
Malam ini terlihat berbeda dari malam biasanya. Terlihat bulan purnama bersinar terang dengan cahaya lembut bewarna kuning keputihan.
Jika diperhatikan lebih teliti, disekitar bulan itu terlihat lingkaran dengan tujuh warna yang berbeda dan tidak ada bintang yang terlihat dilangit selain dua belas rasi bintang konstelasi zodiak yang bersinar begitu terang.
Perlahan rasi bintang konstelasi dua belas zodiak itu menyatu menjadi dua belas titik cahaya dan menyebar ke penjuru kota, mencari dua belas anak yang ditakdirkan.
⚛️⚛️⚛️
Seorang gadis beranjak remaja tengah terbaring tak berdaya di ruang ICU dengan tubuh ringkih yang dipenuhi berbagai macam penunjang kehidupan.
Terdengar suara monitor yang berbunyi nyaring di memenuhi ruangan itu dengan sangat pelan, menandakan denyut jantung berdetak begitu lemah.
Kepala gadis itu dibebat dengan perban yang melingkari hampir di seluruh kepalanya, menyisakan separuh wajahnya yang dipenuhi lebam dan memar.
Seorang pria tampan bak dewa menatap gadis remaja itu dengan sedih. Dia tidak menyangka hidup gadis itu sangat menderita. Beruntung pria itu berhasil membuat bocah perempuan itu mengalami mati suri dengan menembakkan sebuah jarum kecil di titik akupuntur nya.
Ya, gadis yang terbaring tak sadarkan diri itu adalah Ran, bocah yang sebentar lagi memasuki usia pubertas yang dibuat mati suri oleh Albert.
Albert secara tidak sengaja melihat Emillia dan kedua temannya menyeret Ran menuju ke sebuah gang dan menyiksanya. Karena geram dengan perbuatan Emillia yang selalu menyiksa dan mempermalukan Ran yang notabene adik kandungnya sendiri, Albert menembakkan sebuah jarum akupuntur berukuran sangat kecil di leher Ran bertepatan dengan Emillia menginjak kepala gadis malang tersebut.
Albert tidak habis fikir dengan kegilaan keluarga Anderson. Saat Frankie diam-diam memberi Kirania makanan layak, seorang maid memberitahukan kepada keluarga Anderson menyebabkan Frankie tewas di tangan Derrick.
Kematian Frankie membawa pukulan telak bagi Ellios yang saat itu berusia 10 tahun. Sejak saat itu Ellios dipindahkan di panti asuhan oleh Damian dengan dalih tidak ingin melihat anak itu trauma karena Ran.
Hati kecil Albert tidak terima. Mereka berdua hanyalah anak-anak yang tidak mengerti apapun. Bahkan Damian selalu tutup mata akan ketidak adilan yang dialami oleh Ran yang dialaminya sejak kecil.
Ingatannya melayang beberapa hari yang lalu saat Joshua mendatanginya di kamarnya.
Flash back on
"Kau buat saja gadis itu meninggal. Aku sudah tidak tahan melihatnya begitu menderita." Ucap Joshua tiba-tiba yang berhasil membuat Albert tersedak ludahnya sendiri.
"Kau gila?! Aku tidak tega membunuh anak kecil, apalagi dia itu putriku." Tolak Albert tegas.
"Kau bodoh atau bagaimana?" Sentak Joshua lalu membisikkan sesuatu di telinga Albert.
Dahi Albert mengkerut mendengar penjelasan Joshua, pemuda tampan dengan bekas luka diwajahnya itu menimang sebentar lalu menjawab, "Baiklah. Ini demi Kirania."
"Bagus. Setelah itu kita akan pergi meninggalkan keluarga Brawijaya. Aku sudah muak dengan pak tua yang tidak memiliki hati itu. Omong-omong aku sudah mengambil separuh uang perusahaan pak tua itu dan sudah mentransfer setengah ke rekeningmu." Jelas Joshua santai tanpa beban sambil mengutak-atik handphone nya.
'Drrtt'
Handphone Albert bergetar, pemuda itu memutuskan untuk mengeceknya. Mata Albert membulat saat melihat notif di handphonenya dan menatap Joshua dengan linglung.
"Kau bercanda?! Sebanyak ini?!" Kaget Albert sambil memperlihatkan layar ponselnya. Terdapat nilai transaksi sebanyak dua puluh milyar.
"Empat puluh milyar tidak akan membuat pak tua itu bangkrut. Selain itu..." Joshua kembali mengutak-atik handphonenya sebentar dan handphone Albert kembali bergetar.
Nyaris saja Albert menjatuhkan handphone nya saat Joshua kembali melakukan transaksi dengannya. Pemuda tampan bak dewa itu menganga kaget dan mengucek matanya yang tidak gatal.
