akibat pendarahan. Saat ini dia telah melewati masa kritis dan menjalani perawatan selama tiga hari. Kemungkinan sadarnya besok." Jelas sang dokter panjang lebar.
"Hn."
⚛️⚛️⚛️
Sang rembulan telah kembali ke peraduannya dan digantikan oleh sang mentari yang bertugas menyinari bumi dengan cahaya hangatnya yang menerobos masuk di jendela sebuah kamar bernuansa minimalis. Terlihat seorang gadis berusia 12 tahun tidur dengan selimut yang menggulung tubuhnya.
"Kiran bangun!" Seru Ellios sambil mengguncang tubuh Kirania yang hanya dibalas dengan erangan dari sang pemilik tubuh.
"Ya ampun, Kiran! Bangun woi! Kita akan terlambat!" Ellios menaikkan nadanya seoktaf.
"Ngghhh~ 5 menit lagi, Kak~" Erang Kirania lalu kembali melanjutkan tidurnya membuat pemuda bersurai maroon itu berdecak kesal. Ellios lalu keluar dari kamar Kirania dan menghampiri Albert yang tengah menata sarapan di dapur.
"Lho, Kiran belum bangun?" Tanya Albert saat melihat putra angkatnya keluar dari kamar Kirania seorang diri.
"Belum, Pa. Aku sudah berusaha membangunkannya, tapi dia kembali molor."
"Bangunkan dia dengan cara apapun. Nanti kalian bisa terlambat ke sekolah." Titah Albert tanpa menyadari senyum iblis terpatri diwajah pemuda bersurai maroon tersebut.
Langsung saja Ellios kembali menuju kamar sang adik angkat setelah mendapat ijin dari ayah angkatnya. Dilihatnya Kirania yang masih setia dialam mimpinya.
Ellios berjalan kearah meja yang terletak di pojok kamar, dia mengeluarkan sebuah flashdisk lalu mencolokkan pada tape recorder, pemuda berambut maroon itu menekan salah satu tombol di tape recorder milik adik angkatnya, tak lupa mengeraskan volumenya dan terdengar alunan musik heavy metal yang siap memekakkan telinga.
"BISAKAH KAU MATIKAN MUSIKNYA, KAKAKKU SAYANG?!! KAU INGIN AKU CEPAT TULI, HAH?!" Perintah Kirania dengan berteriak agar suaranya tidak kalah dari musik yang mengganggu tidur cantiknya.
"TENTU SAJA, ADIKKU SAYANG!!" Balas Ellios dengan berteriak juga, lalu menekan tombol tape recorder dengan santainya dan kamar Kirania kembali tenang.
"Darimana kau mendapatkan lagi perusak suasana itu, Kak?" Tanya Kirania sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya.
"Tentu saja aku mencarinya di internet. Rupanya sangat efektif untuk membangunkanmu dari mati suri." Sahut Ellios sambil mencabut flashdisk nya.
"Kenapa mesti menyimpan lagu itu, sih? Kau ingin cepat tuli?" Tanya Kirania disela kegiatannya mencari peralatan mandi.
"Musik ini spesial untukmu, Kiran. Kau tau tidurmu itu mirip orang mati. Apa kau berencana cosplay menjadi Sleeping Beauty?" Ellios mendudukkan diri di ranjang Kirania.
"Terimakasih, tapi ogah deh. Memangnya ada orang terbangun dari tidur panjangnya dengan sebuah ciuman? Itu tidak masuk akal sama sekali. Asal kau tau saja, cerita aslinya sang putri tidur diperkosa oleh seorang raja lalu hamil anaknya. Dia melahirkan saat masih tidur dibantu dengan para ibu peri, lalu salah satu anaknya yang masih bayi menghisap jarinya membuat dia terbangun dan kaget saat melihat anaknya namun malangnya dia mengetahui bahwa anaknya itu merupakan anak dari hasil hubungannya dengan seorang raja saat dirinya masih tertidur. Sayangnya sang ratu yang mengetahui keberadaannya marah dan menyiksanya didepan raja dengan kejam. Kau mau itu terjadi padaku?" Ucap Kirania panjang lebar seraya masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintu. Dia segera meletakkan peralatan mandinya dan mulai menyikat gigi.
"Hee~ Jadi cerita itu sad ending? Ku kira endingnya bahagia dan– Hei! Tutup pintunya, bodoh!" Seru Ellios saat melihat adik angkatnya dikamar mandi tengah menggosok gigi dengan santainya.
"Oh~ Ku pikir Kakak juga mengajakku ngobrol terus. Jadi aku lupa nutup pintunya." Sahutnya santai. Gadis berambut pendek mirip laki-laki itu menolehkan kepalanya kearah kakak angkatnya dengan santai, tidak lupa dengan sikat gigi berada dimulutnya.
