The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 44: Skors



Kirania tengah asik membaca sebuah buku tebal dengan telinga yang disumpal dengan earphone saat sekumpulan siswa datang mendekati mejanya. Seorang siswi berpakaian ketat datang mendekati nya sambil menggebrak meja gadis itu dengan keras yang berhasil menarik perhatian penghuni kelas.


'BRAAKK!'


'Srakk'


Kirania dengan santainya membalikkan halaman buku bacaannya dan mengabaikan mereka seperti biasa membuat gadis itu kesal dan merampas earphone Kirania dengan kasar.


"Apa masalahmu?" Tanya Kirania dingin tanpa menoleh kearah mereka.


"Kau berani mengabaikanku?" Tanya siswi itu dengan name tag Adinda dengan sinis.


"Memangnya kau siapanya aku, apa kau ibuku?" Sinis Kirania membuat mereka terdiam. Gadis itu menatap Andinda dengan tajam membuat Adinda menggeram marah.


"Berani sekali kau melawanku! Apa kau tau ayahku adalah calon walikota ini?! Bahkan ayahmu yang pengangguran itu tidak punya apa-apa tapi kau sombong sekali!" Bentaknya sombong membuat sebelah alis Kirania terangkat.


"Hanya calon saja sudah sombong." Cibir Kirania kesal dan menutup buku tebalnya lalu meletakkan di atas meja. Kesabaran gadis itu sudah habis karena gangguan dari Andinda dan gengnya.


Tanpa rasa bersalah Adinda mengambil sebuah botol minuman dari salah satu temannya dan menyiram ke arah Kirania, membuat gadis itu basah kuyup dan menatap tajam Adinda.


"Berhenti mengganggu ku." Ucap Kirania sambil berdiri.


"Hah? Apa kau bilang? Tidak kedengeran." Ujar Adinda dengan nada mengejek lalu menoleh kearah temannya dan tertawa. Gadis itu kembali mengambil sebuah botol air dan kembali menyiram Kirania hingga pakaian gadis itu basah kuyup.


"Berhenti mengganggu ku atau kubunuh kau." Geram Kirania dan langsung menendang Adinda hingga gadis itu terlempar menabrak dinding kelas.


'Brukkhh'


"Arrgghh!!" Adinda berteriak kesakitan membuat teman-temannya marah dan menyerang Kirania.


"Apa yang kau lakukan pada Adinda, sialan?!" Bentak Olivia sambil mendekati Kirania dan hendak menamparnya. Segera Kirania menahan tangan gadis itu dan memelintir nya hingga terdengar bunyi patah tulang yang mengerikan.


"Aaarrrhhh!! Tanganku!" Teriak Olivia kesakitan dan Kirania dengan santai menghempaskan tubuh Olivia kearah temannya yang lain membuat mereka terjerembab bersamaan.


Kericuhan buatan Kirania membuat seisi kelas terdiam. Dia tidak menyangka gadis pendiam yang bucin itu sangat hebat dan mematikan.


"Keributan apa ini?" Tanya seorang guru yang tiba-tiba menyeruak diantara kerumunan membuat seisi kelas hening. Salah satu teman Olivia menjawab pertanyaan guru itu.


"Kirania mematahkan tangan Olivia dan membuat Adinda pingsan, Pak."


"Benar, Pak. Bapak bisa tanyakan pada yang lain." Celetuk salah satu teman Adinda sambil tersenyum mengejek.


"Kirania, ikut aku ke ruanganku! Yang lainnya bawa mereka yang terluka ke UKS dan obati mereka." Ucap guru itu dengan nada memerintah.


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Dia sudah mengucapakan kata-kata itu berkali-kali." Keluh Ganymede melalui telepati.


"Dan aku mengantuk mendengar ocehan tidak berguna ini." Balas Kirania melalui telepati sambil terkantuk-kantuk.


