The Scards: Start!

The Scards: Start!
Bab 36: Pertemuan



Kirania menatap pemandangan dihadapannya dengan kagum. Manik biru gelap seindah langit malam tampak berbinar-binar membuat 2 pria dewasa itu terkekeh.


"Woah~ Pemandangan disini menakjubkan sekali~" Gumam gadis itu bahagia.


"Setelah kau lulus, kita akan menetap disini." Ucap pria berambut hitam dengan ombre biru cerah, membuat gadis itu menatapnya dengan mata berbinar.


"Benarkah?"


"Hn."


"Oh, tidak! Tatapan mata itu membunuhku~!" Seru batin Joshua dramatis saat melihat tatapan Kirania yang terlihat begitu menggemaskan.


"Akhirnya kalian sampai juga." Seru seorang pemuda berambut merah. Mata hijaunya menatap sesosok gadis berambut hitam ombre biru cerah yang sibuk mengagumi pemandangan dengan tatapan hangat.


Mendengar suara yang dirindukan itu membuat Kirania menoleh dan berlari menghamburkan diri ke pelukan pemuda itu.


"Kakak!"


'Grep'


"Wah~ Kucing kecilku semakin pendek, ya." Ucap Ellios sambil memeluk Kirania dengan erat membuat gadis itu mengurai pelukannya dan menatap pemuda itu dengan kesal.


"Delapan bulan ga bertemu sudah melupakan namaku, ya? Sepertinya kau menderita pikun usia dini." Sembur Kirania kesal.


Ellios terkekeh lalu mencubit pipi Kirania gemas yang sukses membuat sang empunya memekik kesakitan.


"Aww~!!"


Ellios melepaskan cubitan pada pipi Kirania, gadis itu menggosok pipinya yang terasa panas. Sudah pasti pipi gadis itu memerah akibat tangan nakal sang kakak. Dia harus menjauhkan pipinya dari Albert maupun Ellios, karena hanya mereka berdua yang sangat suka mencubit pipinya setiap saat.


"Oh, ya Kirania. Kami pergi sebentar." Pamit Albert menepuk kepala Kirania hangat.


"Iya, Pa. Hati-hati."


"Kau tidak mau memeluk pamanmu yang tampan ini?" Rengek Joshua sambil memperlihatkan tatapan menyedihkan seperti anak anjing yang minta di pungut. Albert mendengus kesal dan langsung menarik kerah pria itu dan berkata dengan pedas, "Jangan sembarangan memeluk anak orang, bodoh! Bisa-bisa dia ketularan dengan sikapmu yang menyebalkan itu. Sebaiknya kita bergegas."


Kirania terkikik geli saat melihat wajah menyedihkan milik Joshua yang terlihat mirip anak kecil yang mainannya dirampas. Dia melambaikan tangannya saat melihat mobil sport dengan warna mencolok itu menjauh dari pandangannya.


⚛️⚛️⚛️⚛️


"Tuan Aroksol dan anak buahnya di temukan tewas di sebuah club malam. Dugaan sementara dia dibunuh." Lapor seorang pria seraya menyerahkan sebuah berkas. Di hadapannya terlihat seorang pria berpakaian serba hitam duduk sembari merangkul seorang wanita cantik bermake up tebal dengan rambut merah darah yang menyala.


Pria itu menghempaskan wanita yang duduk dipangkuannya dengan kasar lalu membaca berkas itu dengan serius. Seketika raut wajahnya menggelap.


"Sial! Siapa yang membunuhnya?!" Raungnya marah seraya menyentak laporan itu hingga isinya berserakan.


"Kami masih menyelidiki kematiannya, Tuan." Ucap pria itu menunduk dan melirik sekilas wanita itu dengan tatapan dingin.


Wanita itu meringkuk pura-pura ketakutan dan ingin buka suara, namun Aaron angkat suara terlebih dahulu.


"Kau boleh pergi." Ucap Aaron dingin.


