
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi mendatangi halaman belakang sekolah. Pria paruh baya yang terlihat tampan diusianya itu mengamati sekitar memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka.
"Aku melakukannya tidak gratis. Aku ingin beberapa siswa pilihan yang akan mendampingi ku nanti. Masukan mereka ke dalam kelas khusus." Ucap pria itu dengan tegas.
"Ini data siswa kelas 3 yang Anda minta, Tuan." Ucap salah satu guru sambil menyerahkan sebuah map. Pria itu menerima berkas itu dan membacanya sekilas.
"Bagaimana dengan ujian kelulusan yang akan diadakan sebentar lagi?" Tanya salah satu guru dengan cemas.
"Ujian kelulusan akan diadakan 3 bulan lagi. Jadi manfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin."
Tanpa disadari, dua orang siswa mendengar pembicaraan mereka dari masing-masing tempat. Yang satu selonjoran diatas pohon dan yang satunya lagi tiduran di semak-semak tak jauh dari mereka.
⚛️⚛️⚛️
Kirania yang asik selonjoran di dahan pohon sambil mendengar pembicaraan orang dewasa dibawah sana melihat seekor ular merayap di dekatnya. Dengan santai dia mengambil ular itu lalu melemparnya kebawah dan mengenai salah satu guru yang berada di bawah sana. Segera gadis itu mengambil earphone dan menghidupkan musik yang cukup kencang lalu berpura-pura tidur agar tidak dicurigai oleh mereka takut-takut dirinya kepergok.
Sementara dibawah sana
Saat mereka membicarakan hal penting, salah satu diantaranya mendadak diam dengan tubuh kaku.
Dia merasa sesuatu merayap di punggung nya.
"Kau kenapa?" Tanya pria itu saat salah satu guru terdiam dengan tubuh kaku, tidak lupa dengan keringat dingin mengalir deras di pelipisnya.
"S-sepertinya ada ular di bahu ku." Jawabnya terbata. Tebakannya benar saat melihat seekor ular merayap di bahunya.
"Gyaaa!! Ular! Cepat singkirkan dia! Aku geli!" Teriaknya histeris sambil melompat kesana kemari dengan heboh.
Salah seorang diantara mereka segera menghampiri pria itu lalu menangkap sang ular, pria itu melemparkan sang ular ke arah semak yang tak jauh dari sana.
'Krasak'
"Brengsek! Siapa yang melempar ular ini ke arahku?!" Maki seorang siswa laki-laki yang mendadak muncul dari balik semak-semak dengan wajah yang masih mengantuk. Dia menatap sekumpulan pria dewasa dengan tatapan membunuh karena terganggu dengan teriakan dari salah satu diantara mereka dan lemparan seekor ular.
"Bisakah kalian tidak mengganggu tidur siangku? Kalian bisa mencari tempat lain untuk mengobrol, kan?" Ketusnya seraya keluar dari semak-semak.
"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya pria itu dengan tatapan curiga.
"Aku tidur disini sejak 2 jam yang lalu. Apa masalahnya?" Lalu remaja itu mendongak keatas diikuti oleh yang lainnya. Tanpa basa basi remaja laki-laki itu mengambil ketapel dari saku celananya dan menembak kearah Kirania yang selonjoran di dahan pohon yang sukses mengenai gadis itu.
Kirania yang kaget langsung melongok ke bawah dan mendapati beberapa orang menatapnya dengan curiga. Kirania melepas earphone nya dan menatap mereka kesal.
"Ada apa?" Tanyanya polos yang sukses membuat remaja laki-laki itu kesal.
"Turun kau, sialan!" Maki remaja laki-laki itu.
"Kau mau menangkapku?" Goda Kirania sambil merentangkan tangannya membuat laki-laki itu semakin kesal. Sementara laki-laki dewasa itu hanya menganga tak percaya melihat tingkah seorang gadis culun bersantai diatas pohon.
"Dalam mimpimu!" Ketusnya.
Tanpa basa basi Kirania mengambil kotak bekal siang nya lalu melompat dari pohon setinggi 3 meter dan mendarat mulus di tanah membuat mereka melongo tak percaya.
"Jadi ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanyanya polos.
"Sejak kapan kau berada disana? Apa kau menguping pembicaraan kami?" Tanya pria itu dingin.
"Sejak jam istirahat berbunyi. Menguping? Memangnya kalian membicarakan sesuatu, ya?" Sahutnya santai membuat mereka terdiam. Kirania menatap pria bersetelan rapi itu dengan tatapan menilai sambil mengingat-ingat. Dia ingat! Pria itu asisten sekaligus tangan kanan Derrick!
"Apa kalian mendengar pembicaraan kami?" Tanya seorang guru dengan hawa membunuh membuat 2 siswa itu mengernyitkan dahinya.
"Pembicaraan apa? Memangnya aku mendengar suara berisik jika telingaku tersumpal earphone?" Sahut Kirania sambil menunjukkan kearah earphone yang menggantung di lehernya, samar-samar terdengar lagu yang berasal dari sana yang dapat di dengar oleh sekumpulan orang-orang yang berada di sana.
"Aku juga tidak mendengar apapun. Apa orang tidur bisa mendengar pembicaraan? Aku hanya kaget mendengar teriakan cempreng dan seekor ular yang muncul mendadak." Jawab remaja laki-laki itu dengan jujur.