Kirania menguap lebar mendengarkan kotbah guru laki-laki berkumis baplang dihadapannya sambil sesekali mengorek telinganya yang gatal. Sementara guru laki-laki paruh baya itu tengah sibuk menyemburkan hujan badai lokal sambil menatap Kirania tajam.


Dan dia adalah salah satu guru yang menyerahkan data siswa kepada anak buah Derrick sekaligus guru yang suka melecehkan siswi yang memiliki paras cantik!


"Bisakah kau tidak membuat ulah sehari saja? Sudah miskin, pembuat onar dan kau juga menghancurkan citra sekolah ini!" Maki guru baplang itu.


"Saya tidak membuat ulah, Pak dan saya juga bukan pembuat onar seperti yang Anda katakan." Kirania akhirnya membela diri namun guru baplang itu tidak mempercayainya.


"Aku tidak percaya! Buktinya kau sengaja membuat tubuhmu basah kuyup dan menghajar teman-temanmu. Apa kau tidak tau jika mereka adalah anak dari orang terkenal?! Sekarang kau di skors selama seminggu dan aku akan menelepon ayah miskinmu!" Hina guru baplang itu membuat Kirania tersulut emosi.


"Apa sebagai seorang pengajaran membuatmu bebas menghina anak didikmu?" Tanya Kirania pedas yang membuat guru baplang itu emosi dan menampar Kirania dengan keras membuat wajah gadis itu tertoleh dengan sudut bibir mengeluarkan darah.


'PLAAKK!'


"Keluar dari ruangan dan berdiri disana sampai ayah miskinmu tiba!" Teriak guru itu kesal. Kirania segera keluar dari ruangan itu dan berdiri di dekat pintu sembari menunggu sang ayah datang sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Kirania berdiri selama 15 menit sebelum mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pria tampan yang berjalan mendekatinya dengan tatapan tajam. Pria itu mengenakan kemeja biru dongker dengan vest hitam, celana cargo hitam panjang dan sepatu kets senada dengan celananya.


Begitu pria itu berjalan mendekat kearah Kirania, gadis itu segera menunduk takut mengira pria itu akan memarahinya.


"Papa, maafkan aku."


Albert menatap Kirania yang basah kuyup dengan sudut bibir robek dan dihiasi memar merah pekat di pipinya. Sudah pasti gadis itu mengalami kekerasan dan dia akan meminta penjelasan dari gadis itu sepulang sekolah.


"Ayo masuk." Ucap Albert datar dan membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuknya disusul oleh Kirania.


"Sudah ku bilang ketok dulu pintunya, dasar siswa miskin!" Bentak guru berkumis baplang itu tanpa mengalihkan pandangan dari handphonenya.


Albert berjalan mendekati guru itu lalu duduk di hadapannya dan berkata dengan santai. Sementara Kirania berdiri di sebelah Albert.


"Bukannya Anda menyuruh saya datang kemari karena keonaran putri saya?" Tanya Albert dingin membuat guru baplang itu menoleh dan menatap pria itu kaget.


"Tuan Fernando, ada hal apa hingga Anda datang kemari?" Tanyanya ramah dan melirik Kirania yang berdiri di belakang pria itu dengan kesal.


"Maaf sebentar, Tuan. Saya akan menyuruh siswi ini keluar ruangan." Ujar guru itu dengan nada ramah membuat Albert mengangkat alisnya sebelah.


"Siapa yang menyuruhmu ikut masuk, hah? Tunggu ayah miskinmu di luar!" Bentaknya pada Kirania.


"Dia ayah saya, Pak." Tukas Kirania sopan.


"Berani sekali kau membohongi ku! Apa kau sengaja menyewa seseorang untuk mengakuinya sebagai ayahmu?! Apa kau tidak tau jika dia adalah seorang pemilik restauran terkenal?! Apa kau menyewanya dengan tubuhmu?!" Cerca guru baplang itu menghina Kirania di depan Albert membuat rahang pria itu mengeras.


