
"Siapa kalian?" Seru seorang pria paruh baya dengan perut buncit. Pria itu menatap 2 remaja yang tengah menatapnya dengan datar dan jijik.
Pria itu adalah target mereka malam ini. Dia adalah salah satu politisi yang bekerjasama dengan Aaron dan merencanakan penyerangan ini.
Pria itu hanya mengenakan celana boxer, sementara itu terdapat 2 gadis yang tak sadarkan diri di ranjang hotel dengan keadaan acak-acakkan nyaris telanjang.
"Malaikat mautmu." Jawab Ellios dingin dan langsung menembak targetnya tepat di kepala. Setelah selesai dan menghapus jejak, mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu melalui jendela.
Dua remaja beda warna rambut itu melangkah tanpa suara meninggalkan sebuah hotel yang dikhususkan untuk tempat mengevakuasi orang-orang penting.
"Sepertinya kau sering mendapatkan tugas seperti ini." Celetuk Petra memecah kesunyian saat melihat Ellios begitu lihai menghabisi target mereka.
"Aku dan Kirania memang sering mengikuti Albert untuk misi pembunuhan." Balasnya santai tanpa menghentikan langkahnya.
"Jadi kalian itu pembunuh bayaran?" Tanya Petra dengan tak percaya.
"Bisa dibilang seperti itu."
Petra memang mengetahui jika wadah dari Ganymede merupakan seorang pembunuh berdarah dingin. Dia tidak menduga jika wadah sang aquarius itu adalah Kirania yang terkenal culun dan sering dimanfaatkan oleh Steve dan Aquuera.
"Kiran memang mendekati mereka untuk mendapatkan informasi." Balas Ellios seakan mengetahui isi pikiran pemuda berambut biru jabrik itu membuatnya kaget. Jadi penampilan culun dan sifat yang menjengkelkan itu adalah actingnya?
💠💠💠ðŸ’
Kirania memasuki sebuah hotel bersama Albert dengan santai. Mereka segera menuju sebuah ruangan dimana para target mereka tengah berpesta.
"Mereka adalah penghianat perusahaan yang bekerja sama dengan Aaron. Beberapa diantara nya menjual manusia dan obat terlarang." Jelas Albert. Kirania mengangguk mengerti.
Albert mengetok pintu yang langsung disambut oleh seorang pria paruh baya yang menatap Kirania dengan tatapan lapar.
"Oh, Tuan Fernando. Anda datang rupanya, silahkan masuk." Sapanya sekedar basa basi tanpa melepaskan tatapan pada Kirania membuat Albert menahan emosinya.
Ayah mana yang rela saat seseorang menatap putri kesayangannya dengan tatapan lapar?
Sementara Kirania yang mengetahui tatapan itu hanya bisa merinding. Albert berusaha tenang dan menatap putrinya dengan hangat, dalam hati dia ingin sekali mencongkel mata itu.
Mereka memasuki ruangan itu yang ternyata dipenuhi oleh pria-pria kaya yang tengah berpesta dengan minuman keras dan narkoba ditemani oleh beberapa wanita penghibur lainnya.
Albert dan Kirania tidak perlu repot-repot berkeliling mencari target mereka. Karena para target kini tengah sibuk berpesta bahkan beberapa ada yang teler dan 'bermain' dengan wanita panggilan mereka tanpa tau malu membuat Kirania merinding dan mual. Albert segera menepuk punggungnya dan memberi isyarat agar mengabaikan adegan itu.
"Tuan Fernando, akhirnya anda datang juga." Sapa mereka sambil mengajak Albert bergabung.
"Apa Anda membawa gadis panggilan ini?" Tanya yang lain sambil melirik Kirania dengan merendahkan. Mereka menatap Kirania dari ujung kepala hingga kaki sambil meneguk ludah mereka dengan kasar membayangkan gadis itu menjerit di bawah kungkungan mereka.
"Hn."
Seorang wanita berpakaian minim mendekati Albert, namun pria itu menatap tajam wanita itu membuatnya menciut seketika dan duduk di seberang Albert sambil menatap pria itu dengan mata berbinar.
Kirania yang menyadari jika ayahnya sedang tidak nyaman di tatap seperti itu memutuskan segera mendekati Albert dan duduk dengan manja di pangkuan sang ayah yang membuat beberapa wanita yang berada disana menatapnya dengan iri dan benci. Siapa sih yang tidak ingin duduk di pangkuan pria tampan bak dewa itu?
"Hei! Ada yang mau menyewa gadis yang di bawa tuan Fernando ini?! Dia terlihat sangat cantik!" Seru yang lain dengan tatapan meremehkan membuat Albert mengepalkan tangannya erat.
'Buakh'
Pria itu terlempar dan berakhir menabrak dinding hingga retak. Seketika pria itu tidak sadarkan diri dengan darah berceceran.
"Mulutmu itu berisik sekali." Geram Albert kesal. Gerakannya sangat cepat dan mematikan.
Seketika mereka yang berada disana terdiam menatap temannya yang tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri di dinding lalu melirik Albert dengan marah. Mereka segera sadar dan berdiri mengambil senjata mereka. Bahkan ada yang buru-buru memakai pakaiannya dan ikut bergabung membalas perbuatan Albert.
Tak berapa lama sekumpulan orang berpakaian hitam memasuki ruangan dan menodongkan senjata api kearah mereka membuat Albert mendengus.
"Kau mau bermain dengan mereka?" Tanya Albert yang langsung dibalas dengan anggukan semangat dari Kirania.
"Habisi mereka termasuk yang teler." Ucap Albert yang langsung mengeluarkan samurainya.
