
"Kalian yang tidak bisa bertarung sebaiknya menyingkir." Ujar Ellios santai membuat Xeon tersinggung.
"Apa maksudmu? Kau pikir kau siapa selain pembuat onar yang suka berkelahi." Sinisnya tak terima.
"Eh, nyolot. Kau sendiri mana pernah berkelahi dengan orang-orang seperti ini. Ingat, kau itu cuma mengandalkan nama besar keluarga mu saja. Dasar." Cibir Antares kesal.
'Dor' 'Dor'
Dengan cepat mereka berdua berhasil menghindari serangan peluru itu. Ellios berlari menerjang mereka dan menendang leher salah satu orang berseragam khusus itu hingga terdengar bunyi patah tulang yang mengerikan.
"Astaga, kalau menembak yang benar, dong." Seru Ellios dengan nada mengejek lalu kembali menghajar mereka.
'Ctarr' 'Ctarr'
"Aarrgghhh" 'Brukh'
Suara teriakan kesakitan disusul dengan ambruknya beberapa orang berseragam itu membuat mereka bergidik ngeri. Ellios tidak memberikan mereka kesempatan dan menghajar mereka semua.
Sontak mereka bertiga menatap Ellios tak percaya. Berlari menghindari rentetan peluru yang menyerangnya bertubi-tubi dan memainkan cambuk serta tendangan yang mengerikan. Jika orang biasa, sudah pasti dia akan menerima sebuah peluru nyasar di tubuhnya.
"Lain kali suruh pemimpin kalian yang turun tangan!" Ujar Ellios sambil menginjak kepala salah satu dari mereka.
Sementara Antares melemparkan boomerangnya, menyasar kepala orang-orang berseragam itu hingga membuat mereka tumbang.
'Brukh'
'Tap'
Boomerang itu melayang kearah pemuda berambut cokelat itu dan berhasil ditangkap dengan mudah. Lalu dengan santai Antares menatap mereka dan menghitungnya.
"Wah, pengecut sekali. Kalian ingin menghajarku dengan bergerombol seperti lalat?" Ujar Antares dengan nada memprovokasi membuat mereka geram.
"Tembak dia!" Seru salah satu orang berseragam dengan kesal. Seketika suara tembakan terdengar di sana membuat 3 temannya menundukkan kepalanya.
"Hei, hei, bahaya nih. Tembakan kalian meleset." Balasnya santai sambil menghindari hujanan peluru yang diarahkan kearah pemuda berambut cokelat itu lalu dengan santainya dia melemparkan boomerang kearah mereka.
'Wuuusshhh'
'Duakh' 'Duakh'
'Brukh' 'Brukh'
Beberapa orang berseragam itu tergeletak pingsan di jalanan yang itu. Antares berlari dan melayangkan tendangan dan pukulan kearah mereka.
"Apa bos kalian itu seorang pengecut? Kenapa dia mengirim orang macam kalian, sih." Gerutu Antares kesal dan kembali melawan mereka.
Beberapa menit berlalu, terlihat beberapa orang berseragam dengan senjata khusus tergeletak tak sadarkan diri di jalanan. Sementara Emillia, Xeon dan Irene gemetar ketakutan.
"Saatnya kita pergi. Sebentar lagi akan ada polisi aneh yang akan datang." Tukas Antares.
"Hn."
Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu, melupakan ketiga teman mereka yang masih mencerna kejadian yang baru saja mereka alami.
Mereka dari keluarga kaya yang selalu keluar dengan dikawal bodyguard atau dengan mengandalkan nama besar orang tua, untuk pertama kalinya mereka melihat hal yang mengerikan. Pertama kali mereka mengetahui jika orang yang mereka anggap bodoh dan pembuat onar ternyata mengalami hal yang seperti ini.
Mereka bertiga biasanya suka menindas orang yang lemah, memanfaatkan orang yang dibawahnya kini hanya bisa terpaku seperti patung.
"Hei, Ellios. Sepertinya kita melupakan sesuatu." Ucap Antares sambil mengingat-ingat.
"Lupakan saja. Mungkin bukan hal penting."
⚛️⚛️⚛️⚛️
"Astaga, lagi-lagi ada komplotan ini. Apa mereka tidak bosan?" Ujar Ren sembari menatap tubuh yang tergeletak tak sadarkan diri dengan malas.
"Sudahlah Senior, ngomelnya nanti saja." Ujar salah satu bawahannya dengan ketus.
"Tapi Ayuri, bukankah kau tidak bosan melihat kejadian ini terus? Bahkan yang mereka incar adalah orang dengan ekonomi rendah. Aku tidak habis pikir." Imbuh Ren sambil geleng-geleng kepala.
"Inspektur, kami menemukan 3 remaja yang bersembunyi disini!" Seru salah satu anggota kepolisian membuat Ren menghampiri mereka. Terlihat 3 remaja itu sangat shok terduduk di balik gedung sebuah toko yang telah tutup, sepertinya mereka kaget dengan kejadian yang baru saja mereka alami.
"Sepertinya kalian terlalu bodoh melihat pemandangan ini, ya." Ucap Ren yang sontak membuat ketiga remaja itu menatapnya dengan kaget.
"Kalian yang biasa menindas orang lain sekarang malah menjadi patung karena melihat mayat, heh. Ternyata mental kalian itu hanya sebesar biji kacang." Balasnya dengan nada mengejek yang menusuk.
"Kami tidak tau akan hal seperti ini." Tukas Xeon.