"Kau diskor selama sebulan karena perilaku tidak sopanmu! Keluar dari ruanganku!" Bentaknya lagi. Saat Kirania membalikkan tubuhnya guru baplang itu berjalan mendekati gadis itu dan melupakan keberadaan tamunya.


"Jika kau keberatan, aku bisa meringankan hukuman dengan tidur bersamaku." Bisiknya yang di dengar langsung oleh Albert, mengingat ruangan ini sepi karena jam pelajaran telah mulai.


Albert mengeratkan rahangnya karena putrinya di hina dan dilecehkan dihadapannya. Dia segera berdiri ingin memberikan bogeman mentah kepada pria paruh baya itu, namun diurungkan nya. Dia melirik ke arah putrinya dan mendapati wajah gadis itu menggelap.


Kirania kesal dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi lalu menghantamkannya pada meja kayu itu hingga terbelah menjadi 2.


'BRUAAKKK!' 'KRAAKK'


"Saya akan melakukan skors selama sebulan. Dan Saya tidak serendah itu untuk melakukan hal menjijikkan seperti Anda. Oh, ya berhati-hatilah berbicara jika Anda tidak mengetahui latar belakang siwa dengan baik." Balasnya dingin dan segera membalikkan tubuhnya hendak pergi dari sana. Dia melupakan keberadaan sang ayah yang memperhatikan tingkahnya.


Albert mencekal tangan Kirania, menahan agar gadis itu tidak keluar dan menatap tajam guru baplang yang menatapnya dengan tajam.


"Apa karena penampilannya yang seperti ini membuat Anda menghina penampilan putri saya di hadapan ayahnya sendiri?" Tanya Albert dingin membuat guru baplang itu merinding. Suasana tegang di tambah dengan suhu ruangan yang menurun drastis membuat pria itu menggigil.


"M-maafkan saya, Tuan Fernando." Guru itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya.


"Minta maaf pada putriku." Balas Albert dengan nada membunuh membuat pria paruh baya itu meneguk ludahnya paksa.


"Maafkan aku." Ucapnya malas membuat Albert kesal.


"Kenapa kau menendang mejanya, Kiran? Harusnya kau tendang saja testisnya dengan keras hingga pecah." Ujar Albert santai membuat guru itu bergidik ngeri.


"Nanti sepatuku kotor, Pa. Tidak seru loh jika ada berita di televisi dengan judul 'SEORANG GURU MENGALAMI PENDARAHAN AKIBAT SALAH KAWIN.'" Balas Kirania cuek.


"Oh, ya Pak Harres. Jika kau ingin mencari koneksi untuk kepentingan mu, kenapa kau tidak ikut pemilihan ini? Daripada kau menjadi seorang guru yang sibuk mencari koneksi dari orang tua siswa yang berpengaruh, kau tidak pantas menjadi guru." Ujar Albert tegas dengan hawa intimidasi kuat yang menguar di tubuh pria itu. Mereka berdua segera pergi meninggalkan ruangan yang berantakan dengan seorang pria yang gemetaran.


Albert Fernando Mahesa, siapa yang tidak kenal pria tampan berambut hitam ombre biru cerah ini? Dia adalah salah satu petinggi Athena Corp yang baru berkembang sejak 2 tahun lalu. Pria ini memiliki 3 restoran mewah dan beberapa cafe yang tersebar di distrik D, E dan F.


Menurut rumor yang beredar, dia memiliki 2 anak angkat yang telah remaja dan salah satu diantaranya memiliki kemiripan yang sama persis dengan nya.


Restoran milik Albert terkenal dengan makanan yang sangat lezat dan ekslusif dengan harga yang mahal. Begitu juga dengan dengan makanan di cafe miliknya, namun harga di cafe miliknya sangat bersahabat dengan kantong pelajar sehingga cafe miliknya menjadi incaran pecinta kuliner.


"Sial! Aku melakukan kesalahan." Geram Harres kesal.