The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 28: Kiranai dan Joshua



Kirania menatap pemandangan dari jendela mobil dengan dahi berkerut lalu menoleh ke arah pria tampan yang sibuk mengemudi di sebelahnya dengan penasaran dan waspada. "Paman, kita mau kemana?" Tanya Kirania saat mengetahui lingkungannya berbeda dengan daerah tempat tinggalnya.


"Melihat kau yang tampak murung tadi, sepertinya kau punya masalah. Jadi aku akan membawamu ke suatu tempat." Jawab Joshua tanpa menghilangkan fokusnya.


"Tapi aku belum ganti baju dan belum minta ijin ke papa. Kau tidak membawaku ke tempat yang aneh, kan?"


"Jangan khawatir. Aku sudah meminta ijin dengan si balok es itu." Lalu ponsel Kirania bergetar, terlihat sebuah pesan masuk yang berasal dari sang ayah membuat jiwanya melayang seketika.


"Apa kau ingat dengan perjanjian waktu sparing?" Tanya Kirania dengan tatapan berbinar.


"Tentu saja. Aku akan menuruti semua keinginan keponakan kesayanganku." Jawab Joshua santai yang langsung membuat suasana hati Kirania membaik seketika.


"Terimakasih, Paman! Aku menyayangimu!" Pekik Kirania bahagia dengan seringai licik di wajahnya.


'Mari kita kuras isi dompetmu, nyahahaha...' Batinnya dalam hati.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Kirania mengikuti langkah Joshua di depannya yang membawanya ke sebuah salon kecantikan membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.


"Paman, kenapa kita kesini?" Tanya Kirania penasaran membuat Joshua menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu dengan hangat.


"Kau akan tau nanti. Ayo."


Mereka segera masuk ke dalam salon kecantikan dan langsung di sambut oleh salah satu karyawan di sana dengan pipi merona merah.


"Selamat siang dan selamat datang, Tuan dan Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Sapanya ramah.


Joshua mendorong Kirania ke arah karyawan itu dan berkata, "Tolong percantik dia. Ubah penampilan buluknya dengan perawatan terbaik kalian." Lalu mengedipkan sebelah matanya kearah Kirania membuat gadis itu mencebik kesal.


"Baik, Tuan. Anda bisa menunggu disana. Nona, silahkan ikuti saya." Ucap karyawan itu dengan nada ramah. Kirania mengikuti pegawai itu dan menatap tajam Joshua. Namun dengan santainya Joshua mengibaskan tangannya pertanda mengusir sambil tersenyum senang membuat mau tak mau Kirania mengikuti karyawan itu dengan langkah gontai.


Joshua menunggu Kirania di ruang tunggu sambil mengamati sekitar. Merasa Kirania akan lama di permak, pria itu segera beranjak dari sana dan pergi ke sebuah butik yang terletak di seberang salon itu untuk membeli sepotong pakaian untuk keponakannya.


"Selamat datang di toko kami, Tuan." Sapa seorang pramuniaga begitu Joshua masuk ke dalam toko itu. Joshua hanya mengangguk dan segera beranjak menuju stand pakaian perempuan dan melihat-lihat.


"Bisakah kau mencarikan 1 set pakaian remaja perempuan berusia 15 tahun? Dia sedikit tomboy dan tidak menyukai warna cerah." Ucap Joshua sopan.


"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar." Pramuniaga itu segera berlalu mencari pakaian dan tak lama kemudian dia datang dengan beberapa potong pakaian ke arah Joshua.


Joshua menimang pakaian itu dengan dahi mengernyit. Rok dan celana super pendek, beberapa pakaian berdada rendah maupun kurang bahan membuat pria itu menatap horor kumpulan pakaian itu. Bisa-bisa Albert akan memutilasi nya jika membelikan Kirania pakaian kurang bahan mengingat pria itu begitu proctective pada Kirania.


"Pakaian ini sedang menjadi tren sekarang, Tuan." Ucap pramuniaga itu dengan malu-malu.


"Ada yang lain lagi?"


"Ada, Tuan. Mari ikuti saya." Joshua mengikuti pramuniaga itu sambil melirik beberapa pakaian yang terpajang di sana.


Mereka berhenti di stand pakaian remaja. Joshua segera memilih pakaian dengan asal dan menyerahkan pada pramuniaga itu lalu mereka bergegas menuju kasir.


Setelah membayar, Joshua segera kembali ke salon tempat Kirania di permak. Dia duduk di sofa mengabaikan tatapan memuja dari beberapa pengunjung wanita yang berada di tempat itu.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Kirania menatap dirinya di cermin dengan tatapan tak percaya. Sekarang dirinya benar-benar terlihat berbeda, bahkan nyaris tak mengenali dirinya.


Kulit kuning langsat yang bersinar, rambut hitam ombre biru cerah sebahu bergelombang dengan wajah oval, wajah yang terawat dengan mata biru gelap yang berbinar cerah, bibir pink alami, sangat berbeda dengan dirinya yang sebelumnya.


"Wah, anda benar-benar sangat cantik, Nona." Puji karyawan salon itu dengan takjub.


"Terimakasih."


Kirania segera keluar dari sana dan mendapati sang paman terlelap di sofa dengan sebuah paper bag di pangkuannya, sepertinya dia ketiduran karena kelamaan menunggu dirinya.


Kirania segera mendekati Joshua dan mencolek wajah pria itu dengan telunjuknya.


"Paman... Paman..."