"Anak manja seperti kalian mana tau hal seperti ini. Sepertinya 2 temanmu itu pergi meninggalkan kalian, ya. Wajar sih karena kalian itu beban bagi mereka." Ujar Ren pedas tanpa rasa bersalah membuat Xeon mengepalkan tangannya dan 2 perempuan itu menahan tangis. Ren terkenal dengan turah lambenya di kepolisian. Jika ada hal yang membuatnya kesal, maka siap-siap bunuh diri saja jika mentalmu tidak kuat mendengar kata-kata pedas yang menusuk.
Dan dia juga salah satu petinggi di Athena Grup yang terkenal dengan turah lambenya setelah Albert. Hanya mereka para petinggi Athena Grup dan Aretha saja yang kebal dengan kata-kata tajam mereka berdua.
Sementara anggota kepolisian lainnya hanya menatap mereka dengan kasihan dan enggan terlibat dengan pria berambut hijau tosca panjang itu.
"Antar mereka pulang." Ucap Ren malas sembari menguap lebar.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Emillia tak menduga kota ini sangat berbahaya. Dia mengira jika di kota ini bebas melakukan hal semaunya justru terlibat dengan adegan pembantaian yang terjadi di depan matanya.
Pembunuhan, tawuran, penculikan dan penjarahan adalah hal yang umum terjadi di kota tanpa hukum ini. Banyak orang enggan keluar malam mengingat kejahatan yang begitu tinggi, membuat kota ini seperti kota mati di malam hari.
Hanya orang kaya yang berpengaruh, kepolisian dan orang-orang tertentu yang berani keluar dimalam hari. Bahkan menurut polisi yang mengantarnya, hal seperti ini sudah biasa terjadi.
Mereka tiba di sebuah kediaman mewah berlantai 2 bertepatan dengan kedatangan Derrick. Pria paruh baya itu turun dari mobil mewahnya dan menghampiri mereka.
Polisi itu memberikan penjelasan singkat dengan rinci lalu segera pergi meninggalkan pasangan ayah dan anak itu.
"Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Tanya Derrick bertubi-tubi.
"Aku hanya ingin pergi keluar dan tidak menyangka ada orang berseragam khusus menghampiri kami. Aku takut, Ayah, hiks...hiks..." Ucap Emillia sambil menangis.
"Tenang lah. Semua akan baik-baik saja." Ucap Derrick sambil menenangkan putrinya. Mereka segera memasuki kediaman besar itu.
Rumah besar berlantai 2 itu memiliki desain modern yang mewah. Terdapat beberapa lukisan menempel di dinding sebagai hiasan dan sebuah lampu gantung mewah di tengah-tengah ruangan.
Derrick dan Emillia duduk di sofa empuk yang terlihat mahal dan mewah. Setelah Emillia tenang, pria paruh baya itu menatap putrinya sendu.
"Besok malam kita akan pergi ke restoran yang terletak di distrik D. Aku dengar restoran ini memiliki makanan yang sangat enak dan ekslusif."
"Benarkah?"
"Hn. Dan aku ingin mengajukan kerjasama dengan pemilik restoran itu." Ujar Derrick percaya diri tanpa mengetahui keputusannya itu menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Setelah menerima pesan dari Ivanna, Albert menatap Kirania yang sibuk menyantap makan malamnya dengan fikiran berkecamuk membuat gadis itu menyadari tatapan sang ayah dan menatap pria itu dengan dahi berkerut.
"Kenapa Papa menatapku seperti itu? Aku tau diriku ini sangat cantik, jadi tidak usah menatapku seperti itu. Bisa-bisa kau jatuh cinta pada putrimu sendiri." Ucap Kirania pongah sambil mengibaskan rambut hitam ombre biru cerah membuat Albert menatapnya tajam.
"Dasar. Besok kita akan pergi ke distrik D. Ada 1 restoran dengan makanan enak disana." Ucap Albert.
"Lalu? Apa aku harus senang demi makanan sedikit dengan harga selangit?" Ucap Kirania malas membuat Albert berkedut kesal.
"Jika kau pergi bersama pemiliknya, kau tidak perlu membayarnya."
"Maksudmu, aku ini ingin kau jodohkan? Tidak mau!" Ucap Kirania salah paham yang membuat pria tampan itu gemas.
"Siapa bilang begitu, bocah. Pemilik restoran itu adalah aku." Jawab Albert jujur.
"Hah?" Kirania melongo tak percaya mendengar ucapan sang ayah.
"Jadi Papa adalah salah satu petinggi Athena Grup, pemilik dari restoran ekslusif yang mahal itu? Aku kira kau hanya memiliki 4 cafe di distrik F." Ucap Kirania kaget dan menatap sang ayah dengan tatapan meminta penjelasan.
"Otakmu pintar juga."
"Jadi aku ingin minta bantuanmu, Kirania Fernando Mahesa." Ucap Albert menyeringai membuat Kirania merinding seketika.
"Namaku Kirania Revalina, Papa. Jangan seenaknya saja mengganti namaku!" Seru Kirania kesal.
"Nama itu membosankan. Sebagai putri kesayangan ku, namamu itu Kirania Fernando Mahesa. Apa kau ingin mendapatkan hukuman dariku?" Ancam Albert yang sukses membuat Kirania menggelengkan kepalanya cepat.
"Baiklah. Untuk menebus kesalahan mu, aku ingin kau bertingkah manis besok malam sebagai 'perempuan.' Kau mengerti, kan?" Ucap Albert dengan riang namun suaranya terdengar seperti ancaman di telinga gadis itu.
"Baik, Pa." Kirania mengangguk terpaksa.
"Ah, iya. Rumor yang beredar itu memang benar. Aku adalah pemilik restoran mahal itu dengan 4 kedai di distrik D, E dan F. Jadi aku ingin memperkenalkan kalian berdua besok." Ucap Albert serius.
"Hah?"