
Steve menghampiri Kirania yang sibuk dengan buku setebal pantat badak dengan marah. Di belakangnya Aqueera mengekor sambil menangis terisak-isak dengan wajah kacau dan rambut yang berantakan.
'Brakk!'
Kirania mengintip mereka dari balik buku tebalnya dan kembali membenamkan diri pada bacaannya yang tertunda, mengabaikan mantan sahabat dan mantan pacarnya yang mencari gara-gara.
Steve merasa kesal karena Kirania mengabaikannya.
"Apa yang kau lakukan pada sahabatmu sendiri, Kiran?!" Bentak Steve marah yang berhasil mengundang beberapa siswa berkerumun penasaran.
Kirania menatapnya datar lalu melirik Aqueera dengan sebelah alisnya terangkat.
"Wow, mahakarya yang mengagumkan." Balasnya cuek saat melihat penampilan Aqueera yang acak-acakan dengan memar merah tipis serta rambut seperti singa.
"Sudahlah Steve. Ini semua salahku, hiks... hiks..." Ucap Aqueera sambil sesegukan.
"Astaga, menjijikkan sekali." Sinis Ganymede tiba-tiba.
"Aku mual melihatnya. Benar-benar menjijikkan." Ucap Kirania terang-terangan membuat mereka menatap ke arahnya dengan ekspresi berbeda.
"Tapi dia menghajar mu sampai babak belur begini." Ucap Steve lembut pada Aqueera yang masih setia menangis membuat Kirania mual.
"Kapan aku menghajar mu hingga seperti itu? Aku lebih senang memukul lawan dan mengirimnya ke rumah sakit daripada cakar-cakaran seperti bocah." Ucap Kirania pedas yang sukses membuat Steve geram.
"Bukannya tadi kau menyiksa Aqueera di toilet? Sahabat macam apa kau ini!" Tukas Steve sambil menatap tajam Kirania.
"Aku menyiksa dia?" Lalu Kirania melirik Aqueera yang masih terisak dan menyeringai. Dia segera berdiri dan mendekati Aqueera membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
'Plakk!’ 'Plakk!'
Kirania menampar Aqueera dengan kencang hingga jatuh tersungkur dan sudut bibir gadis itu robek serta hidungnya mengeluarkan darah. Terlihat jelas cap tangan Kirania dengan warna merah pekat.
Lalu tanpa perasaan Kirania menjambak rambut Aqueera dengan kencang hingga gadis itu berteriak kesakitan membuat siswa yang menonton meringis merasakan penderitaan Aqueera.
"Kalau begini apa aku menyiksanya? Oh, tamparanku terlalu lemah, ya?" Ucap Kirania dengan nada dingin membuat Aqueera dan Steve merinding mendengarkan nya.
"Hentikan, Kiran! Jangan jadikan dia sasaran untuk menarik perhatian ku!" Bentak Steve sambil menepis tangan Kirania dengan kasar lalu memeluk Aqueera dengan lembut.
"Ho~ Wajah jelekmu itu membuat ku mual."
"Kau!" Geram Steve dan langsung membawa Aqueera ke UKS mengingat terdapat sebuah luka robek di sudut bibir dan hidung Aqueera yang mengeluarkan darah.
Kirania menghembuskan nafasnya lelah. Selama tiga tahun ini Aqueera selalu menempelinya kemanapun dia pergi dan selalu mengurusi apapun tentangnya namun selalu menjelek-jelekannya di belakang.
Kirania berharap dirinya tidak lagi bertemu dengan Aqueera dan orang sepertinya lagi.
💠💠💠💠
Ellios dan Antares memasuki gerbang sekolah dengan santai, mengabaikan teriakan histeris para siswi yang memekakan telinga hingga nyaris tuli. Dua pemuda tampan itu segera berjalan menuju kelasnya dengan santai dan duduk di bangkunya. Namun mood Ellios menurun drastis saat melihat kedatangan Irene dan Xeon sambil memamerkan kemesraan nya.
"Aku dengar kau putra angkat dari tuan Fernando. Apa berita itu benar?" Tanya Xeon memastikan.
"Apa urusanmu?" Balas Ellios dingin membuat pemuda itu menahan kesal.
"Aku kira kau itu gelandang." Sinis Xeon. Ellios mengabaikan perkataan pemuda itu dan sibuk dengan ponselnya, membuat Xeon meradang. "Mentang-mentang sekarang kau menjadi orang kaya, kau berani padaku, hah." Geram Xeon.
"Sudahlah, sayang. Kita ke kelas yuk. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." Rayu Irene yang berhasil membuat Xeon tenang dan pergi meninggalkan mereka.
Irene menatap Ellios lalu mengedipkan sebelah matanya dengan genit sebelum keluar dari kelasnya yang sukses membuat pemuda berambut merah itu mual seketika.
"Sepertinya aku perlu plastik besar untuk menampung sarapan yang akan keluar dari mulutmu itu." Ledek Antares yang sukses membuat Ellios menatap tajam kearahnya.
"Lebih baik aku muntah di pakaianmu." Ketus Ellios yang sukses membuat Antares menjauh sambil memasang ekspresi jijik.
"Ngomong-ngomong adikmu itu sangat cantik, ya." Ucap Antares tiba-tiba saat mengingat wajah Kirania membuat Ellios menatap nyalang kearah pemuda itu.