Pria itu membungkuk hormat dan segera berlalu dari sana. Untung saja Aaron sedang bersama seorang wanita. Jika tidak, nyawanya dalam bahaya mengingat tempramen pria itu sangat buruk. Memainkan nyawa orang seperti serangga membuatnya mau tak mau mematuhi pria itu.


Sementara Aaron mengepalkan tangannya kuat. Beberapa pendukungnya telah tewas sekaligus di sebuah club malam dengan tragis bersama beberapa wanita penghibur. Aaron meninju meja yang tak bersalah itu cukup kencang, membuat wanita itu tersentak kaget. 'BRAAKK!'


"Sial! Rencanaku berantakan!" Amuknya sembari mengacak rambutnya dengan frustasi lalu membalikkan meja membuat wanita itu memekik ketakutan.


Kini salah satu pendukungnya dengan fraksi kuat telah tewas terbunuh dan pembunuh itu tidak meninggalkan jejak apapun membuat anak buahnya kesulitan menyelidikinya.


"Maafkan aku yang telah membuat mu ketakutan, sayang. Mari kita melanjutkan kegiatan kita." Ucap Aaron mendekati wanita yang terduduk di lantai dengan wajah ketakutan.


Wanita itu mengangguk patuh tanpa berani menolak. Aaron tersenyum dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


⚛️⚛️⚛️⚛️


Albert dan Joshua memasuki sebuah restoran mewah. Beberapa pengunjung memperhatikan kedatangan mereka terutama pengunjung perempuan karena ketampanan yang diatas rata-rata. Keduanya mengabaikan tatapan memuja itu dan fokus dengan tujuan mereka yang langsung disambut oleh seorang pelayan lalu mengantarkannya ke ruangan khusus.


Joshua mengucapkan terimakasih dan memasuki ruangan itu bersama Albert. Mereka mendapati beberapa orang tengah berkumpul disana sambil berbincang santai. Di hadapan mereka terdapat berbagai macam hidangan yang menggugah selera.


"Kami baru saja tiba." Sahut seorang pria dengan rambut hijau tosca panjang santai.


"Kalian berdua silahkan duduk dan mari kita menikmati hidangannya." Ucap seorang wanita cantik dengan rambut pirang keperakan dengan ramah.


"Terimakasih."


"Hn."


Mereka segera duduk bergabung dan mulai menyantap hidangan bersama dengan hening. Setelah selesai, mereka mulai membuka percakapan. Seketika atmosfer berubah menjadi serius.


"Jadi, informasi apa yang kalian dapatkan?" Tanya wanita cantik berambut pirang keperakan itu sambil menatap mereka satu persatu dengan serius.


"Beberapa waktu lalu terjadi penyerangan di distrik B. Sebagian besar mereka adalah anak buah Aaron." Ucap pria berambut hijau tosca serius.


"Aaron, ya?" Ucap wanita itu sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di meja lalu menghembuskan nafasnya berat.


"Dia sangat berambisi menjadi pemimpin kota X rupanya." Imbuh wanita itu.


"Sepertinya begitu, Nona Aretha. Bahkan dia menyerang sepasang remaja yang menikmati kencan di sebuah cafe." Lanjut pria itu seraya melirik Albert membuat semua orang yang berada disana sontak melirik ke arah pria itu.


"Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Albert datar membuat mereka sweatdrop.


"Ku pikir kau tau sesuatu tentang gadis culun bar-bar itu." Balas pria berambut hijau tosca itu yang sukses membuat wajah Albert menggelap.


"Hentikan, Ren. Jangan memulai pertengkaran di depan nona Aretha." Tegur seorang wanita berambut ungu cerah itu kesal sembari mencubit pinggang pria itu.


"Aduh! Aku hanya ingin memastikan." Elak Ren kesal sambil mengaduh kesakitan. Cubitan wanita itu sangat menyakitkan dan dia lupa akan hal itu.


