
"Ah~ Malam yang indah~" Ucap Roy sambil rebahan di atas kap mobilnya, dia menatap taburan bintang di langit yang indah dengan cahaya bulan seperempat yang menyinari bumi dengan cahaya lembutnya. Sesekali pemuda berambut jingga itu menghisap rokok penuh penghayatan lalu menghembuskan asap nya.
"Jika saja mafia itu tidak merusuh barang sebentar saja. Ah! Aku sudah lama berpisah dengan kasurku!" Keluhnya kesal mengingat pemuda itu sangat jarang tidur dengan nyenyak.
Sementara kelima rekannya hanya diam menyimak sambil mengawasi sekitarnya. Mereka telah selesai mengevakuasi warga sipil ke tempat aman.
"Setelah malam ini, kau bisa tidur dengan nyenyak, ketua." Ucap salah satu rekannya.
"Yah, kau benar." Ucap Roy sambil mematikan rokoknya lalu membuangnya sembarangan. "Baiklah, mari kita sambut tamu yang mengganggu itu." Ucap Roy sambil bangun dari acara rebahannya.
💠💠💠ðŸ’
Beberapa mobil dengan bak tertutup memasuki kawasan milik Athena grup yang berpusat di distrik F. Deru mesin terdengar memecah keheningan malam yang telah larut.
Mobil itu berhenti dan Aaron keluar dengan pakaian seba hitam yang dilapisi anti peluru, disusul dengan orang-orang berpakaian khusus bersenjata AK49 dan beberapa orang yang ingin mengamuk.
"Kalian berpencar dan kepung wilayah ini. Kalian boleh mengamuk sesuka hati, namun jangan menyerang pemimpin Athena Grup, dia milikku." Ucap Aaron angkuh.
"Baik." Seru mereka serentak dan segera berpencar secara berkelompok. Mereka berjumlah delapan ratus orang bersenjata dengan seratus orang setiap regunya yang setiap regu berisi seorang mutan hasil percobaan Damian yang belum sempurna.
"Sepertinya pekerjaan kita kali ini sangat mudah." Ucap seorang diantara mereka dengan nada remeh.
"Heh, hanya membereskan seorang pecundang. Untuk apa tuan Aaron menurunkan kita semua?"
"Setidaknya kita harus waspada. Menurut rumor ada scard yang melindungi pemimpin Athena grup."
Mereka terus berjalan sambil mengamati sekelilingnya dengan waspada, namun sebuah suara membuat mereka menghentikan langkah nya.
"Aku mendengar cicitan sekelompok tikus disini." Ucap Ren sambil menatap mereka malas.
"Heh, mereka hanya lima orang. Habisi mereka." Seru salah satu diantara mereka dengan nada meremehkan lalu suara desingan peluru terdengar memecah kesunyian di daerah itu.
"Apa boleh buat." Gerutu Ren kesal dan mereka segera bertarung habis-habisan.
💠💠💠ðŸ’
Suara ledakan terdengar dari kejauhan membuat beberapa orang mulai siaga di tempat masing-masing sesuai rencana.
"Sepertinya mereka sudah bergerak." Ucap Albert sambil menatap jendela kamarnya. Segera pria itu mengambil samurai yang tergantung di dinding dan menyampirkan di pinggangnya.
Albert keluar dari kamarnya dan mendapati kedua anaknya serta Joshua berdiri di ruang tamu.
"Papa sudah siap?" Tanya Kirania dengan semangat.
"Hn."
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Seru Joshua. Mereka segera keluar dari rumah minimalis berlantai 2 itu dan segera menghilang di gelapnya malam.
Mereka tiba diatas sebuah gedung, menatap pemandangan yang dibantu dengan cahaya bulan.
"Joshua, pergilah bersama Kirania. Aku akan pergi dengan Ellios." Titah Albert dan segera menghilang dari sana bersama Ellios meninggalkan serpihan es.
"Yah~ Setidaknya aku bisa bersama dengan keponakan cantikku." Ujar Joshua dan segera menggandeng tangan Kirania. Mereka menghilang dari sana meninggalkan kobaran api.
Joshua dan Kirania tiba di depan club malam. Di sana telah berkumpul beberapa orang dengan senjatanya masing-masing.
"Maaf, kami terlambat." Ucap Joshua tanpa merasa bersalah.
"Orang berkencan mana mungkin ingat waktu." Sinis salah satu diantara mereka.
"Hei, kami tidak berkencan! Dia ini keponakanku!" Kesal Joshua berapi-api membuat yang lainnya ber-oh ria saja dan meledek Joshua habis-habisan.
"Ternyata kau menyukai anak dibawah umur, ya? Aku baru tau ternyata kau seorang pedofil."
"Hentikan itu!" Protes Joshua kesal dan Kirania hanya mendengus malas.
"Kentara sekali kau penyuka anak-anak." Goda yang lainnya.
"Sudah-sudah. Lihat ketua kita wajahnya memerah, tuh." Ejek seorang perempuan yang berada di sana membuat teman-teman nya tertawa terbahak-bahak.
Sementara Albert dan Ellios tiba di pusat distrik F. Terdapat beberapa orang berkumpul di sana, termasuk Antares.
"Semua sudah siap?" Tanya Albert dan menatap rekannya satu persatu.
"Sudah, Ketua!" Seru mereka serempak.
