
'BRAKK' 'KRAAKKK'
Ellios meninju meja yang berada di hadapannya dengan kesal hingga terbelah menjadi 2,membuat pasangan itu tersentak kaget.
"Hanya foto kau bilang?" Geram Ellios sambil mencengkram kerah baju Xeon dengan kuat.
"Bagaimana jika foto saudari atau ibumu yang ku hancurkan, bukankah itu hanyalah foto saja?" Balas Ellios dingin.
Xeon tersulut emosi dan menepis tangan Ellios lalu merapikan kerah bajunya yang kusut akibat cengkraman pemuda berambut merah itu. Tak ingin berdebat dan juga merupakan kesalahannya, Xeon terpaksa mengalah.
"Baiklah. Aku akan mengganti rugi barang milikmu." Lalu Xeon merogoh saku celananya dan mengambil dompet yang terlihat tebal. Dia mengambil segepok uang dan menyerahkannya pada Ellios yang sukses membuat perempuan itu membelalakan matanya.
"B-bukankah itu berlebihan?" Ucap perempuan itu tak terima.
"Apa kau pikir barang pemberian keluargaku tak berharga?" Balas Ellios tajam membuat perempuan itu menciut.
Ellios menghitung uang itu dan menyimpan di saku celananya lalu menatap Xeon dengan tatapan puas. Dia menepuk pundak Xeon dengan bahagia lalu melirik perempuan itu dengan tajam.
"Lain kali jika kau ingin berkunjung ke rumah orang, jangan asal memecahkan foto milik orang apalagi memasuki kamar orang dan mengambil barang miliknya. Bisa saja itu adalah kenangan salah satu dari keluarganya yang telah mati. Jika kau di posisi ku, apa kau tidak tersinggung?"
Sukses membuat mereka bungkam kehilangan kata-kata.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Kirania melihat Steve dan Aqueera berjalan bersama, membuat gadis itu sedikit merasa sedih. Namun dia menepis perasaan itu dan berlalu dari sana. Niatnya pergi menuju kantin malah melihat pemandangan menyakiti mata dan membuatnya mual membuat gadis itu mengurungkan niatnya dan berputar arah.
Jika diingat-ingat, wajah ayah, paman dan kakaknya lebih tampan dari Steve. Apalagi si dewa tatto berisik Ganymede yang lebih ekslusif.
"Kau merindukanku? Aku jadi terharu." Suara Ganymede tiba-tiba bergema di kepalanya.
"Tidak tuh." Ketus Kirania melalui fikirannya dengan cuek yang membuat Ganymede murung seketika. Dia bisa membayangkan wajah murung pria itu membuatnya ingin mengerjainya habis-habisan. Sayangnya dia hanya bisa mendengar suaranya saja.
"Kau tidak mau move on darinya?" Tanya Ganymede membuat Kirania mendengus.
"Move on karena apa? Aku tidak lagi patah hati." Elaknya. Padahal hatinya terasa sedikit perih melihat pemandangan itu. Dia mengeratkan genggamannya pada sebuah kantong plastik yang berisi beberapa cemilan dan minuman.
"Lupakan dia, Ran. Sebaiknya kau dengarkan perkataan ayahmu. Untuk saat ini jangan kau membuang perasaan berharga, air mata dan harga dirimu demi orang lain yang tak menghargai mu. Jangan kau sia-siakan masa-masa sekolahmu dengan hal-hal yang tak berguna seperti cinta. Karena cinta itu tidak berguna dan tidak nyata." Ganymede mencoba menasehati Kirania.
Kirania merenungi perkataan Ganymede. Ada benarnya juga perkataan dewa tatto cerewetnya itu. Selama ini dia berpura-pura jatuh cinta dan mengejar cinta Steve demi misi, siapa sangka dia jadi cinta beneran. Apalagi perlakuan pemuda itu akhir-akhir ini sangat menyakiti perasaannya.
"Dia mirip dengan keluarga bajingan itu." Gumamnya dan bergegas pergi menuju atap sekolah untuk menenangkan diri.
Atap adalah satu-satunya tempat yang sangat cocok untuk menenangkan fikirannya. Apalagi tempat itu sangat jarang di kunjungi, kecuali saat ingin bolos jam pelajaran.
⚛️⚛️⚛️⚛️
'CKLEK'
'KRIEETT'
Kirania tiba di atap sekolah dan berjalan menuju bibir atap yang dibatasi pagar pembatas setinggi pinggang. Gadis itu memperhatikan pemandangan melalui lantai 3. Terlihat banyak kendaraan berlalu lalang dengan padat merayap di bawah sana. Bahkan terlihat beberapa orang berseragam khusus sambil membawa senjata api berpatroli di sekitar sana.
Akhir-akhir ini kondisi kota X, khususnya di daerah distrik B sangat mencekam di malam hari. Banyak orang takut keluar rumah bahkan beberapa gedung dan area perumahan sengaja tidak menyalakan listrik pada saat malam hari, mengingat banyaknya penjarah yang meresahkan.
"Untunglah aku menyembunyikan cemilan dari hasil penjarahan bersama paman. Jika tidak, maka papa pasti akan menghukum ku dan memisahkan ku dengan cemilan kesayanganku." Gerutunya sambil membayangkan hukuman dari Albert yang membuatnya sakit kepala.
