
"Kenapa Daddy bisa kayak gini?" Tanya Dave saat sudah di samping Hendrik
"Daddy hanya kelelahan." Balas Hendrik
"Apa yang membuat Daddy banyak pikiran?"
"Apa karna kita?" Tanya Rosa tiba tiba, membuat Dave dan Hendrik menatapnya
"Tidak, bukan karna kalian, ini emang udah faktor usia." Ucap Hendrik berusaha tersenyum
"Jangan bohong, karna anda tidak pandai berbohong." Ucap Elsa datar padahal dia juga khawatir dengan keadaan ayahnya
"Hmm... Daddy emang sedang banyak pikiran, karna Daddy bingung bagaimana cara mendapatkan maaf dari kalian, sepertinya kalian tidak akan pernah memaafkan Daddy." Jelas Hendrik sendu
Ucapan Hendrik membuat Elsa dan Rosa terdiam, mereka tidak mau ayahnya sakit tapi mereka juga masih sakit hati dengan sikap ayahnya dulu.
"Tujuan kita tinggal bersama kalian agar kita bisa perlahan memaafkan kalian, tapi setiap kali kita melihat wajah kalian, kita terus teringat dengan mendiang mommy dan perlakuan kalian waktu itu." Ucap Rosa panjang lebar
"Jadi kita mohon untuk kalian lebih bersabar lagi, karna luka ini belum sepenuhnya sembuh." Timpal Elsa
"Kita akan sabar menunggu waktu itu tapi..." Dave menggantungkan ucapannya membuat yang disana menatapnya
"Tapi apa kalian bisa merubah sikap dingin kalian terhadap kami? Karna dengan begitu kalian akan lebih mudah untuk memaafkan." lanjut Dave
"Akan kita coba." Balas Elsa dengan tersenyum sangat tipis bahkan sampai tak terlihat
Skip Malam hari...
Saat ini Elsa dan Frans sedang duduk berdua di taman menikmati keindahan malam yang bertabur bintang di langit. Selama perjalanan kesana hanya ada hening di antara keduanya.
Keheningan itu membuat Frans merasa jengah, akhirnya ia pun membuka suara untuk memecah keheningan.
"Lo baik baik aja?" Tanya Frans
"Gue pengin bilang kalo gue baik baik aja, tapi hati gue menolak untuk mengatakan itu." Ucap Elsa berterus terang
"Apa lo belum memaafkan mereka?"
"Gue udah coba semampu gue, tapi itu semua tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Lo tau maksud gue kan?" Tanya Elsa menatap Frans
"Gue paham."
"Kalo lo ada di posisi gue, apa yang akan lo lakuin?" Tanya Elsa tiba tiba
"Memaafkan. Gue akan mencoba memaafkannya walau itu sulit, karna gue gak mau hidup dengan penuh kebencian dan dendam sama keluarga gue sendiri."
"Gue juga maunya gitu, tapi rasa sakit itu masih ada. Dan lo tau kan, gue jadi seperti ini karna apa."
"Tapi lo juga harus pikirin perasaan mommy lo disana, mungkin dia akan sedih melihat keluarganya saling membenci satu sama lain." Ucap Frans lembut
"Lo benar, mommy pasti gak suka melihatnya. Apa mommy disana benci sama aku?" Tanya Elsa menatap bintang di langit, tak terasa bulir bening mengalir di pipi mulus Elsa
Frans yang melihatnya tidak tega jika kekasihnya menangis. Frans pun memeluknya agar ia lebih tenang.
"Gue tahu ini sulit, tapi alangkah lebih baik untuk memaafkan dari pada saling membenci." Ucap Frans lembut sembari melepas pelukannya kemudian menghapus air mata Elsa demgan kedua tangannya
"Coba lo ikuti kata hati lo. Gue yakin, pasti hati lo juga mengatakan untuk memaafkan keluarga lo, maka lakukanlah sebelum semuanya terlambat." Tambah Frans yang kini bisa berkata bijak membuat Elsa berfikir sejenak
"Hmm.. Makasih yah, karna lo selalu ada buat gue." Balas Elsa tersenyum manis
"Buat pacar sendiri gak ada kata terima kasih." Ucap Frans tersenyum
"Siapa yang pacaran?"
"Kita, kan kita pacaran." Jawab Frans menunjuk dirinya dan Elsa bergantian
"Kapan lo nembak gue? perasaan gak pernah deh." Tanya Elsa mencoba menjahili Frans
"Waktu itu di taman, masa lo lupa sih." Frans menggaruk tengkuknya yang gatal
"Di taman? Kayaknya lo gak bilang kita pacaran."
"Kan lo udah kasih gue kesempatan buat mendapatkan hati lo."
"Hadeehhh.... terserah lo dah. Sekarang apa lo udah buka hati lo buat gue."
"Emm... Sedikit."
"Kok sedikit? Banyak dong." Protes Frans
"Ihh kok maksa sih. Kan ini hati gue, jadi terserah gue dong." Seru Elsa menahan tawanya melihat Ekspresi Frans yang kesal
"Hufftf... Kalo udah debat sama lo, pasti gue yang kalah." Gerutu Frans sembari menghembuskan nafasnya kasar
"Makanya gak usah ngajak debat." Ucap Elsa terkekeh
"Eh iya, lulus nanti mau lanjut dimana?" Tanya Elsa tiba tiba membahas yang lain
"Dulu gue pengin lanjut Universitas di London tapi sekarang gue pengin lanjut disini aja." Jawab Frans menatap Elsa dengan Intens
"Kenapa?"
"Karna lo."
"Ya gak bisa gitu dong. Jangan jadikan gue alasan untuk tidak melanjutkan cita cita lo kuliah disana. Gue tahu, itu pasti keinginan lo dari dulu."
"Itu emang keinginan gue dari dulu, tapi setelah gue pikir pikir, universitas disini juga tak kalah hebat dengan yang disana. selain itu juga gue bisa selalu kumpul dengan keluarga gue."
"Apa keluarga lo tau?"
"Udah, gue udah membicarakan ini dengan keluarga gue, dan mereka semua setuju dengan keputusan yang gue ambil." Jelas Frans. Elsa yang mendengar hanya ber oh ria
"Lo sendiri mau lanjut dimana?" Tanya Frans
"Gue masih lama kali lulusnya."
"Ya pasti kan udah ada rencana untuk lanjut dimana kan?"
"Amerika." Jawab Elsa singkat membuat Frans kaget setengah mati
"Hah?! lo serius? Berarti kita gak akan ketemu dong." Ucap Frans sendu
"Itu belum pasti, mungkin suatu saat nanti gue akan berubah pikiran, sama seperti lo."
"Gue harap seperti itu." Ucapnya tersenyum sangat senang
"Ada yang pengin gue katakan sama lo." Ujar Frans
"Apa?"
Frans mendekatkan wajahnya di samping telinga Elsa dan membisikkan sesuatu
"I Love You." Ucapnya tersenyum sangat manis membuat pipi Elsa merah merona
"Kok gak jawab sih?" Tanya Frans karna Elsa tak membalas ucapannya
Elsa pun tersenyum dan dia membisikkan sesuatu pada Frans
"Belum saatnya." Ucap Elsa tersenyum
"Kapan?"
"Suatu saat nanti." Balasnya tersenyum sangat manis dan dibalas senyuman manis dari Frans.
**Bersambung...
...----------------...
Wah wah... Hampir mendekati ending nihh...
Jangan lupa Likenya yaa...
Salam manis dari author**...