💠💠💠💠ðŸ’
Suara tembakan terdengar saling bersahutan. Terlihat banyak orang dari pihak musuh tergeletak tak bernyawa. Ren dan beberapa anggotanya terlihat kelelahan, namun pihak mereka tidak ada korban jiwa maupun orang yang terluka.
"Kalian tau, aku sangat lelah dan ingin tidur, tetapi kalian seenaknya datang dan membuat kerusuhan." Geramnya jengkel sambil memijit kepalanya.
Sekelompok orang itu langsung siaga.
"Aku sangat jengkel dengan kerusuhan ini. Apa pemimpin kalian itu hanya orang aneh yang tak berguna yang sangat suka dengan kekacauan?" Kesalnya dan menatap mereka dengan tajam.
Tiba-tiba sorang pria datang sambil menggeram. Seketika tubuhnya membesar dua kali lipat dan pakaiannya robek. Pria itu berubah menjadi sebesar gorilla. Dengan kecepatan tinggi dia menyerang Ren yang masih menatap mutan itu dengan santai.
"Ketua, awas!" Seru salah satu rekannya.
'BUUMMM'
Ren dengan cepat menghindar dan menatap nanar mobil kesayangan nya yang kini terlihat hancur di balik gumpalan asap.
Tak lama kemudian asap terlihat menipis menampakkan sebuah mobil sedan yang terbelah menjadi dua bagian dengan seorang pria besar berdiri di atas mobilnya.
"Oh, tidak! Mobilku!" Ren hanya bisa meratapi nasib malang mobilnya yang kini terbelah menjadi dua. Terlihat orang itu menggeram lalu berteriak marah.
"Hei, Hei... Kau baru saja menghancurkan mobilku. Apa matamu tidak bisa melihat keberadaanku?" Ucap Ren pedas.
Pria berotot besar itu menggeram dan menatap Ren dengan nafsu membunuh.
Ren segera menembak pria itu tepat di jantung nya, namun sayang sekali luka pria itu menutup dengan sendirinya.
Sosok itu meraung marah dan menyerang Ren bertubi-tubi. Dengan gesit Ren menghindar sambil sesekali menanam timah panas di seluruh tubuh pria itu lalu menendangnya hingga terhempas beberapa meter jauhnya.
'DUAAKKHH!'
Pria itu kembali keukuran normal. Ren menyeringai menatap sekumpulan orang berseragam khusus yang sibuk menatap pertarungan mereka.
"Jadi, bagaimana kita selesaikan kekacauan ini?" Ucapnya sambil menyeringai kejam.
💠💠💠ðŸ’
Arabella menendang orang-orang berseragam khusus itu hingga terlempar beberapa meter. Terlihat banyak tubuh tergeletak tak berdaya dengan darah membanjiri kawasan itu.
Sementara rekannya sibuk baku tembak dengan beberapa orang berseragam khusus yang masih tersisa.
Tiba-tiba seorang pria berotot cukup besar dengan kepala menyerupai banteng datang dan mengamuk dengan membabi buta. Dia segera menyerang Arabella dan wanita itu dengan cepat menghindar dan sesekali menembak pria itu di titik vitalnya.
Namun luka pria itu perlahan pulih dengan tempo yang berbeda. Arabella mengamati hal itu dan menembaknya lagi. Benar, kelemahan pria itu ada pada pertengahan dahinya. Segera wanita itu menembakkan peluru khusus di kepala mutan itu.
'Dor'
'Brukh'
Sekali tembak, mutan itu ambruk. Arabella memperhatikan mutan itu sejenak selama beberapa saat mengabaikan rekannya yang sibuk baku tembak. Setelah merasa mutan itu tidak bergerak, dia menghembuskan nafas lega dan membantu rekannya yang lain.
💠💠💠ðŸ’
Suara desingan peluru menggema di penjuru di distrik F yang gelap gulita. Terlihat Albert tengah menendang seorang pria berseragam khusus dan sesekali menebas orang-orang itu dengan cepat dan akurat.
Beberapa orang mengarahkan peluru ke arah pria tampan itu, namun sayangnya beberapa inchi sebelum menyentuh tubuh Albert, peluru itu terpantul dan jatuh dengan sendirinya.
Kini kurang dari setengah pasukan orang berseragam yang gemetar ketakutan saat melihat rekannya telah dibabat habis oleh Albert dan rekannya. Tanpa disadari Albert, terlihat seorang pria mengayunkan sebuah balik kayu yang berisi sebuah paku yang masih tertancap ke arah kepala belakang Albert.
Sesaat sebelum balik kayu itu menyentuh kepala Albert, kayu itu patah menjadi dua. Dengan cepat Albert menendang pria itu hingga menabrak dinding.
'Bruakhh'
Dinding itu perlahan retak lalu roboh mengubur pria itu hidup-hidup. Kerasnya tendangan Albert bisa menghancurkan sebuah rumah mengingat pria itu pernah menjadi objek dari Damian.
"Huh, merepotkan saja." Kesal Albert sambil menatap pria itu dengan sinis. Tak lama pria yang terkubur itu keluar dengan tubuh berbulu seperti serigala. Dia mengaum memecah keheningan malam membuat mereka menghentikan aksi perkelahian mereka.
Pria itu segera melesat dengan kecepatan tinggi menyerang Albert, namun dengan cepat pria itu menghindar ke samping membuat pria mutan itu menabrak sebuah bangunan di seberang jalan hingga hancur.
Pria mutan itu mengeluarkan lolongan khas serigala lalu menatap Albert dengan tatapan haus darah.
"Mari selesaikan ini."