The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 18



Albert menatap sepasang remaja yang tertidur disofa dengan haru. Dia tidak menyangka jika 2 remaja yang penuh derita semenjak kecil tumbuh menjadi remaja tangguh bermental baja.


Tiga bulan bersama mereka membuat hidup Albert menjadi berwarna dengan canda tawa dan pertengkaran konyol mereka.


"Penampilan mereka terlihat lebih baik saat bersamamu, ya." Ucap Joshua sambil memperhatikan kedua remaja itu. Pandangan pria bersurai cokelat itu menerawang. Beberapa waktu lalu mereka berdua memiliki penampilan yang menyedihkan. Tubuh kurus kering dengan dipenuhi beberapa luka dan lebam, serta tatapan kosong penuh kesedihan dan tekanan.


Namun kini penampilan mereka telah lebih baik. Tubuh mereka telah terisi dan tak terdengar lagi suara tangisan kesedihan dari dua remaja tersebut. Bahkan kedua mata remaja itu menampakkan sinar bahagia dan tekad yang kuat.


"Tidak juga."


"Aku tidak menyangka kau bisa menjadi figur ayah yang baik. Yah~ walaupun usiamu masih muda, tapi kau punya seorang putri yang sebentar lagi berusia 13 tahun. Umumnya seorang pria diusiamu memiliki anak berusia 1 atau 2 tahun, sih." Ucap Joshua panjang lebar.


"Ya. Tapi jika memang benar aku menghamili wanita itu, setidaknya dia memiliki sedikit fitur wajah atau sifat darinya. Bukan duplikat dari diriku, baik dari wajah maupun sifat yang sama persis denganku." Ucap Albert sambil melirik Joshua melalui ekor matanya.


"Haahh~ Pak tua itu sudah sangat keterlaluan. Eksperimen dengan mengubah DNA anak malang itu dengan DNA milikmu semenjak dia baru lahir, bahkan tak jarang menculik anak-anak demi eksperimen gilanya. Sungguh tidak punya hati." Maki Joshua saat mengingat perbuatan Damian. Dimana pria itu selalu mengambil anak dari panti asuhan dan menjadikan eksperimen.


"Setidaknya mereka berdua telah berhasil lolos dari eksperimen ayahmu itu. Jika tidak, kemungkinan selamatnya 0℅." Ucap Albert sambil berjalan mendekati 2 remaja itu. Dia membenarkan posisi tidur Ellios dan membopong Kirania yang tertidur. "Dia bukan ayahku. Dia hanyalah seorang pria yang tega membunuh seorang ayah didepan anaknya. Jika bukan karena perasaan bersalahnya dan obsesi berlebihan pada ibuku, mana mungkin dia mau membawaku." Sentak Joshua kesal saat mengingat masa lalunya.


"Setidaknya kau tidak harus menjadi calon kelinci percobaan ayahmu. Aku dengar dia mencoba menggabungkan DNA manusia dan hewan. Sudah banyak korban dari anak-anak tak berdosa itu melayang sia-sia." Ucap Albert sambil menggendong Kirania dengan bridal style. "Sebaiknya kau bawa dulu Kiran ke kamarnya, aku akan membawa selimut untuk Ellios." Ucap Joshua seraya melangkahkan kakinya menuju kamar Ellios dan mengambil sebuah selimut bewarna maroon.


"Hn. Selamat malam." Ucap Albert dan berjalan menuju kamar Kirania, saat hendak menurunkan gadis itu, Kirania mengeratkan pelukannya pada leher Albert, membuat pria itu tidak tega melepas paksa pelukan gadis itu. Albert memutuskan membiarkannya dan merebahkan diri mengikuti sang putri yang telah menjelajahi alam mimpi.


⚛️⚛️⚛️


Di sebuah ruangan mewah terlihat seorang pria tengah menatap pemandangan kota X sambil menghembuskan asap rokok. Dibelakangnya terdapat seorang pemuda dengan kalung anjing melilit lehernya tengah menunduk dengan sebelah kaki menumpu pada lantai.


"Bagaimana?" Tanya pria itu tanpa menoleh kearah lawan bicaranya. Dia membelakangi pemuda itu sambil menatap pemandangan kota dari jendelanya.


"Sesuai prediksi, Tuan." Ucap pemuda itu sambil menatap lantai.


"Hn. Saat aku terpilih nanti, kita akan merubah tatanan kota ini dari segi ekonomi. Semua penduduk kota ini adalah budak dan mereka harus bekerja padaku." Ucapnya dengan nada sombong seraya menghisap rokoknya.


"Baik, Tuan." Sahut pemuda itu dengan patuh. "Aku harap kau tidak terpilih nanti. Jika kau yang terpilih nanti entah berapa orang yang akan kau jual." Batin pemuda itu.


"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap pria itu sambil menoleh kearah pemuda itu yang kini berdiri dan membungkuk sopan seraya berbalik menuju pintu.


Pria itu segera mengeluarkan sebuah pistol dan membidiknya ke arah pemuda itu tanpa sepengetahuan dirinya yang kini berjalan menjauhinya.


