
Saat mereka keluar dari cafe, terdapat segerombolan orang berseragam hitam dengan pakaian anti peluru menodongkan senjata mereka, membuat orang-orang yang berada di sana panik dan berlarian tak tentu arah.
"Woah, bukannya itu senjata yang kita lihat tadi?" Tanya Kirania dengan mata berbinar membuat Ellios menjitak kepala gadis itu dengan keras.
'Pletak'
"Aduh!" Peliknya sambil mengusap kepalanya yang nyut-nyutan.
"Sepertinya begitu." Sahut Ivanna.
Kirania menyeringai dan mengeluarkan kipas besinya yang terlipat sempurna.
"Selamat sore, tuan-tuan. Maukah kalian menyerahkan nyawa padaku?" Tanya Kirania dengan suara yang terdengar merdu sambil membuka kipa besinya setengah membuat kumpulan orang berseragam itu tertawa meremehkan. Sementara Antares hanya merinding. Menurutnya gaya bicara Kirania sangat mirip dengan salah satu petinggi Athena Grup yang terkenal berlidah tajam dan pedas.
"Lihat gadis ini. Sepertinya dia hanyalah seorang pela*cur." Ucap salah satu diantara mereka yang membuat Ellios meradang, sementara Kirania tersenyum manis dengan kedutan menghiasi wajah cantiknya.
"Hahaha... Benar. Cepat bereskan mereka dan tangkap gadis itu untuk hadiah tuan Aaron." Balas yang lainnya.
"Toh mereka hanya remaja yang masih lemah. Seharusnya kita bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat." Ujar yang lain.
'Duakh'
'Brukh'
'Dor' 'Dor'
'Brukh' 'Brukh'
Tanpa aba-aba Kirania melesat maju menendang salah satu diantara mereka lalu menendangnya hingga jatuh tersungkur. Ivanna segera melayangkan tembakan kearah kelompok itu dan menembaknya membuat kelompok itu geram marah.
"Sialan! Serang mereka!!" Serunya kesal saat melihat tiga rekannya tewas.
Kirania segera membuka sepasang kipas besinya, terlihat tombak es keluar menghujani mereka dengan cepat. Beberapa diantara mereka segera ambruk karena terkena tombak es di titik vital mereka.
'Jleb' 'Jleb' 'Jleb'
'Brukh' 'Brukh' 'Brukh'
Ellios dan Antares segera menghajar dengan cambuk api dan boomerang, sementara Ivanna sibuk adu senjata dengan mereka.
Suara desingan peluru terdengar nyaring di depan sebuah cafe. Hanya beberapa menit kekacauan itu berhasil terselesaikan.
Setelah memastikan semua orang itu tak bergerak, keempat orang itu segera pergi meninggalkan tempat yang terlihat berantakan itu.
💠💠💠ðŸ’
'BRAAKKK' 'KRAAAKKK'
Seorang pria tampan tengah meninju dinding hingga tercipta retakan yang dalam. Nafas pria itu memburu menahan emosi yang meluap-luap saat mendengar anak buahnya gagal menduduki kawasan milik Athena grup.
"Sial! Aku terlalu meremehkan mereka!" Geramnya emosi dengan rahang bergelemetuk.
"Kita akan menyerang mereka malam ini! Kali ini aku akan turun tangan sendiri!" Ucapnya tegas.
"Dan keluarkan mereka semua." Lanjutnya sambil menatap sang asisten dengan tajam.
"Baik, Tuan." Ucap sang asisten dan pamit keluar.
"Kota ini harus berada di bawah kekuasaanku!" Tekadnya dan segera mempersiapkan diri.
Aaron Masamoto, seorang mafia kejam yang meresahkan kota akhir-akhir ini. Dia melakukan banyak hal ilegal seperti penjualan manusia dan organ, penyeludupan senjata, pembunuhan, penjarahan, penculikan dan pengedar obat terlarang.
'Tok' 'Tok' 'Tok'
"Masuk!"
'Cklek'
Seorang pria tampan memasuki ruangan Aaron diikuti oleh beberapa orang yang terlihat ingin mengamuk. Terdengar geraman tertahan dari mulut mereka dan deru nafas mereka memburu, dilihat baju mereka naik turun dengan cepat seperti kelelahan.
Ya, mereka adalah manusia hasil percobaan dari Damian yang digabungkan dengan sel hewan. Aaron tersenyum penuh kemenangan saat melihat mereka.
"Malam ini kita akan menyerang wilayah kekuasaan Athena. Kalian bisa menggila di sana." Ucap Aaron dengan menyeringai senang.
💠💠💠💠ðŸ’
"Apa kita perlu membereskan ilmuwan itu?" Tanya Ren menatap Aretha.
"Lebih baik begitu. Aku ingin menghabisi nya setelah apa yang dilakukan pada Kirania saat kecil." Balas Joshua dengan menggebu-gebu.
"Kita pikirkan itu nanti. Saat ini Aaron akan menyerang wilayah kita bersama para mutan. Dia akan berguna untuk kita nanti." Ucap Aretha menyeringai.
"Ren, evakuasi para warga ke tempat yang aman. Kita akan bertarung melawan mereka malam ini." Putus Aretha mutlak.
"Baik."