"Kau menaruh perhatian ke adikku, ya. Jika kau sayang nyawa sebaiknya jangan menaruh perhatian khusus padanya." Ucap Ellios dengan nada mengancam membuat Antares merinding.
'Sepertinya ada yang membicarakan ku.' Batinnya dalam hati lalu kembali melanjutkan berkencan dengan bukunya.
Tak berapa lama bel masuk berbunyi nyaring dan seorang guru memasuki kelas dan memulai pelajaran.
Jam Istirahat.
Ellios keluar kelas dan segera menuju atap diikuti oleh Antares yang sibuk mengoceh. Namun mereka melihat kerumunan di lorong kelas membuat Antares yang sibuk berkicau terdiam menatap kerumunan itu.
"Sepertinya ada pembullyan lagi." Celetuk Antares.
"Biarkan saja." Sahut Ellios cuek dan segera menuju atap. Sesaat sebelum berbalik, dia melihat Irene dan Emillia tengah membully seorang siswi yang berasal dari kelasnya.
"Sepertinya halaman belakang tempat yang terbaik." Ucap Ellios tiba-tiba dan segera menuju halaman belakang di ikuti oleh Antares yang kebingungan.
💠💠💠💠
Albert menatap beberapa bangunan yang telah hancur itu termasuk salah satu cafe miliknya yang ikut menjadi korban.
Kedatangan pria tampan itu mengundang kerumunan dari para wanita yang lewat disana. Siapa yang tidak terhipnotis dengan ketampanan bak dewa yang terlihat menggoda di bawah sinar matahari yang terik itu? Tubuh tegap dengan rambut hitam ombre biru yang berantakan, mata biru gelap seperti langit malam, wajah tegas yang mulus dengan kulit kuning langsat yang bercahaya dengan bibir sedikit tebal bewarna pink alami, alis tajam yang berkerut tengah menatap bangunan cafe yang hancur setengah.
"Berapa kerugiannya?" Tanya Albert pada manager kepercayaannya, Benedict Aldison sang pemilik tatto Gemini.
"Sekitar 40 juta, Tuan." Ucap Benedict sambil menyerahkan rincian kerugiannya.
"Ada yang terluka? Mati? Atau hilang?" Tanya Albert santai tanpa mengalihkan perhatiannya dari laporan yang dibacanya.
"Tidak, Tuan. Semuanya selamat." Jawab Benedict dengan kedutan imajiner menghiasi kepalanya. Astaga kenapa disaat seperti ini sang atasan bisa berbicara dengan santai begitu?
"Bagus. Setidaknya cafe ini bebas dari cat merah yang membuatku ingin melelang kepala seseorang."
Seketika beberapa karyawan yang mendengar perkataan Albert meringis ngeri.
Yah, penampilan sempurna itu tidak memiliki lidah yang baik. Kata-kata tajamnya mampu membuat seseorang bunuh diri dengan ikhlas.
"Aku serahkan sisanya padamu." Ucap Albert sambil menyerahkan laporan kepada Benedict.
Albert segera menuju ke tempat motor sport hitam kesayangannya yang terparkir tak jauh dari sana, dia memakai helm full face dan menggeber motor sportnya menuju tempat Kirania bersekolah dan sebentar lagi bocah itu pulang sekolah.
Beberapa saat kemudian dia tiba di sekolah Kirania bertepatan dengan bubarnya siswa-siswi di sekolah itu. Sontak kehadirannya mengundang rasa penasaran para murid SMP tersebut. Albert mengabaikan hal itu dan mata tajamnya melihat putri kesayangannya berjalan dengan santai menuju gerbang sekolah dan hampir melewati dirinya.
Segera Albert mencengkram tangan Kirania, membuat gadis itu menoleh dan melayangkan tinjunya. Dengan mudah Albert menangkap tinju Kirania membuat gadis itu nyengir tanpa dosa.
"Cepat naik." Titah Albert sambil menyerahkan helm. Kirania menerima helm itu lalu memakainya dan segera naik di jok belakang.
Albert segera tancap gas meninggalkan area sekolah yang kini tampak sepi mengingat hari sudah sore dan matahari telah condong ke barat.
💠💠💠💠
Suara pecahan barang terdengar di sebuah kamar dengan interior mewah. Terlihat banyak barang-barang berserakan di lantai, bahkan ada pecahan kaca yang berserakan.
"Sialan kau, Kirania!!" Raung Aqueera marah.
"Aku benci kau, Kirania! Aku benci!!"
Aqueera merasa Kirania selalu berada di atasnya, baik dari segi akademik maupun non akademik. Aqueera selalu berusaha menjatuhkan Kirania, namun selalu gagal.
Apalagi saat mengetahui jika Kirania adalah putri dari seorang petinggi Athena Grup yang terkenal dengan paras yang sangat tampan namun memiliki lidah beracun itu. Lengkap sudah rasa cemburunya.
Mengingat jika Kirania dikelilingi pria yang tampannya diatas rata-rata yang menyayanginya membuat Aqueera semakin tidak menyukai Kirania. Dia ingin melenyapkan gadis itu dan langsung menelepon seseorang.
"Aku perlu bantuanmu. Tolong awasi Kirania, jika bisa buat dia menderita dan bunuh dia."
Setelah mendengar jawaban dari lawan bicaranya, Aqueera segera memutuskan panggilan dan tersenyum miring.
"Lihat saja, Kirania. Ku pastikan hidupmu menderita."