'DOR'


'BRUKH'


Pemuda berkalung anjing itu jatuh tersungkur dengan berlumuran darah, sebuah peluru kini bersarang ditubuhnya.


"Aku tidak membutuhkanmu lagi. Barang rongsokan sepertimu harus disingkirkan." Ucap pria itu dengan dingin lalu membalikkan tubuhnya.


"Singkirkan mayatnya!" Seru pria itu sambil menaruh pistolnya dan menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap rokok dengan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tak berapa lama muncul beberapa orang berseragam serba hitam dan mengangkat tubuh pemuda itu.


"Siap Bos!" Seru mereka serentak.


"Kota X, ya? Sepertinya kota tanpa hukum ini akan menjadi wilayah kekuasaanku. Aku tak sabar menunggu menjadi penguasa disini dan menikmati pundi-pundi uang. Hahahaha!"


Pria itu merupakan seorang mafia sekaligus pengusaha terkaya. Terkenal dengan sifat kejam dan tak berperasaan. Tak terhitung sudah berapa banyak orang-orang yang menjadi korban dari kekejamannya.


Dia adalah Aaron Masamoto, pria tampan berusia 28 tahun yang dipuja oleh banyak wanita dan ditakuti oleh hampir sebagian orang mengingat berapa kejamnya pria itu.


Aaron menatap sebuah foto yang menampilkan seorang pria tampan dengan wajah yang dipenuhi bekas luka dan memiliki rambut hitam serta mata biru yang menyejukkan. Seringai kejam terpatri diwajah tampannya. "Gilbert Antonio, ya. Dari informasi yang ku dapat dia memiliki dua orang anak berusia remaja. Hmm... Menarik sekali. Aku tak sabar ingin melenyapkan pecundang itu dan merebut anak-anak nya untuk menjadi anjing peliharaan ku, khukhukhu..."


⚛️⚛️⚛️


Sebuah mobil berhenti didepan sebuah gang. Terlihat beberapa pria kelar berpakaian hitam turun dari mobilnya dan berjalan menuju bagasi.


Seorang pria mengawasi sekitar, setelah memastikan tidak ada orang, pria itu segera memberi aba-aba kepada temannya.


"Situasi aman. Cepat keluarkan mayatnya." Serunya sambil tetap mengawasi situasi.


Segera mereka membuka bagasi dan mengeluarkan sesosok tubuh yang terbungkus kain lalu menyeretnya menuju sebuah tempat penampungan sampah yang tak jauh dari sana.


Salah satu diantara mereka menyingkap kain itu dan terlihat sesosok pemuda tampan bersurai pirang kecokelatan yang tak sadarkan diri. Dia menempelkan jarinya pada leher pemuda itu, beruntung denyut nadi pemuda itu masih terasa dan dia segera mengeluarkan sebuah belati kemudian memotong kalung anjing yang melilit pemuda itu tanpa sepengetahuan yang lain.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Tegur salah satu pria kekar berseragam hitam tersebut saat melihat salah satu rekannya tengah sibuk dengan tubuh pemuda itu.


"Aku hanya menggorok lehernya agar dia benar-benar mati. Untuk berjaga-jaga kemungkinan yang terjadi nanti." Sahutnya tanpa menghentikan kegiatannya.


"Cepat lakukan dan segera pergi dari sini."


"Baik."


'TAS'


Kalung anjing yang melilit leher pemuda itu terlepas dan dengan segera dia membisikkan sesuatu pada pemuda yang tergeletak pingsan itu dan menutup kainnya kembali. Tidak lupa dia membasuh belatinya dengan darah pemuda itu yang mengalir dari lukanya dan segera beranjak dari sana.


Setelah itu mereka semua segera berjalan menuju mobil dan meninggalkan tempat itu tanpa menyadari sepasang mata abu-abu kebiruan menatap gerak gerik mereka dari balik gorden jendela bangunan yang terdapat di sekitar sana.


Tiba-tiba kain yang membungkus tubuh itu bergerak-gerak beberapa saat dan akhirnya terbuka, memperlihatkan seorang pemuda tampan bermata merah berusaha bangkit dengan tertatih-tatih. Sebuah cahaya biru tua redup bersinar dilehernya membuat sepasang mata abu-abu yang mengawasinya memicingkan matanya tajam.


Pemuda itu akhirnya ambruk dan tak sadarkan diri, memperlihatkan punggung berlumuran darah yang merembes dengan derasnya.


Pria bermata abu-abu kebiruan itu menutup gordennya, mengabaikan pemuda malang itu tergeletak begitu saja, mengingat daerah ini mulai rawan dan sering menjadi tempat pembuangan mayat.


Akhir-akhir ini kota X, khususnya Distrik B seringkali terjadi perselisihan hingga menyebabkan terjadinya pertumpahan darah antar politikus, dimana korbannya adalah anak buahnya sendiri.


Serta akhir-akhir ini beberapa pria dan wanita muda berusia 19 tahun hingga 24 tahun dengan paras menawan sering menghilang dari keluarga mereka, membuat sebagian orang takut keluar hingga larut malam.