Kirania memang sering lupa makan jika bertemu dengan snack kesayangannya. Gadis itu bahkan tak tanggung-tanggung membelinya dengan ukuran besar dan jumlahnya banyak. Joshua yang begitu memanjakannya tak tega melihat tatapan maut Kirania yang seperti anak kucing, sehingga gadis itu memborong semua snack itu dan menyimpannya secara rahasia.
Lain dengan Joshua, lain dengan Albert. Pria dingin itu tidak akan mempan jika menyangkut dengan pola makan Kirania. Tak tanggung-tanggung Albert akan menyembunyikan semua snack gadis itu dan menghukumnya dengan caranya sendiri yang lebih sering membuat Ellios dan Kirania tak berkutik.
Meski merasa bersalah karena membuat pria itu khawatir, Kirania merasa Albert begitu menyayangi nya. Masa kecilnya yang mengerikan membuatnya enggan makan di saat-saat tertentu, terutama saat dia merasa tertekan atau sedih.
Dulu dia hanya makan roti kering untuk mengganjal perut kecilnya yang kelaparan, namun saat di asuh oleh Frankie dia mulai di berikan roti dan cemilan secara diam-diam.
Secara diam-diam juga Kirania memakan makanan pemberian Frankie saat dirinya di kurung oleh keluarganya karena perkataan Emillia yang memfitnah dirinya.
Bahkan saat Albert menyamar sebagai Alex, pria itu selalu membuatkan makanan bahkan mengajaknya keluar secara diam-diam. Dia juga sering membawanya jalan-jalan saat keluarga Anderson tidak ada dirumah.
Mengingat itu membuat Kirania meremas bungkus snacknya dengan erat. Dia mengatur nafasnya agar tenang dan bergumam, "Aku tidak tinggal bersama mereka lagi, aku telah bebas dari neraka itu. Aku sudah bahagia bersama keluarga baruku yang menyayangiku setulus hati."
Kirania mendongak menatap langit biru yang di hiasi beberapa awan putih. Cuaca siang hari ini cukup terik dengan semilir angin lembut sehingga panasnya tidak begitu menyengat.
'DUAARR!!'
Terdengar suara ledakan yang sangat kencang berasal tak jauh dari bangunan sekolah itu. Kirania segera beranjak dari tempatnya dan berlari menuju bibir atap. Terlihat asap mengepul yang terletak beberapa blok dari sekolahnya.
⚛️⚛️⚛️⚛️
Albert memasuki kamar Kirania yang di dominasi warna biru bergradasi, mulai dari warna biru gelap hingga biru cerah dengan hiasan bintang dan serpihan snow flake dengan cat glow in the dark.
Dia mencium aroma floral fruity woody yang didominasi aroma anggrek yang menenangkan. Inti aroma ini adalah magnolia, wild orchid dan jasmine yang lembut membuat pria itu merasa rileks.
Albert berjalan menuju meja belajar Kirania dan memeriksa nilai pelajaran gadis itu. Terlihat senyum puas di wajahnya saat melihat nilai yang begitu memuaskan. Namun senyumannya menghilang seketika saat dirinya menemukan sesuatu menyembul dari balik laci meja gadis itu.
'SRAAAKK' 'GRASSAAKKK'
Albert memutuskan membuka laci itu dan membulatkan matanya saat mengetahui isi dari laci meja Kirania, yang tak lain adalah sekumpulan snack berukuran jumbo dengan jumlah banyak dan berbagai varian. Mata pria itu memicing tajam saat melihat secuil memo yang tertempel di langit-langit laci itu yang berbunyi, 'hadiah taruhan dari paman Joshua' yang sukses membuat Albert terkekeh.
Albert memutuskan menyimpan sebagian besar snack Kirania dan memikirkan hukuman yang pantas untuk gadis itu.
Albert juga memikirkan seribu cara untuk menyiksa Joshua, pria yang memanjakan putrinya hingga lupa makan akhir-akhir ini. Jika sudah melihat snack, maka gadis itu lupa makan.
Albert merapikan tempat itu dan segera keluar dari sana. Sebentar lagi gadis itu akan pulang dan nanti malam dia akan menjalankan misi. Toh akhir-akhir ini Albert juga enggan bekerja di tempat itu karena dirinya memiliki sebuah cafe yang terletak di distrik F yang saat ini di awasi oleh Ivanna.
Setelah Kirania lulus, mereka akan pergi meninggalkan distrik B. Dia juga merasa akhir-akhir ini banyak mata mengawasi gerak gerik mereka.
Albert menuju mini bar yang terletak di dapur, dia mengambil sebuah gelas dan wine lalu menuangkannya dalam gelas.
"Aku sudah menemukan penabuh musik. Dimana aku harus mencari penyanyinya?" Gumamnya sambil menggoyangkan gelas berisi red wine dan menyesapnya.
'DUAARR'
Terdengar suara ledakan yang cukup kencang membuat Albert tersentak kaget. Pria itu segera menuju jendela dengan tergesa-gesa. Dia melihat asap membumbung tinggi yang berdekatan dengan sekolah Kirania. Seketika hatinya merasa cemas, dia segera menghabiskan winenya dan bergegas keluar, khawatir terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.
"Ku harap kau baik-baik saja." Lirih Albert sambil berlari di lorong apartemen.