The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 60



Suara rentetan peluru terdengar memekakkan telinga. Joshua dan Kirania segers berlari menghindari serangan peluru itu sambil sesekali menangkis menggunakan senjata andalan mereka.


Kirania segera mengibaskan kipas besinya dan seketika muncul tombak es yang langsung menyerang orang-orang berseragam khusus itu. Seketika sepuluh orang tumbang dengan darah membasahi tubuh mereka.


Joshua segera melancarkan tembakannya dengan senjata api kesayangannya, Dessert Eagle sambil sesekali menangkis peluru menggunakan belatinya.


Seketika hawa terasa panas dan Joshua segera menebaskan belati miliknya, lalu muncul kilatan api seperti boomerang yang membuat mereka terpental dan tak sadarkan diri.


"S-scard?" Ucap mereka tak percaya.


"Mereka hanya dua orang. Sementara kita ini sangat banyak. Ayo habisi mereka!" Seru pemimpin mereka dengan percaya diri. Seketika suara rentetan peluru kembali terdengar.


Aaron mengeratkan rahangnya dengan keras. Tangannya mengepal kuat melampiaskan emosinya.


"Bunuh mereka!" Seru Aaron dan langsung berlari menerjang Joshua diikuti tiga orang yang telah berubah menjadi setengah hewan yang datang entah dari mana. Mereka bertarung dengan sengit hingga Joshua sedikit kewalahan.


Kirania yang melihat sang paman mulai kewalahan memutuskan membantu pria itu, sementara orang-orang bawahan Aaron yang berseragam khusus hanya diam menonton dan mencari celah untuk membunuh mereka.


Joshua yang mulai kelelahan terkena tendangan telak dari salah satu mutan tidak sempurna itu hingga terlempar beberapa meter dan menabrak sebuah bangunan di seberang jalan hingga jebol.


'Duakh'


'BRAAKKHH'


"Paman!" Seru Kirania hendak menghampiri Joshua yang kini terlempar masuk ke dalam toko, namun seorang mutan tiba-tiba muncul di hadapannya dan menendang Kirania hingga terlempar beberapa meter di jalanan dan terguling sebelum berhenti di bawah sebuah tiang listrik.


Kirania meringis menahan sakit dan mencoba untuk duduk. Sepertinya lengannya patah melihat terkulai lemah. Gadis itu melihat Aaron datang mendekat dengan langkah pelan sambil menatapnya dengan intens yang membuat Kirania merasa risih.


'Tap'


Aaron berdiri di hadapan Kirania lalu berjongkok di depannya. Dia menatap wajah cantik Kirania yang kini berlumuran darah akibat luka dari gesekan aspal.


"Wajahmu sangat cantik." Gumam Aaron sambil mengelus wajah Kirania membuat sang empu menjauhkan wajahnya.


"Sayangnya kau memiliki warna rambut yang sama dengan pecundang itu." Geram Aaron saat mengingat Albert yang selalu saja menggagalkan rencananya.


"Bagaimana jika aku membalas perilakunya melalui dirimu? Sepertinya akan menarik jika disaksikan oleh rekan pecundang itu." Ucapnya sinis lalu berdiri.


Kirania hanya diam tak menanggapi. Jika sesuai rencana yang dijalankan, mereka akan muncul sebentar lagi. Dia harus mengulur waktu selama mungkin agar mereka bisa menghabisi Aaron dan anak buahnya tanpa kerusakan yang besar.


"Bawa dia kemari!" Perintah Aaron pada salah satu anak buahnya.


Tak berapa lama muncul dua orang pria berseragam khusus sambil menyeret Joshua yang kini terlihat tak berdaya karena kelelahan. Mereka menghempaskan Joshua begitu saja beberapa langkah di sebelah Kirania membuat gadis itu menatap sang paman dengan khawatir.


"Ukh! Sial." Gerutu Joshua sambil berusaha duduk, namun dia langsung ditahan oleh dua orang pria berseragam itu.


"Kirania! Kau baik-baik saja?" Tanya Joshua dengan khawatir sambil mencoba melepaskan diri, namun seorang pria berseragam khusus menendang perutnya dengan keras.


"Paman!" Seru Kirania cemas saat melihat Joshua disiksa oleh orang-orang berseragam itu.


"Ho~ Jadi orang itu pamanmu?" Tanya Aaron sambil menyeringai.


"Apa yang kau inginkan? Lepaskan pamanku!" Geram Kirania emosi.


"Jangan emosi, Ran. Tenangkan dirimu." Suara Ganymede tiba-tiba terdengar di kepala Kirania.


"Tapi bagaimana dengan pamanku?" Batin Kirania saat melihat sang paman disiksa oleh orang-orang itu. "Gunakan trik murahan. Kau bisa menggunakan wajahmu untuk membuatnya lengah. " Ucap Ganymede.


"Apa katamu? Bagaimana bisa aku melakukan hal menggelikan itu?"


"Itu adalah hal terakhir yang dilakukan saat terdesak. Percayalah, pria akan lemah saat berhadapan dengan wanita cantik dan seksi, apalagi sambil memasang wajah tak berdaya. Informasi apapun akan mudah kau dapatkan. Bahkan dengan wajah cantik kau bisa membuatnya bunuh diri dengan mudah." Jelas Ganymede membuat Kirania mulai tenang.


"Baiklah, akan aku coba."


"Tuan tampan, bisakah kau melepaskan pria itu?" Ucap Kirania dengan nada genit sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aaron memperhatikan raut wajah Kirania, menelisik rencana apa yang akan dilancarkan gadis remaja itu.


