The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 40: Jangan Cemburu Padaku



Aretha menyerahkan dokumen itu kepada Roy yang diterima oleh pria itu dengan dahi berkerut lalu menatap gadis berambut pirang keperakan bingung.


"Bacalah." Titah Aretha.


Roy menurut dan membuka dokumen itu. Matanya seketika membola saat melihat dokumen itu.


"Bagaimana bisa dia bertahan selama ini?" Lirih Roy sambil membolak balikkan halaman dokumen itu dan membaca semua isinya. Setelah selesai dia meletakkan kembali dokumen itu.


"Hanya mereka yang bertahan hidup dari hasil percobaan itu adalah hal yang ajaib. Aku bahkan tak bisa membayangkan betapa mengerikan kejadian yang mereka alami." Ucap Ren.


"Jadi bagaimana selanjutnya, Nona?" Tanya Roy menatap Aretha.


"Kita bicarakan ini besok. Kalian istirahat lah."


"Baik, Nona." Jawab mereka serentak.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Malam berlalu begitu cepat. Sinar mentari perlahan menerangi bumi dengan cahaya malu-malunya ditemani dengan suara kicauan burung di pagi hari membuat siapapun enggan meninggalkan peraduannya.


'Tak' 'Tak' 'Tak' 'Tak'


Suara pisau beradu dengan talenan memecah sunyinya pagi hari. Terlihat seorang gadis bersurai hitam ombre biru cerah berkutat di dapur. Tangannya dengan lincah memotong sayuran dan daging serta mengiris bawang merah dan bawang putih diiringi suara air mendidih menjadi temannya di dapur.


Saat tengah sibuk memutilasi beberapa bahan, sebuah suara familiar menyapa pendengaran nya membuat Kirania berjengit kaget dan melayangkan sebuah bogeman ke asal suara, namun serangannya berhasil di tahan. Terlihat sebuah wajah datar nan tampan menyapa pengelihatan gadis itu.


"Pagi, Kiran." Sapa Albert hangat sambil menurunkan tangannya.


"Pagi, Papa. Astaga aku kaget." Ucap Kirania sambil menepuk dadanya membuat Albert mengacak rambutnya gemas.


"Papa~" Protesnya sembari mengembangkan pipinya kesal. Dia segera meletakkan pisaunya dan merapikan rambutnya.


"Kau kurang waspada, Kiran. Kau harus tetap waspada meskipun di dalam rumah. Siapa tau ada orang yang menargetkan dirimu." Jelas Albert panjang lebar.


"Iya, Pa."


Kirania segera melanjutkan memotong bahan di bantu oleh Albert. Pasangan ayah dan anak itu segera membuat sarapan bersama sambil sesekali bercanda dan tertawa.


Tak berapa lama muncul Ellios dengan seragam sekolahnya dan berjalan menuju meja makan. Pemuda itu duduk di salah satu kursi dan menatap pasangan ayah anak itu jengkel.


"Ayah, jangan memonopoli Kirania seorang diri. Cepat selesaikan sarapan buatan kalian." Celetuk Ellios yang sukses membuat Albert memasang ekspresi mengejek membuat Ellios jengkel dan ingin menghajar nya.


"Tidak baik cemburu pada seorang ayah, Ellios." Balas Albert santai dan membawa sarapan yang telah matang ke meja makan di ikuti Kirania yang mengekor di belakangnya lalu menatanya di meja makan. Kirania segera kembali ke dapur membuat minuman untuk teman sarapan mereka, mengabaikan sang kakak dan ayahnya yang mulai berdebat.


"Tapi orang-orang akan curiga kalau kau menyukai remaja belasan tahun yang masih di bawah umur, Albert. Kau terlihat seperti pedofil yang mengincar gadis remaja." Balas Joshua yang muncul dengan pakaian santai dan langsung duduk di sebelah Ellios, sontak perkataan pria tampan berambut cokelat itu membuat Albert kesal.


"Dia itu putriku, Joshua. Wajar saja seorang ayah bersama putrinya." Balas Albert tak terima.


"Dia juga keponakanku, Albert. Jadi orang-orang tidak akan curiga jika dia memanggilku paman. Apalagi usiaku dan usianya memang cocok sebagai pasangan paman dan keponakan." Sindir Joshua sambil mengambil sarapannya, seakan bilang 'usiamu itu tidak cocok menjadi ayah dengan seorang putri berusia belasan tahun. Paling tidak kau baru memiliki bayi atau seorang batita.'


'TRAKK'


Sebuah garpu melintas di antara kepala Ellios dan Joshua membuat 2 laki-laki itu kaget dan menatap garpu yang tertancap di dinding dengan tatapan kagum.


"Wah, garpunya menancap indah di dinding. Lemparanmu hebat sekali, Yah." Ucap Ellios pongah seraya mendekati garpu yang tertancap di dinding dengan mata berbinar.


"Lemparannya sangat presisi. Lihat ini, Ellios. Bahkan retakannya sangat kecil dan menancap dalam di dinding." Imbuh Joshua seraya ikut mendekati garpu yang tertancap di dinding dan mencabutnya yang sukses membuat wajah Albet menggelap.


"Aku memang berniat menancapkan garpu pada kepala kalian, namun tanganku kepeleset dan lemparannya nyasar di dinding." Ucap Albert kesal. Lalu pria itu duduk dengan angkuh di kursi.


