The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 11: Buka Lembaran Baru



Suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring menggema di sebuah ruang makan milik keluarga Anderson. Terlihat empat orang berbeda usia tengah menikmati makan malam dengan hikmat. Diatas meja terdapat berbagai macam hidangan mewah yang menggugah selera.


"Aku sudah selesai." Ucap Abimayu dengan nada dingin. Remaja berambut hitam dengan mata cokelat hazel itu segera beranjak menuju lantai atas tanpa menunggu respon dari keluarganya.


Derrick dan Helena hanya bisa menghela nafas saat melihat perubahan putra sulung kesayangan mereka sejak kematian Ran tiga minggu lalu. Sepasang suami-istri itu menatap punggung sang putra yang telah menghilang di ujung tangga dengan pandangan yang sulit di artikan.


Emillia hanya bisa menatap punggung sang kakak dengan sedih. Sebelah tangannya menggenggam sendok dengan kuat, menyalurkan emosi yang tertahan.


"Semua ini gara-gara aib itu." Batin Emillia dengan benci. Entah apa yang di pikirkan oleh Emillia hingga membenci Ran yang telah tiada. Apakah kau akan membongkar kuburan Ran untuk menyiksa kerangkanya eh, Emillia?


⚛️⚛️⚛️


Abimayu berbaring di ranjang queen size di kamarnya yang bernuansa abu-abu pastel. Pikiran pemuda itu menerawang ke masa lalu.


Semenjak kematian Ran, ada sebuah rasa yang mengganjal hinggap di hatinya. Ingatannya dihantui dengan wajah Ran yang selalu terlihat sedih semasa hidupnya.


Abimayu akui Ran terlihat berbeda dengan anggota keluarganya yang lain. Terutama warna rambut dan mata mereka.


Meskipun mereka bersaudara, Abimayu tidak pernah menyapa Ran apalagi meluangkan waktu untuk bermain bersamanya pun tidak pernah dia lakukan.


Abimayu diam-diam memperhatikan Ran dari kejauhan. Pemuda itu tidak pernah menolong maupun membela Ran saat disiksa habis-habisan oleh sang ibu dan Emillia, dia hanya memperhatikan adik bungsunya disiksa dari jauh. Saat malam tiba, Abimayu menyelinap ke kamar Ran dan menatap wajah polos gadis kecil yang terlelap dalam mimpi.


Sekalipun mereka berbicara, Abimayu hanya bisa berbicara dengan nada tinggi dengan sang adik bahkan memarahinya meskipun Ran tidak pernah melakukan kesalahan.


Saat melihat Ran dekat dengan Ellios, bermain dan bercanda dengan bahagia walaupun dia anak dari seorang sopir keluarga membuatnya begitu iri.


Hingga kenekatannya, dia meminta Damian menjauhkan Ellios yang saat itu tengah terpuruk dari jangkauan gadis kecil itu, sejak saat itu dia selalu melihat Ran murung dan menangis dalam diam. Semenjak kepergian Ellios, tidak ada suara tawa Ran terdengar di kediaman mewah Anderson bahkan senyum bahagia pun tidak pernah terlihat di wajah polos gadis kecil malang itu.


Bukannya menghibur, Abimayu bahkan membiarkan Ran begitu saja. Hingga beberapa kali pemuda itu melihat Kirania pulang larut dengan tubuh penuh lecet dan darah di pakaiannya serta tatapan kesedihan penuh kekosongan yang terlihat di sorot mata gadis kecil itu.


Mengingat semua kenangan itu, tanpa disadarinya setetes air mata mengalir di kedua sudut matanya. Ya, Abimayu menangis dalam diam menyesali perbuatannya. Dia hanya bisa berandai tanpa berbuat apa-apa. Tidakkah kau terlalu egois dan kejam pada Ran secara psikis, Abimayu?


⚛️⚛️⚛️⚛️


Kirania menyusuri lorong rumah sakit dengan ekspresi bahagia. Akhirnya dia bisa menghirup udara bebas tanpa bau obat-obatan yang menyapa penciumannya dan makanan hambar yang menyapa pengecapnya.


Kirania memutuskan untuk merubah sifatnya yang penurut dan mudah ditindas dan memakai nama yang diberikan oleh sang ayah saat menyamar di kediaman Anderson, Kirania Revalina. Dia bersumpah untuk mengubur masa lalunya yang kelam dan dia akan menjadi gadis kuat bermental baja yang tidak mudah di tindas. Dia sudah muak mendapat perlakuan tidak adil di tempat kelahirannya dulu.


Pelatihan dengan sang Aquarius membuatnya menjadi lebih kuat secara mental. Berkat bantuan darinya, Kirania memiliki pemikiran orang dewasa saat dirinya masih berusia dua belas tahun.


Sedangkan Albert hanya menatap nanar putrinya yang sebentar lagi menginjak usia remaja. Tubuh Kirania terlihat kurus kering dan rapuh, ukuran tubuhnya seperti anak berusia sembilan tahun.


Selama Albert menyamar menjadi Alex, pria itu melihat bagaimana perlakuan keluarga Anderson pada gadis kecil itu. Dia hanya diberi roti kering, susu basi, bahkan makanan sisa. Tak jarang Kirania tidak diberi makan seharian oleh keluarga Anderson.


Albert menyamar menjadi seorang koki di kediaman Anderson atas perintah dari Damian, dimana dua keluarga kaya raya ini adalah kolega bisnis yang bersaing untuk menguasai sebuah kota. Sekaligus misi untuk menyelidiki Kirania yang terlihat berbeda di dua keluarga itu.