Albert langsung menebas mereka hingga tewas. Percikan darah membasahi wajah dan pakaiannya.
Kirania langsung mengeluarkan kipas besinya lalu mengibaskan kipas kearah mereka. Seketika muncul puluhan tombak es dari kipas itu dan langsung menancap di tubuh mereka.
Seketika ruangan itu berubah menjadi lautan darah dengan tubuh tertancap tombak es. Setelah memastikan mereka semua mati, Albert dan Kirania segera menghilangkan jejak dan menghilang meninggalkan ruangan itu.
Mereka muncul di sebuah atap bangunan. Albert memeluk Kirania sambil menepuk punggungnya dengan lembut.
"Maaf, aku tidak tau jika mereka akan memperlakukan mu seperti itu." Ucap Albert merasa bersalah.
"Papa jangan merasa bersalah. Aku baik-baik saja, Pa. Jangan khawatir." Ucap Kirania jujur.
Saat dia memasuki ruangan tadi dan melihat bagaimana mereka menatapnya membuat Kirania sadar bahwa di kota tanpa hukum ini dia tidak bisa percaya pada siapapun selain dirinya sendiri.
💠💠💠ðŸ’
Beberapa hari kemudian.
Kota X terlihat mulai kondusif. Warga kota X mulai berani keluar dari tempat evakuasi setelah insiden beberapa waktu lalu benar-benar berakhir. Mereka yang kehilangan tempat tinggal terpaksa luntang lantung di jalanan yang menjadi tugas utama pemerintah kota.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh Athena Grup. Mereka memutuskan membangun beberapa apartemen di tiga distrik, yaitu distrik D, E dan F dengan biaya sewa yang terjangkau.
Kirania sendiri mulai bersekolah setelah menyelesaikan skorsnya. Dia tidak lagi mengenakan rambut palsunya atas paksaan Albert dan Joshua mengingat dia pernah memperlihatkan rambut aslinya di sekolah.
Kirania memasuki gerbang sekolah dengan santai mengabaikan tatapan penasaran sekaligus iri dari siswa siswi yang berdiri di koridor sekolah.
Kirania membuka loker miliknya yang ternyata dipenuhi dengan debu. Seketika mereka membelalak saat mengetahui jika dia adalah Kirania yang membuat banyak tatapan iri dan tak percaya dilayangkan kearahnya. Iri karena Kirania memiliki warna rambut yang langka dan indah seperti milik salah satu petinggi Athena grup yang membuatnya terlihat sangat cantik, dan tak percaya jika gadis itu menyembunyikan identitas dirinya yang merupakan putri angkat kesayangan pemilik restoran ekslusif yang terkenal sangat mahal itu.
Kirania memasuki kelasnya dengan santai dan duduk di bangku miliknya membuat seisi kelas hening seketika.
"Kau Kirania?" Tanya Aruni memastikan.
"Menurut mu?" Balas Kirania santai membuat seisi kelas heboh.
"Wah, jadi ini benar-benar Kirania?" Seru yang lain dengan tak percaya.
Aqueera yang baru memasuki kelas menatap Kirania dengan tak percaya. Seharusnya dia disambut seperti itu karena orang tua nya adalah hakim ternama dan seorang pengacara, bukan Kirania yang merupakan anak angkat kesayangan pemilik restoran itu.
"Ku pikir kau tidak berani sekolah lagi. Dan ku dengar tempat tinggalmu hancur." Sinis Aqueera dengan nada mengejek begitu melihat Kirania.
"Memangnya sekolah ini milikmu, tidak kan. Lagipula apa urusannya denganmu? Kau mau menampung kami?" Sahut Kirania sewot membuat Aqueera geram dan menghampiri Kirania lalu menggebrak mejanya dengan keras membuat seisi kelas kaget.
'Brakk!'
"Kau sialan!" Seru Aqueera tak terima.
"Aku menyesal telah menjadi sahabatmu!"
Kirania menaikkan alisnya sebelah lalu dia terkekeh.
"Bukannya kau yang ngotot ingin menjadikanku sahabatmu? Sahabat macam apa yang merebut pacar sahabatnya sendiri?" Balas Kirania santai membuat Aqueera terdiam.
"Aku akan mengadukan ini ke Steve!" Geram Aqueera dan bergegas pergi dari sana.
"Adukan saja ke ayangmu itu. Yang cepat, ya~" Sahut Kirania dengan nada mengejek sambil melambaikan tangannya membuat seisi kelas melongo melihatnya.
Apakah setelah putus cinta membuat seorang Kirania bucin dan culun berubah menjadi aneh dan cuek begini? Begitulah isi fikiran teman sekelasnya.
"Kau tidak tau? Semenjak kau di skors mereka berpacaran." Ujar salah satu temannya sekelasnya bernama Naura.
"Biarkan saja. Aku tidak peduli. Toh ayah dan pamanku lebih tampan dan lebih kaya dari nya. Mungkin dulu aku buta hingga terpikat dengan wajah jeleknya itu." Balasnya santai yang membuat mereka cengo.
Apa kabar dengan laki-laki berparas standar di kelas mereka? Kirania melihat laki-laki di kelasnya murung membuatnya merasa bersalah.
"Ahaha, aku tidak bermaksud mengejek kalian. Kalian tampan dan manis kok asal ahklak kalian juga baik." Ucap Kirania tulus membuat laki-laki yang berada di kelas itu merona berjamaah.
'Blussh'
"Berhenti menggoda mereka, Kiran. Kau membuat mereka gugup." Tegur Naura kesal yang hanya dibalas dengan cengiran tanpa dosa.