"Ah, kau sudah selesai?" Joshua mengucek matanya yang terasa sepat. Seakan mengingat sesuatu, Joshua menyerahkan sebuah paper bag kepada Kirania. Gadis itu menerimanya dengan dahi berkerut.


"Ganti pakaianmu. Tadi aku membelinya untukmu. Ku harap pakaian itu sesuai denganmu."


"Bukannya kita langsung pulang?" Tanya Kirania memiringkan kepalanya membuat Joshua gemas dan langsung mencubit pipi gadis itu hingga membuat sang empunya meringis sakit. Joshua segera melepas tangannya dan nyengir tanpa dosa.


"Apa kau tak mau jalan-jalan dengan pamanmu yang tampan ini?" Tanya Joshua sambil menatapnya dengan tatapan memohon seperti seekor anjing membuat Kirania tak tega.


"Baiklah Paman." Lalu Kirania segera beranjak dari sana dan mengganti pakaiannya. Joshua segera menuju kasir dan membayar tagihannya dan menunggu di luar salon.


Tak berapa lama Kirania keluar dengan menggunakan baju kaos biru tua dengan garis biru muda, celana jeans pendek sepaha berwarna hitam yang dipadukan dengan sepatu kets bewarna hitam. Gadis itu segera menghampiri Joshua yang sibuk memandang sekelilingnya dengan waspada.


"Selera Paman tidak buruk juga." Ucap Kirania membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Ternyata cocok untukmu. Bagaimana jika kita makan sore dulu? Kau belum makan, kan?"


"Makannya nanti dulu, Paman. Bagaimana kita berkeliling dulu?" Usul Kirania yang langsung disetujui Joshua tanpa curiga.


"Baiklah."


⚛️⚛️⚛️⚛️


Joshua menatap horor ke arah Kirania. Bagaimana tidak, gadis itu menenteng beberapa snack berukuran jumbo berbagai varian membuatnya meringis. Belum lagi dirinya dan gadis itu menenteng beberapa paper bag berukuran besar yang entah apa isinya.


"Terimakasih Paman." Sahutnya ceria.


"Kau merampokku, bocah." Sungutnya kesal. Lengannya terasa kebas akibat beberapa paper bag berukuran besar yang bergelayut manja di lengannya.


"Aku tidak merampok mu, Pamanku sayang~" Goda Kirania yang sukses membuat Joshua gemas ingin menjitak kepala gadis itu.


"Sebaiknya kita menaruh hasil jarahan ini di bagasi mobil lalu kita mencari makan." Usul Joshua yang langsung di respon dengan semangat.


"Tentu saja, Paman. Lain kali kita buat taruhan lagi, ya~" Ujar Kirania tersenyum manis.


Joshua tersenyum manis, namun dalam hati dia menangis dan memaki keponakannya dengan kesal.


'Dasar bocah laknat! Huhuhu...Tanggal gajihanku masih lama!'


Setelah menaruh belanjaan di bagasi mobil, mereka segera pergi menuju kedai makanan yang terletak tak jauh dari sana.


Mereka memasuki kedai itu dan memilih duduk di pojok yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Suasana sore ini terlihat berbeda, terutama saat melihat sekelompok orang berseragam khusus dengan senjata api di antara keramaian membuat Kirania mengernyitkan dahinya. Dia masih trauma dengan penyerangan yang dilakukan oleh orang bersenjata api dengan seragam khusus.


"Paman, kenapa ada sekumpulan orang berpakaian khusus dengan membawa senjata api berkeliaran disana?" Tanya Kirania penasaran.


Saat hendak menjawab, seorang pelayan menghampiri mereka sambil menyodorkan sebuah buku menu. Joshua segera memesan makanan dan minuman untuk mereka. Setelah pelayan itu mencatat pesanan dan pergi, Joshua menjawab pertanyaan Kirania dengan serius.


"Pemilihan walikota akan dilaksanakan 3 bulan lagi. Lalu para penguasa berlomba-lomba ingin menguasai kota ini dan keadaan kota ini memanas. Kau tau maksudnya, kan?"


"Persaingan antara para pengusaha dan penguasa, ya?"


"Tepat sekali. Masyarakat awam menganggap mereka melindungi kota ini karena menjelang pemilihan. Keadaan yang sebenarnya lebih berbahaya dari hal yang diberitakan."


Joshua dan Kirania saling pandang. Ekspresi pria itu mendadak berubah serius dan khawatir. Terlihat jelas bahwa Joshua menatap Kirania dengan cemas. "Kirania, kau harus berhati-hati dan jangan mudah percaya dengan kebaikan orang asing yang mendekati mu. Apalagi dia laki-laki dan bersikap sangat baik padamu. Jika Albert dan aku serta Ellios bersikap baik padamu itu sangat wajar karena kami menyayangimu sebagai keluarga. Jika laki-laki asing, kau harus waspada. Aku menasehatimu karena aku laki-laki."


"Pasti karena ada maksud tertentu, kan?" Tebak Kirania tepat sasaran.


"Benar. Jadi kau jangan asal menerima kebaikan orang yang baru kau jumpai, meskipun kau menyukainya. Kau harus menyelidiki nya terlebih dahulu sebelum menerima kebaikan mereka."


"Terimakasih karena telah menasehati ku, Paman."


"Maafkan aku yang terlalu menceramahi mu. Ku harap kau tidak marah."


Kirania tersenyum tulus dan menatap Joshua dengan tatapan haru.


"Seharusnya aku berterima kasih pada kalian yang begitu menyayangiku. Nasihat Paman ini aku ingat baik-baik."