Mereka menatap 2 remaja itu dalam-dalam. Merasa tidak ada kebohongan dari mereka, dia berdeham dan berkata, "Baiklah. Kalian boleh pergi."
Tanpa basa basi 2 remaja itu segera angkat kaki dari sana. Setelah 2 remaja itu menghilang dari sana, pria itu menatap mereka dengan tajam.
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Jangan mengikuti ku!" Bentak siswa laki-laki itu sambil menatap tajam Kirania yang berjalan di belakangnya.
"Siapa yang mengikuti mu? Ge er amat." Sinis Kirania.
"Lalu apa ini?"
"Kelas kita searah, bodoh. Apa kau lupa, eh?"
Laki-laki itu terdiam. Benar juga, arah kelas mereka searah membuatnya sedikit malu.
"Ku rasa mereka akan mengawasi kita. Sebaiknya kau waspada." Ucap Kirania saat tiba di depan kelasnya dan segera memasuki ruang kelas begitu saja, mengabaikan laki-laki itu yang menatapnya dengan tanda tanya tanpa menyadari beberapa pasang mata menatapnya dengan tajam.
Jam sekolah telah usai, beberapa siswa masih berada di area sekolah melaksanakan piketnya. Terlihat Kirania menenteng tong sampah menyusuri koridor yang telah sepi.
"Hei, kau." Sapa seorang laki-laki membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara. Terlihat seorang laki-laki tampan dengan rambut biru ombre putih jabrik, mata biru langit yang indah dengan kulit putih pucat berdiri di sebelah gadis itu. Tidak lupa tiga piercing menggantung di telinga kanannya.
"Ya? Kau yang tadi, kan?" Tanya Kirania memastikan yang di balas dengan anggukan laki-laki itu.
"Maaf untuk yang tadi. Bisa bicara sebentar?"
Kirania mengamati sekelilingnya, dia merasa beberapa pasang mata tengah mengawasi mereka. Gadis itu tampak berfikir sebentar lalu menjawab dengan berbisik, "Kita bicara di tempat lain saja."
"Aku Petra Andaresta, kau bisa memanggilku Petra." Dia memperkenalkan diri.
"Kirania Revalina, kau bisa memanggilku Kiran." Balas Kirania jutek.
⚛️⚛️⚛️
"Jadi, apa maksud perkataanmu tadi?" Tanya Petra dengan serius sambil mengaduk cappucino miliknya. Dia menatap Kirania yang asik menikmati jus semangka sambil mengamati sekitar dengan serius.
Saat ini mereka berada di salah satu cafe yang berdekatan dengan apartemen tempat Kirania tinggal.
"Apa kau mendengar perbincangan mereka tadi?" Kirania balik bertanya membuat Petra mengerutkan dahinya dan mengangguk.
"Ya, aku mendengar tadi."
"Mereka akan mengawasi kita karena curiga. Mereka berpikir bisa saja kita mendengar perbincangan mereka. Menurutku mereka membahas hal rahasia." Jelas Kirania menatap Petra dengan serius.
"Maksudmu?"
"Pria berpakaian kantoran itu bukan pria sembarangan. Dia merupakan salah satu orang kepercayaan dari bos sebuah perusahaan besar. Aku bisa mengetahui nya dari pakaian yang dipakainya." Jelas Kirania membuat Petra mengangguk.
'Dan dia adalah orang kepercayaan pria keparat itu.' Lanjutnya dalam hati.
Kirania melihat sebuah tatto di pangkal leher Petra berkedip dengan warna biru gelap yang indah menyerupai lambang dari zodiak Pisces.
"Kau pemilik tatto Pisces?" Tanya Kirania membuat pemuda itu menatapnya tajam. Menyadari tatapan itu Kirania memperlihatkan lehernya yang berkedip dengan tatto zodiak Aquarius.
"Senang bertemu denganmu, Merman." Suara Ganymede bergema di kepala mereka membuat Petra tersentak kaget.
"Ternyata kau, Manusia Es. Dugaanku benar bahwa gadis itu adalah wadahmu." Sinis sebuah suara laki-laki yang bergema di kepala mereka. Hanya pemilik tatto zodiak yang bisa mendengar percakapan antara dewa zodiak.
Namun saat asik memperhatikan sekitar, Kirania melihat seorang pria yang familiar tengah baku hantam dengan beberapa pria bersenjata di seberang cafe. Beberapa pejalan kaki dan pengunjung berhamburan menyelamatkan diri. Bahkan beberapa kendaraan memilih putar arah agar tidak menjadi sasaran peluru nyasar.
"Sepertinya suasana kali ini sedikit menyenangkan." Ucap Petra tiba-tiba bertepatan dengan beberapa orang berseragam sambil membawa senjata memasuki cafe tersebut membuat beberapa pengunjung melarikan diri.
'Sreengg'
"Kau benar. Bagaimana jika kita bersenang-senang sejenak?" Sahut Kirania sambil mengeluarkan kipas besi kesayangannya dan mengipaskan dengan santai. Petra menatap Kirania dengan dahi berkerut. Memangnya gadis culun yang terlihat lemah ini bisa berkelahi?
Salah satu diantara orang berseragam itu menghampiri tempat Kirania dan Petra sambil menodongkan senjata api dan berkata dengan nada membentak membuat sepasang remaja itu mendengus malas. "Kalian berdua! Serahkan barang berharga milik kalian dan ikuti kami!"