"Sudah kalian bertiga. Hentikan perdebatan kalian, ini masih pagi. Sekarang mari kita makan!" Seru Kirania seraya menuju meja makan dengan nampan berisi minuman. Dia membagikan minuman itu kepada 3 laki-laki beda usia itu dan mengambil 1 untuk dirinya sendiri. Kedua laki-laki beda usia itu menurut dan kembali ke tempatnya.Gadis itu segera menaruh nampannya dan ikut bergabung bersama mereka. Saat hendak duduk di kursi sebelah Albert, pria berambut hitam ombre biru cerah itu menarik pinggang Kirania dan mendudukkannya di pangkuan.


Albert mengabaikan protesan putrinya dan mengambil sarapan untuk dirinya dan Kirania. Dia mulai mengisi sendok dengan sarapan milik Kirania dan menyodorkan ke arah gadis itu dengan santai, mengacuhkan tatapan membunuh dari 2 laki-laki yang duduk di hadapannya. Mau tak mau Kirania membuka mulutnya dan menerima suapan dari Albert.


"Nah putriku yang manis, apa kau suka duduk di pangkuan ku?" Tanya Albert dengan nada memprovokasi membuat Ellios dan Joshua geram.


"Katakan tidak!" Batin mereka bersamaan.


"Iya, saat aku masih anak-anak. Sekarang aku bukan anak kecil lagi, Papa." Ucap Kirania cemberut.


"Bagaimana jika hari ini aku ingin menyuapi mu. Apa kau mau?" Tanya Albert dengan nada hangat, namun dengan aura hitam yang menguar dari tubuh pria itu. Nada suaranya terdengar penuh kemenangan dan ejekkan bagi 2 laki-laki di hadapannya.


Kirania terpaksa mengangguk mengiyakan tanpa menyadari tatapan membunuh dari Ellios dan Joshua.


'Trank'


"Kau bahkan sengaja memonopoli adikku, dasar Tua Bangka." Ucap Ellios dengan nada membunuh sambil menggenggam garpu dengan kuat hingga patah.


'Krakk'


"Benar. Bahkan aku sebagai seorang paman tidak pernah mendapatkan perhatian dari keponakanku sendiri. Dasar rubah licik." Joshua ikut menimpali dengan nada membunuh sambil menggenggam cangkir berisi teh panas yang mengepul dengan kuat, menyebabkan cangkir itu retak. Tak lupa aura hitam menguar dari tubuhnya pertanda pria itu sangat kesal.


Kirania menatap Joshua dan Ellios dan langsung bergidik ngeri melihat tatapan sang paman dan kakaknya yang terlihat ingin menghajar orang. Lalu gadis itu menatap wajah sang ayah yang terlihat santai dengan aura cerah berbunga-bunga menghiasi dirinya.


'Sudah ku duga.' Batin Kirania sembari mengunyah makanannya dan menelannya dengan terpaksa.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Seorang guru tengah sibuk menjelaskan materi di papan tulis dengan beberapa siswa yang terlihat sibuk mencatat materi. Bahkan beberapa murid menyimak dengan baik.


"Hei, apa kau tidak curiga dengan guru kita?" Bisik Antares pada Ellios yang tengah asik menatap jendela. Antares adalah salah satu sahabat Ellios. Dia juga memiliki tatto zodiak Aries di pangkal lehernya.


"Maksudmu?"


"Coba kau lihat tatapannya. Kemana kira-kira?"


Ellios mengikuti perkataan Antares. Dia memperhatikan tatapan guru yang tengah mengajar dengan serius. Tunggu, tatapannya tidak mengarah ke penjuru kelas, melainkan ke arah seorang siswi yang duduk di depan dan menatapnya dengan bergairah? Dia memperhatikan guru itu dan terlihat sesuatu mengembung di celananya.


"Dan itu bukan urusanku." Balas Ellios seraya kembali menatap langit biru yang sedikit berawan.


'Teeett' 'Teeett'


Guru itu menyudahi acara mengajarnya dan menyuruh seorang siswi menemuinya seusai makan siang. Sontak semua siswi menatapnya dengan sinis. Sudah bukan hal tabu jika sekolah di kota tanpa hukum ini, hubungan **** antara guru dan murid sudah biasa terjadi.


Ellios menatap siswi yang ditunjuk oleh guru itu sekilas, rambut cokelat dengan highlight pirang, kulit putih bersih, wajah yang lumayan cantik dengan seragam sekolah ketat menunjukkan lekuk tubuhnya, rok 2 jengkal dari pangkal paha dengan stoking hitam sebatas paha. Sudah pasti menarik perhatian laki-laki hidung belang.


Segera pria bersurai merah itu mengalihkan perhatiannya dan merapikan bukunya kedalam tas.


Tak berapa lama, Xeon muncul bersama perempuan yang selalu menempelinya kemana pun dan kapanpun. Mereka berdua menghampiri Ellios yang sukses membuat Antares berkicau ria. "Lihatlah, pasangan Romeo dan Juliet datang berkunjung ke kelas kita dengan begitu mesra. Apakah mereka ingin membuat para jomblo seperti kita ini iri?"


Seketika siswa yang masih berada di kelas itu tertawa mendengar perkataan Antares.


"Mungkin mereka ingin memamerkan adegan ranjang atau bunuh diri bersama." Celetuk salah satu siswa asal yang berhasil membuat wajah mereka memerah.


Ellios dan Antares mengeluarkan kotak bekalnya dan beranjak menuju atap, mengabaikan pasangan itu yang kadang membuat mereka mual.


"Tumben kau membawa bekal. Dari pacarmu, ya?" Celetuk Antares membuat pasangan itu menoleh ke arahnya.


"Bukan urusanmu." Balasnya cuek dan berlalu begitu saja.


"Apa kau punya pacar? Serius? Dia di kelas mana?" Tanya Xeon bertubi-tubi dengan ekspresi tak percaya tanpa menyadari ekspresi perempuan itu menggelap.