Mereka mendiskusikan kemungkinan tempat penyerangan dan beberapa taktik serta usulan hingga tak terasa sore telah datang. Setelah mendapatkan kesepakatan mereka akhirnya membubarkan diri.
"Apa kita memberitahu hal ini pada anak-anak?" Tanya Joshua pada Albert begitu mereka tiba di rumahnya yang terletak di distrik F.
"Ku rasa mereka harus tau."
"Apa kau tidak cemas pada mereka? Mereka masih remaja dan harus hidup dengan normal, bukan dengan hal penuh darah yang membuat nyawa bisa melayang kapan saja."
"Aku percaya pada mereka."
Joshua hanya bisa menghela nafas frustasi. Dia ingat kota X ini sangat berbahaya dan menyesal telah memilih kota ini sebagai tempat bersembunyi.
Awalnya kota ini sangat damai dan terletak cukup jauh dari kota S, namun siapa yang menduga jika setelah 3 minggu menetap, mereka kedatangan sekelompok orang berpakaian serba hitam lengkap dengan senjata api dan mengobrak abrik apartemen nya.
Awalnya hanya terjadi penjarahan dan penculikan, namun perlahan semakin memanas dan gencatan senjata untuk mulai terjadi antar penguasa.
Mereka ingin pindah, namun sayangnya mereka tidak bisa keluar dengan mudah dan memutuskan tinggal di kota ini.
Albert membuka pintu rumahnya dengan memasukkan sidik jari dan masuk di ikuti oleh Joshua. Mereka mendapati sepasang remaja tengah sibuk menata meja makan.
"Kami pulang~" Sapa Joshua sambil merentangkan tangannya.
"Selamat datang." Sahut mereka serempak.
"Tidak datang untuk memeluk paman tampanmu ini, Ran?" Rengek Joshua memasang wajah sedih yang membuat Kirania mau tidak mau mendekati pria itu dan memeluknya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan pada kalian setelah makan malam." Ucap Albert serius membuat Kirania mengurai pelukan pada Joshua dan menatap sang ayah dengan penasaran.
💠💠💠ðŸ’
"Apa? Penyerangan?" Beo kedua remaja itu setelah mendengar penjelasan singkat dari Albert. Saat ini mereka telah selesai makan malam dan berada di ruang keluarga.
"Iya. Dari mata-mata yang kami letakkan disana, ada beberapa mutan yang ikut bergabung dengannya dan Aaron akan turun sendiri malam ini." Sambung Joshua.
"Seharusnya kami tidak membawa kalian kemari. Maaf." Sesal Albert dan menatap mereka dengan tatapan sendu.
"Kalian masih remaja dan seharusnya kalian menjalani kehidupan yang normal. Bukan kehidupan yang di penuhi dengan kekerasan dan darah." Lanjut Joshua.
"Ini pilihan kami. Kalian tidak perlu merasa bersalah." Jawab Ellios santai.
"Jikapun kami menjalani kehidupan normal, mungkin itu hal yang sulit. Kalian tau, hidupku sejak kecil tidaklah mudah. Mengikuti jalan kalian adalah keputusan ku. Jadi Papa dan Paman tidak perlu merasa bersalah atas pilihanku." Balas Kirania.
"Ini juga keputusan ku. Aku tau ini tidak mudah, tapi kalian telah menunjukkan bagaimana kerasnya kehidupan ini." Ucap Ellios.
"Dan jika kami memilih hidup normal tanpa mengetahui kebusukannya, mungkin kami akan menjadi orang bodoh atau menjadi boneka orang lain." Sambung Kirania membuat Albert merasa lega dan Joshua mengeluarkan air mata anime.
"Hiks... Hiks... Ku kira kalian membenci kami." Ucap Joshua sambil mengusap air mata animenya dengan dramatis membuat Albert mendengus. Ingin sekali dia mencincang sahabatnya ini.
"Tapi kalian orang-orang hebat. Kami bangga bisa bertemu dan bersama kalian." Ucap Ellios dengan suara sedikit bergetar.
Kirania dan Ellios mengetahui latar belakang mereka berkat tatto zodiaknya dan beberapa berkas milik Joshua dan Albert yang secara tidak sengaja mereka temukan.
Joshua Alandero Mahardika, anak angkat Damian yang diabaikan oleh pria itu karena suka bertingkah seenaknya dan suka membuat keributan di sana sini. Namun tanpa diketahui siapapun dia adalah seorang dokter hebat yang jenius.
Albert Fernando Mahesa, pria yang dijual oleh ayah tirinya sendiri dan menjadi pelampiasan nafsu dari Helena. Lalu menjalani berbagai percobaan dan siksaan sebelum berhasil melarikan diri dan berakhir di jalanan dalam kondisi sekarat.Dia berhasil diselamatkan oleh Diana yang merupakan ibu dari Joshua dan membawanya ke markas mafia milik sahabatnya.
Di sana Albert dilatih dengan keras sebagai seorang pembunuh bayaran. Dia juga menjalani kehidupan seperti orang normal.
Hingga akhirnya dia mendapat misi pertama sebagai mata-mata 2 keluarga, Anderson dan Brawijaya lalu tidak sengaja bertemu dengan Kirania.
Dibawah mereka, Kirania dan Ellios di ajari banyak hal seperti bela diri, hacker dan lainnya.
"Kalian bersiaplah. Kita tidak tau kapan mereka akan menyerang." Titah Albert.