"Bagus! Begitu!" Ganymede hanya bersorak menyemangati lewat pikiran membuat Kirania kesal, namun berhasil disembunyikan dengan baik agar Aaron tidak curiga.


"Diam kau! Aku mau muntah, sialan!" Raung Kirania melalui telepati membuat Ganymede tertawa terbahak-bahak.


Aaron memberi isyarat agar orang yang menahan Joshua menghentikan aksinya. Joshua sendiri mengerang kesakitan akibat pukulan dan tendangan yang di terimanya.


"Tuan tampan, apa kau mau melepaskan pria itu?" Tanya Kirania dengan tatapan memelas yang terlihat imut sambil menunjuk kearah Joshua yang kini gemetaran. Kirania melirik sekilas kearah sang paman yang tengah menahan tawa dengan aksinya


"Kenapa kau memintaku melepaskan rekan si pecundang itu?"


"Karena dia pamanku." Ucap Kirania dengan tatapan sedih. 'Jika dia ke alam lain, siapa yang akan mengobati luka-luka akibat ulah anak buahmu?' Batinnya kesal.


Aaron menyeringai menatap wajah cantik yang terlihat menggemaskan itu. Seketika hasratnya menggelora membuat celananya sesak. "Baiklah, aku akan mengabulkan keinginan mu, tapi dengan satu syarat."


'Papa, tolong cepatlah datang!' Teriak Kirania dalam hati.


"Apa, Tuan?" Tanya Kirania pura-pura penasaran. 'Firasatku tidak enak.'


Aaron mendekati Kirania yang masih duduk. Dia kembali berjongkok di hadapan nya sambil mengelus wajah Kirania dan ternodai oleh darah.


"Jangan sentuh dia!" Teriak Joshua sambil berusaha berdiri, namun sayang dia di tahan oleh anak buah Aaron.


"Biarkan dia bersenang-senang dengan tuan Aaron. Kau tinggal menontonnya dari sini. Jika beruntung kau juga mendapatkan bagian, hahaha..." Ucap salah satu anak buah Aaron sambil tertawa mengejek.


Aaron mendekati Kirania sambil membuka jaket yang di pakainya membuat gadis itu ketakutan. Kirania refleks memundurkan tubuhnya.


"Jangan sakiti dia!" Joshua kembali memberontak mencoba membebaskan diri, namun salah satu dari anak buah Aaron kembali memukulnya.


Kirania memundurkan tubuhnya, dengan sigap Aaron mencekal kaki gadis itu membuat Kirania memberontak mencoba membebaskan diri.


"Aku suka dengan perlawanan mu. Kau benar-benar gadis liar. Aku ingin melihat bagaimana reaksi pecundang itu jika melihatmu bermain bersamaku?" Ucap Aaron sambil berusaha menindih tubuh Kirania.


"Lepas!" Kirania memberontak mencoba membebaskan diri. Namun sia-sia saja karena dia merasa lengannya patah akibat benturan keras yang di terimanya. Kirania tak kehilangan akal, dia menggigit bahu Aaron dengan keras.


'Plak!'


Aaron menampar Kirania dengan cukup kencang membuat gadis itu terdiam. Seseorang kembali menamparnya dengan keras setelah sekian lama dan dia adalah orang asing yang ingin menyakiti nya.


"Lepaskan dia, Aaron!! Jangan sakiti dia!" Joshua berusaha membebaskan diri saat melihat keponakan kesayangan nya ditampar tepat di depan matanya dan hendak di lecehkan.


'Duakh'


Sebuah tendangan mendarat telak di wajah Aaron, membuat pria itu terlempar beberapa meter. Aaron meludahkan darah yang mengalir di bibirnya dengan tiga buah gigi yang rontok akibat sebuah tendangan nyasar. Aaron menggeram marah dan melihat Albert yang berdiri dengan wajah mengerikan.


"Kau benar-benar keterlaluan, Aaron." Ucap sebuah suara wanita membuat Aaron dan anak buahnya mendongak melihat Aretha berdiri di atas sebuah gedung.


Sementara Albert menghampiri Kirania yang terduduk dengan tatapan kosong, penampilannya terlihat menyedihkan dengan wajah memar berlumuran darah dan pakaiannya sedikit terbuka di bagian dada membuat wajah Albert menggelap.


"Kau benar-benar menjijikkan, Aaron." Seketika hawa dingin menusuk tulang terasa di sekitar mereka. Albert benar-benar marah.


Pria itu ingin menghunuskan samurai nya yang kini mengeluarkan asap putih lalu mengibaskan kearah Aaron, namun diurungkannya. Dia segera menghampiri Kirania yang membeku dan menggendong gadis itu yang terlihat acak-acakkan.


"Peperangan telah usai dan kedamaian telah tiba. Athena!" Teriak Aretha sambil mengibaskan sebuah pedang. Seketika cahaya putih menyeruak ke langit membuat orang-orang yang berada di sekitar sana mendongak takjub.


"A-apa ini?"


Seketika cahaya itu berubah menjadi pedang dan turun bagaikan hujan.


'Jleb' 'Jleb' 'Jleb' 'Jleb'


Orang-orang dari pihak Aaron yang kebingungan tidak sempat menghindar saat hujan pedang cahaya itu menimpa tubuh mereka. Teriakan kesakitan terdengar membelah malam.


Aaron tidak sempat menghindar dan terkena tusukan dari pedang cahaya itu tepat di perutnya. Seketika pandangannya gelap dan tubuhnya ambruk begitu saja.


Hujan pedang itu menutupi distrik F. Para petinggi Athena grup termasuk Kirania tidak terkena dampaknya. Setelah beberapa saat hujan pedang itu berhenti dan Aretha segera meninggalkan tempat itu.