Pria itu memerlukan waktu enam bulan untuk melakukan misi dari dua keluarga kaya raya itu agar tidak dicurigai oleh Derrick dan Helena. Namun sesosok anak perempuan bernama Ran menarik perhatiannya.


Pertama kali melihat gadis kecil yang sebentar lagi menginjak usia tujuh tahun, pria itu terpaku melihat kemiripan Ran dan dirinya, mereka terlihat seperti pinang dibelah dua. Yang membedakan diantara mereka adalah Albert adalah seorang laki-laki berusia awal dua puluhan dan Kirania hanyalah seorang gadis kecil berusia eman setengah tahun.


Pertama kali berbicara dengan gadis kecil itu, perasaan akrab dan ingin melindungi menghampiri hatinya.


Pertama kali melihat tatapan polos gadis kecil itu, semua beban dan lelah selama ini ia rasakan hilang begitu saja.


Saat mengetahui kebenarannya, dia ingin mengenal gadis itu lebih dekat. Diam-diam pria itu menemui Kirania dan mencurahkan kasih sayangnya dan melakukan peran seorang ayah baik sebagai Alex maupun sebagai Albert.


"Papa, setelah ini kita tinggal dimana?" Tanya Kirania berhasil memecah lamunan Albert.


"Kau akan tau nanti." Jawab Albert dengan senyum misterius.


"Aku harap kau tidak membawaku ke kandang buaya atau dunia lainnya." Sungut Kirania sambil mencibir membuat pria itu memutar matanya.


"Kau mau tinggal disana?" Tawar Albert sambil mengacak kepala Kirania dengan gemas.


"Ayolah, Pa. Tidak bisakah kau berhenti mengacak kepalaku? Rambutku berantakan!" Protes Kirania sambil menatap sang ayah kesal. Dia segera merapikan rambut pendekanya yang berantakan akibat tangan Albert.


Pria itu hanya terkekeh ringan saat mendapatkan protesan dari putrinya, tanpa disadari mereka telah keluar dari rumah sakit dan segera menuju jalan raya.


Mereka menunggu sebuah taksi, tak lama terlihat sebuah taksi meluncur di kejauhan mendekat ke arah mereka. Albert segera memberi tanda berhenti pada taksi itu dan taksi itu melambatkan lajunya lalu berhenti di depan mereka berdiri.


Albert segera membuka pintu penumpang dan menyuruh Kirania masuk kedalam bangku penumpang. Setelah memastikan sang anak telah duduk, Albert duduk di sebelah Kirania dan menyebutkan tujuannya, sopir itu segera melajukan mobilnya berbaur dengan pengendara lain di jalan raya.


⚛️⚛️⚛️


Mereka tiba di sebuah gedung apartemen sederhana berlantai dua puluh yang menjulang gagah dihadapannya yang dihiasi lampu dari kamar penghuni apartemen.


"Papa tinggal disini?" Tanya Kirania sambil memperhatikan gedung berlantai dua puluh dengan datar.


"Begitulah. Maaf jika apartemen ku bukan apartemen mewah." Jawab Albert dengan canggung.


"Yang penting didalamnya nyaman dan ada tempat tidur. Kalau perlu kita beli rumah saja agar lebih nyaman." Jawab Kirania cuek sambil melenggang masuk.


Albert hanya tertawa kikuk dengan respon sang anak. Pria itu segera menyusul Kirania yang lebih dulu nyelonong masuk, meninggalkannya begitu saja.


Namun langkahnya terhenti ketika melihat Kirania celingukan di lorong apartemen membuat Albert mengernyitkan dahinya. "Ada apa?" Tanya Albert menghampiri Kirania yang terlihat kebingungan.


"Papa tinggal di unit yang mana?" Tanya Kirania sambil nyengir tanpa dosa menatap sang ayah yang berjalan menuju ke arahnya. Dia tidak tau jika apartemen ini memiliki banyak lorong.


Albert nyaris tersandung mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kirania. Tanpa berkata-kata dia segera melewati Kirania menuju ke sebuah lift yang berada di dekat tangga. Gadis itu mengekori Albert dengan poker face andalannya.


"Ku pikir kau sudah tau mengingat kau nyelonong begitu saja ke dalam." Ucap Albert sambil melirik Kirania yang berdiri di sebelahnya.


"Aku hanya ingin cepat sampai dan langsung tidur." Sahutnya cuek. Albert hanya mendengus mendengarkan jawaban dari putrinya dan langsung menekan lantai enam belas.


Setelah mendengar cerita dari Albert, gadis itu tidak bisa berkata-kata. Paman Alex yang selalu menyayanginya menghilang begitu saja saat dirinya baru berusia delapan tahun. Seminggu kemudian dia bertemu dengan Albert dan dia merasakan perasaan nyaman saat bersamanya. Sama seperti bersama Alex.


Suara mereka terdengar mirip, bahkan perlakuan mereka padanya juga sama persis. Mereka sangat suka mengacak rambutnya atau mencubit pipinya.


Dia tidak menyangka, mereka berdua orang yang sama dan merupakan ayah kandungnya sendiri.


Kirania tidak menyalahkan Albert atas masa lalunya. Namun dia tidak menyangka perlakuan keluarga kandungnya begitu kejam.


Kirania dan Albert bersumpah untuk mengubur masa lalu yang kelam. Mereka memulai kehidupan baru di kota ini sebagai ayah dan anak dengan rahasia masing-masing.