"Aku membobol keuangan perusahaan Anderson." Tukas Joshua sambil nyengir. "Uang segitu cukup untuk keperluanmu dan Ran selama sepuluh tahun. Apalagi Ran tidak pernah mendapat hakknya. Jadi uang lima puluh milyar terlalu sedikit dan gunakan dengan bijak." Imbuhnya lagi.
Albert ingin membenturkan kepala Joshua ke tembok. Bagaimana jika kedua keluarga itu melacak dan menemukannya?
"Ah, kau juga harus memberitahu Kirania jika kau adalah ayah biologis nya." Ucap Joshua santai sambil mengutak-atik handphone nya lagi dan lagi handphone Albert bergetar, pemuda itu melihat sebuah transaksi di layarnya. Lagi?!
Ingin rasanya Albert menghajar wajah tampan Joshua, melempar pemuda yang telah menjadi sahabatnya atau mengulitinya hidup-hidup atau apapun itu dengan samurainya.
"Jangan lupa lakukan tugasmu sekarang. Waktu kita tidak banyak. Ah, aku harus membuat dua perusahaan itu ketar ketir, pasti seru sekali. Hihihi..." Ucap Joshua sambil terkikik dan melenggang pergi.
'Blam'
Albert hanya bisa menahan kekesalannya agar tidak mencincang pemuda itu lalu membagikan dagingnya pada anjing jalanan yang kelaparan.
Albert hanya misa menatap handphone nya dengan berkeringat dingin. Di rekeningnya kini telah terisi nominal seratus milyar.
"Dasar sinting." Gerutu Albert sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Flashback Off
Albert memutuskan pergi mencari makanan mengingat pemuda tampan itu belum makan apapun sejak tadi siang. Begitu pemuda itu pergi, seberkas cahaya memasuki tubuh tak berdaya itu.
Tubuh itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang memenuhi ruangan ICU. Beberapa detik kemudian cahaya itu meredup sebelum menghilang tak berbekas.
Sesuatu di balik perban yang membungkus dahinya mengeluarkan cahaya biru keputihan yang cantik hingga cahaya itu menghilang seolah tidak terjadi apapun.
⚛️⚛️⚛️
Seorang anak laki-laki berambut maroon berusia 14 tahun berlari tertatih-tatih sambil sesekali menoleh kebelakang. Tubuh anak itu dipenuhi dengan luka yang mengeluarkan darah.
Dibelakangnya terlihat seorang wanita paruh baya mengejarnya dengan nafsu membunuh. Sebelah tangannya memegang sebuah cambuk.
"Kembali kau! Anak sialan!!" Teriak wanita itu dengan suara melengking sambil menghentakkan cambukknya.
Namun anak itu tetap berlari tertatih-tatih tanpa memperdulikan teriakan ibu panti itu. Nyawanya lebih penting untuk saat ini.
Anak itu adalah Ellios, dia baru saja berhasil kabur dari siksaan ibu panti yang kejam. Dia tak menyadari dirinya berjalan menuju tengah jalan sebelum akhirnya sebuah mobil menabraknya hingga bocah laki-laki itu terpental beberapa meter.
Seorang pemuda bersurai cokelat dengan mata abu kebiruan turun dari mobilnya dan segera menghampiri Ellios yang tergeletak tak jauh darinya. Setelah memastikan anak itu masih bernafas, pemuda itu mengeluarkan senjata api yang selalu dibawanya dan menodongkan kearah ibu panti yang berdiri mematung di atas trotoar.
Ibu panti itu gemetar ketakutan dan segera berlari menuju gang yang berada tak jauh darinya untuk menghindari Joshua, namun terlambat Joshua telah menarik pelatuk senjata apinya dan...
'DORRR'
Suara tembakan terdengar begitu nyaring di malam yang sepi dan dingin. Terlihat tubuh ibu panti itu tergeletak bersimba darah yang berasal dari luka di kepalanya.
Joshua segera membawa tubuh tak berdaya itu kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menembus malam yang sunyi, meninggalkan tubuh yang tergeletak bersimba darah tak bernyawa di mulut gang yang sepi.
⚛️⚛️⚛️
Setelah menjalani serangkaian perawatan, Ellios kini dipindahkan menuju ruang rawat. Joshua segera mengurus administrasi anak itu, meninggalkan Ellios seorang diri.
Tanpa di ketahui siapapun, seberkas sinar memasuki tubuh Ellios yang terbaring tidak berdaya. Terlihat cahaya terang bewarna jingga kecokelatan memenuhi ruangan itu sebelum akhirnya cahaya itu meredup dan menghilang.
Di dahi Ellios terlihat sebuah tanda menyerupai tatto zodiak Leo, tatto itu mengedipkan cahaya jingga kecokelatan hingga cahaya itu menghilang tak berbekas seolah tidak terjadi apapun.