The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 22



Jam sekolah telah usai lebih awal. Para siswa berhamburan meninggalkan gedung sekolah berlantai 3 itu dengan gembira karena terbebas dari jam terakhir yang membuat mata berat.


Kirania menyusuri lorong sekolah yang terlihat sepi mengingat semua siswa telah pulang. Dia segera menuju lokernya dan mengganti sepatu sekolah dengan sepatu kets bewarna hitam.


Setelah mengganti sepatu sekolah dengan sepatu kets hitam, Kirania meletakkan sepatu sekolahnya kedalam loker dan menguncinya. Gadis yang sebentar lagi berusia 13 tahun itu memasukkan kunci loker ke dalam saku seragamnya dan segera menuju halaman depan yang berbatasan langsung dengan gerbang sekolah.


Mata biru gelap itu menyusuri area halaman depan mencari sesosok pemuda tampan bersurai maroon, dan ketemu! Sosok itu tengah bersandar di dinding gerbang dengan mata terpenjam menikmati semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi, membiarkan rambut maroonnya di mainkan oleh angin yang berhembus sejuk di siang yang terik.


Kirania menghampiri pemuda berusia 14 tahun itu dan menyapanya, "Kakak. Sudah lama menunggu?"


Sosok itu membuka matanya, memperlihatkan mata hijau indah yang kini menatap Kirania dengan hangat. "Tidak. Ayo kita pulang." Lalu mereka berdua segera meninggalkan area sekolah sambil berbincang singkat.


"Kiran!! Tunggu aku!!" Suara teriakan itu kembali mengganggunya membuat mereka berdua mendengus kesal dan tetap melanjutkan perjalanan.


"Kenapa kau selalu meninggalkan ku, Kiran? Kau masih marah atas yang tadi? Kenapa kau tidak mau berteman denganku? Aku hanya ingin berteman denganmu." Cerca gadis itu setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Kirania yang hanya dibalas dengan lirikan mata.


"Tidak. Dan jangan mengurusi ku." Ucap Kirania dingin.


Aqueera mendengus menahan kesal, namun tatapannya tak sengaja melirik sesosok pemuda tampan berambut maroon jabrik yang berjalan beberapa langkah didepannya. Langsung saja Aqueera merubah sikap dan suaranya membuat pemuda itu meringis jijik.


"Maaf, ya. Sahabatku memang begitu." Ucap Aqueera dengan nada yang dibuat semanis mungkin membuat Kirania mengernyitkan dahinya. Sejak kapan mereka menjalin persahabatan?


"Hn."


"Kenalkan namaku Aqueera, sahabat dari Kiran. Kakak sendiri siapa?" Tanya Aqueera sambil mensejajarkan langkahnya dengan Ellios dan menjulurkan tangannya.


Ellios menghentikan langkahnya dan menatap Aqueera sekilas lalu menoleh kearah Kirania yang dibalas dengan mengendikkan bahu pertanda acuh.


"Aku Ellios, kakak dari Kiran." Jawabnya dingin tanpa menyambut uluran tangan dari Aqueera, membuat gadis berambut hitam itu gugup dan menarik kembali tangannya yang menggantung di udara.


"Serius? Kok engga terlihat mirip dengan Kiran?" Bantahnya penasaran sambil menatap keduanya silih berganti dengan tatapan menilai.


"Lalu? Apa harus terlihat mirip gitu?" Tukas Ellios dingin dan meninggalkan Aqueera yang tengah mencerna kejadian barusan.


"Aku sudah bilang, dia itu kakakku. Kau saja yang sok tau dengan kehidupan orang lain." Ucap Kirania tajam dan meninggalkan Aqueera yang kini menggerakkan giginya menahan emosi.


⚛️⚛️⚛️


Aqueera Zealand Abraham adalah anak dari seorang pengacara terkenal di kota X. Ayahnya adalah pengacara kondang dan ibunya adalah seorang hakim ternama. Dia biasa dibesarkan dengan kasih sayang dan materi yang melimpah dari semua keluarganya membuat gadis itu tumbuh menjadi arogan dan sombong.


Saat pertama kali melihat Kirania, dia merasa tinggi hati karena penampilan gadis itu terlihat begitu 'miskin' dimatanya.


Rambut hitam sepanjang 4 sentimeter yang hampir menutup telinga, kacamata badak serta kepribadiannya yang pendiam membuatnya yakin jika gadis itu mudah diinjak-injak.


Namun saat melihat Kirania dekat dengan Ellios, dia merasa tersaingi. Menurutnya penampilan Kirania yang cupu itu tidak pantas dibandingkan dengan dirinya untuk berdekatan dengan Ellios. Setelah memastikan Ellios dan Kirania telah hilang dari pandangannya, dia segera berlari menuju sebuah taman dan mencari tempat sepi untuk mengeluarkan emosinya.