"Cepat mandi dan bersiap. Aku menunggumu diruang makan." Ucap Ellios sambil berlalu pergi dan menutup pintu kamar Kirania.
"Ku pikir kau akan memecahkan jendela." Ucap Albert saat melihat Ellios keluar dari kamar Kirania. "Dimana adikmu? Dia belum bangun?" Tanyanya lagi.
"Dia sedang bersiap." Sahutnya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang makan dan duduk dihadapan pria itu.
"Elli, sebagai seorang kakak, jaga Kirania. Dia masih polos. Jika ada laki-laki asing, mencurigakan dan berbahaya mendekati adikmu, segera jauhkan dia."
"Ba-baik, Pa. Sebagai seorang kakak aku pasti melindungi adikku." Sahut Ellios mantap membuat pria itu menghembuskan nafas lega.
"Sepertinya dia mengidap daughter complex." Batin Ellios facepalm.
"Bagus." Albert kembali di tempat duduknya bertepatan dengan keluarnya Kirania dari kamarnya dengan seragam SMP berupa rok sepanjang lutut dan rompi bewarna hijau lumut dengan kemeja kuning. Tidak lupa kacamata anti radiasi menghiasi wajah gadis itu membuat penampilannya seperti orang culun.
"Pagi, Papa dan Kakak!" Serunya riang dan menghampiri dua laki-laki yang tengah berbincang-bincang di ruang makan.
"Pagi." Jawab mereka kompak. Segera Kirania duduk disebelah Ellios dan menyambar sarapan buatan sang ayah dengan lahap, lalu meminum segelas susu dengan sekali tegukan dan bersendawa.
"Kau ini tidak ada manis-manisnya sama sekali." Gerutu Ellios sembari memakan sarapannya.
"Bodo." Sahutnya cuek sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudahlah kalian. Cepat habiskan sarapan dan segera berangkat." Albert memperingatkan.
"Oke, Pa. Kami berangkat." Ucap Kirania sambil menciun pipi sang ayah.
"Hati-hati dijalan."
⚛️⚛️⚛️
Setelah dua remaja itu keluar dari apartemen nya, pria tampan bak dewa itu segera membereskan peralatan sarapan mereka dan mencucinya lalu meletakkan di rak piring.
Dia lalu mengambil peralatan bersih-bersihnya dan mulai membersihkan apartemen mengingat hari ini pria tampan bak dewa itu tidak bekerja.
Setelah selesai membersihkan apartemen, Albert segera membersihkan diri di kamar mandi. Pria tampan bak dewa itu berdiri dibawah kucuran shower sambil memikirkan rencana nya hari ini.
"Sepertinya mencari rumah baru yang aman adalah pilihan terbaik, mengingat akhir-akhir ini banyak orang bersenjata menerobos malam-malam ke apartemen ini. Aku khawatir mereka kena masalah suatu hari nanti." Gumam Albert lalu menyudahi aktivitas nya.
Dia segera mengeringkan tubuhnya lalu melilitkan handuk di pinggangnya. Segera Albert keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
Albert mengambil handuk kecil yang sudah dia siapkan dan mengeringkan rambutnya yang masih meneteskan air sambil berjalan menuju lemari pakaian. Dia segera mengeluarkan pakaiannya dan memakainya.
Celana jeans hitam dipadukan dengan kaos polos berwarna putih dengan jaket kulit hitam, tidak lupa dia memakai sabuk hitam dengan rumbai rantai sebagai pemanisnya. Kali ini dia tidak memakai topeng wajah yang biasa dipakainya. Segera Albert mengambil helm full face lalu memakainya, diamengambil sebuah kunci motor dan ponsel serta dompet lalu menghilang dari sana.
Albert muncul tiba-tiba di sebuah parkiran dan segera mendekati sebuah motor sport berwarna hitam dan memasukan kunci di stop kontak motor itu lalu menghidupkan nya. Setelah memanaskan sebentar, pria itu segera menggeber motornya meninggalkan area parkir menuju jalan raya dan membaur dengan pengendara lainnya.
Visual
Joshua Alandero Mahardika
Tatto:Phoenix Merah
Keahlian: Pengendali api, seorang hacker dan pembunuh bayaran. Dia bekerja sebagai seorang dokter.
Albert Fernando Mahesa
Tatto: Naga Biru
Keahlian: Pengendali es, ahli pedang dan seorang sniper. Dia juga seorang pembunuh bayaran bersama Joshua. Bekerja sebagai seorang bartender.
Anggap aja matanya bewarna biru gelap dengan beberapa helai rambut biru ya gengs😁.