"Secara kebetulan aku berhadapan dengan mereka anak buah Aaron. Jadi aku yang menghajar mereka di seberang jalan. Yang merusak cafe itu adalah sepasang remaja itu." Balas Albert santai membuat mereka melongo tak percaya.


"Dan aku menyuntik mati mereka hingga kehilangan pekerjaan ku. Tapi aku syenang syekali." Ucap Joshua terkekeh membuat mereka sweatdrop. Astaga mereka berdua sudah gila!


"Joshua, aku tak menyangka orang ramah sepertimu begitu kejam." Ucap Roy terkekeh.


"Gara-gara siapa aku kerja lembur tanpa istirahat?" Balas Joshua seraya melirik Albert yang menatapnya dengan tatapan datar.


"Kau mau menyalahkan ku?" Balas Albert dingin membuat Joshua cengengesan.


"Apa kalian tau tentang ledakan kemarin?" Tanya Aretha membuat ketiga pria itu mengalihkan atensinya pada gadis berambut pirang keperakan itu.


"Ledakan itu terjadi 3 blok dari sekolah SMP. Menurut salah satu saksi, ledakan itu berlokasi di depan kantor cabang kita yang berdekatan dengan halte bus. Beruntung tidak ada korban yang meninggal akibat serangan itu." Jelas Ren serius.


"Persaingan antara pebisnis dan politisi, ya? Wajar saja mengingat kota ini wilayah tanpa hukum. Entah mengapa keadaan kota akhir-akhir ini begitu buruk." Ucap Arabella frustasi.


"Aku mendapat tugas untuk kalian berlima, wahai pelindungku." Ucap Aretha serius dengan cahaya terang ke emasan berkedip di dahinya, memperlihatkan tatto seorang wanita cantik dengan pedang dan tombak seukuran telapak tangan.


"Kami ksatria perunggu pelindung Dewi Athena siap menjalankan tugas yang di berikan kepada kami." Mereka berdiri serentak dengan tangan kanan berada di dada, layaknya hormat seorang ksatria.


"Aku memberi kalian tugas untuk menyelidiki kasus ini dan melindungi kota ini, bagaimanapun caranya. Aku mohon kerja sama dan bantuan kalian." Ujarnya lembut.


"Dengan senang hati, Dewi. Sebagai pelindung Anda, kami akan melindungi kota ini hingga titik darah terakhir. Ksatria perunggu Athena akan melindungi Anda meskipun tercabik-cabik." Ucap mereka serentak dengan tatto bersinar di lengan dan tangan mereka.


Setelah berkata demikian, cahaya tatto mereka menghilang dan mereka kembali duduk.


Aretha adalah seorang gadis cantik pemilik tatto Athena sekaligus pewaris perusahaan keluarga yang bergerak di bidang otomotif, perhiasan, restoran,pusat perbelanjaan dan rumah sakit yang sekarang berpusat di distrik F.


Sementara Albert, Joshua, Ren, Roy dan Arabella merupakan pemilik tatto ksatria perunggu pelindung Athena sekaligus petinggi perusahaan Athena Corp.


Mereka diam-diam melindungi warga kota X dari kekacauan dengan membaur dengan masyarakat. Baru-baru ini mereka menawarkan jasa perlindungan bebas biaya untuk masyarakat umum dan biaya tinggi untuk para pejabat.


"Aku dengar ada sebuah transaksi narkoba di salah satu hotel. Aku ingin Joshua dan Roy pergi menggagalkan transaksi itu." Ucap Aretha yang langsung di angguki oleh Roy dan Joshua.


Mereka akhirnya memutuskan pergi meninggalkan ruangan itu bersama-sama, mengabaikan tatapan penasaran dan iri dari pengunjung restoran mewah itu.


Dua wanita cantik dengan tubuh idaman setiap wanita didampingi empat pria tampan. Apalagi mereka berenam memiliki wajah diatas rata-rata, siapa yang tidak iri dengan pemandangan tersebut?