'Brak!' 'Brak!' 'Brak!'


"Dasar sialan! Jangan merasa sok cantik kau! Ellios itu milikku! Aku akan menyingkirkanmu Kiran ******!! Suatu saat nanti aku akan membuatmu menyesal untuk dilahirkan!" Raungnya marah saat mengingat kejadian tadi, dimana Ellios mengabaikan nya di depan Kirania membuatnya tak terima. Setelah puas menendang pohon itu, Aqueera mendudukkan diri dengan kasar di tanah sambil mengusap kakinya yang terasa sakit.


Tanpa diketahui, dua pasang mata beda warna memperhatikan gerak gerik Aqueera dari atas pohon yang terletak tak jauh darinya, yaitu Ellios dan Kirania. Mereka berdua merasa curiga dengan Aqueera dan memutuskan untuk mengikuti nya secara diam-diam setelah menghilang di sebuah tikungan. Dugaan mereka ternyata tepat sasaran saat mendengar luapan emosi dan umpatan gadis itu membuatnya meringis.


"Aku jadi kasihan dengan pohon yang ditendangnya." Bisik Kirania dengan tatapan datar.


"Aku merasa karma datang kepadaku. Sungguh wajah merepotkan." Bisik Ellios sambil melirik Kirania sekilas yang duduk disebelahnya.


"Sudah ku duga gadis itu memiliki niat terselubung denganmu." Suara Ganymede terdengar dikepalanya membuat Kirania terkekeh.


"Aku sudah bisa menebak tujuannya. Kita ikuti dulu permaninannya biar lebih seru." Balas Kirania melalui pikirannya, matanya masih setia menatap gerak gerik Aqueera yang kini meninggalkan taman dengan kaki yang terpincang-pincang.


"Jadi apa rencanamu?" Tanya Kirania tanpa mengalihkan pandangannya. Ellios mendekati Kirania dan membisikkan sesuatu membuat Kirania menyeringai.


"Kalian berdua memang mengerikan." Gumam kedua dewa tatto itu dengan keringat dingin di kepala mereka.


⚛️⚛️⚛️


Kediaman Anderson


'BRAKKK!'


Helena mendobrak sebuah pintu kamar dengan keras, menyebabkan beberapa maid yang berkerja disekitarnya terlonjak kaget dan segera menjauh dari sana. Mereka tau hari ini wanita berambut cokelat itu memiliki suasana hati yang buruk.


"Anak sialan! Keluar kau!" Teriak Helena. Mata cokelat madunya menyusuri ruangan itu, namun tak ada tanda-tanda sang pemilik kamar disana. Kasur, meja, kursi dan lemari yang di penuhi sarang laba-laba menandakan ruangan itu tidak ditempati cukup lama.


Helena segera keluar dari kamar itu dan menghampiri seorang maid yang kebetulan melewatinya.


"Dimana anak itu?"


"Maaf, Nyonya. Nona Ran telah meninggal 4 bulan lalu. Dan kamar itu tidak pernah dibersihkan sejak saat itu." Jawab maid itu membuat Helena terdiam. Dia baru sadar jika 'anak itu' telah meninggal namun hati kecilnya mengatakan bahwa 'anak itu' masih hidup.


"Ya sudah. Kau kembali pada pekerjaan mu." Lalu Helena kembali memasuki kamar itu.


Kamar itu milik Ran, anak yang sangat dia benci sejak kelahirannya. Dia selalu ke kamar Ran jika suasana hatinya sedang buruk hanya untuk menyiksa anak kecil yang tidak tau apa-apa untuk melampiaskan kekesalan dan emosinya.


Helena menatap kamar bernuansa biru yang mulai dipenuhi sarang laba-laba dan debu dengan datar. Tidak terdapat mainan maupun sesuatu yang mewah, kecuali sebuah figura foto yang ditutupi debu. Sekilas terlihat foto seorang gadis kecil berambut hitam dengan beberapa helai biru cerah bersama 2 pemuda tersenyum menatap kamera. Namun sorot mata mereka menunjukkan sebuah beban dan kesedihan.


Helena memutuskan keluar dari kamar itu dengan perasaan berkecamuk. Sepintas ingatan tentang anak itu berputar di kepalanya. Ingatan yang dipenuhi jerit kesakitan dan tangisan anak perempuan yang tidak diinginkannya yang selalu dia siksa jika suasana hatinya sedang buruk.


Helena memegang kepalanya yang terasa pusing dan bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat. Entah kenapa ada secuil rasa sesak hinggap di dadanya.


Visual Derrick Anderson dan Helena Anderson