
"Tuan Hendrik yang terhormat, Kalau anda memang pintar seperti yang orang lain katakan pasti anda tahu apa yang harus anda lakukan sebelum menuduh kita yang tidak tidak. Dan anda juga tidak mengenal kita dengan baik, jadi jangan pernah ambil kesimpulan jika kita bawa pengaruh buruk bagi anak anda, karna itu tidak benar sama sekali." Timpal Rosa dengan sinisnya
"Dan yah, untuk anak anda yang sekarang jadi pembangkang, itu bukan salah kami. Tapi salah anda sendiri, karna itu berarti anda yang tidak becus dalam mendidik anak sehingga ia menjadi pembangkang seperti sekarang." Tambahnya lagi
Elsa dan Rosa sukses membuat Hendrik kalah telak, dan akhirnya Hendrik hanya bisa diam seribu bahasa. Melihat itu tentu saja mereka berdua sangat senang dan tersenyum menyeringai.
"Sebenarnya gue kasihan sama Daddy, tapi ini juga merupakan kesalahannya sendiri." batin Elsa
"Semoga setelah ini Daddy bisa berpikir lebih lebih jernih lagi, dan tidak mudah terhasut sama kedua manusia ular itu." batin Rosa
"Jika anda berpikir bahwa kami tidak menghormati anda, maka anda salah besar. Justru kami sangat menghormati anda, tapi itu juga tergantung sikap yang anda berikan pada kami." Ucap Elsa datar
"Sepertinya tidak ada yang perlu kita omongin lagi. Jadi lebih baik kami pergi sekarang." Ujar Rosa sembari berdiri dari duduknya di ikuti Elsa
"Oh ya, satu lagi Kami berdua tidak akan pernah menjauhi Kak Dave, karna dia sahabat kami." Tambah Rosa
"Sebaiknya anda berikan semua fasilitasnya kembali, karna dia memang tidak salah dan itu juga sudah menjadi haknya." Ucap Elsa
Tanpa basa basi lagi mereka berdua pergi meninggalkan Hendrik yang masih mematung dalam ruangan itu.
"Kenapa aku tidak bisa berkutik di hadapan mereka." Ucapnya Frustasi karna ini tidak sesuai dengan rencana awalnya.
Karena memang disana sudah tidak ada orang, Hendrik pun memutuskan untuk pulang ke mansion.
Sesampainya di Mansion..
Hendrik memasuki mansion dengan wajah yang sedikit lesu dan terus terngiang ngiang perkataan Elsa dan Rosa waktu di Cafe.
Melihat ayahnya sudah pulang Dave langsung menghampirinya begitupun dengan Laura.
"Apa yang Daddy katakan sama mereka? Apa Daddy nyuruh mereka buat jauhin Dave? Kenapa Daddy sampai tega lakuin itu?" Tanya Dave bertubi tubi sedangkan yang ditanya hanya diam seribu bahasa dan masih posisi berdiri
"Jawab Dad." Bentak Dave karena tak mendapat jawaban sama sekali
"Bang Dave kenapa sih, Daddy tuh baru pulang." Kesal Laura.
"Diem lo. Ini semua juga karna lo."
"Kok jadi gue?"
"Dave sudah. Daddy ga ngapa ngapain mereka, kamu tenang aja. Dan soal fasilitas kamu yang daddy cabut, akan daddy kembalikan lagi." Hendrik pun angkat bicara dan membuat yang disana kaget
"Apa Daddy udah berhasil nyuruh mereka buat jauhin Dave? Dan sebagai gantinya fasilitas Dave dikembalikan gitu? Tanya Dave yang curiga
"Mereka tidak akan jauhin kamu, dan soal Fasilitas itu emang udah hak kamu, jadi akan daddy kembalikan."
"Apa Daddy serius?"
"Daddy serius." Ucap Handrik kemudian langsung pergi dari sana
"Kenapa Daddy tiba tiba berubah pikiran?" batin Dave
"Ihhh... pasti mereka udah berhasil menghasut Daddy." batin Laura
Skip Malam hari ...
Tepatnya di Cafe yyy. Terlihat Frans dkk sedang nongkrong sambil berbincang bincang kecil.
Dave menceritakan kejadian tadi siang pada semua temannya.
"Hah? Lo serius, Semua fasilitas lo udah di kembalikan?" Pekik Romi yang mendengar cerita Dave
"Dua rius malah, gue juga kaget, kenapa Daddy tiba tiba berubah pikiran." Ucap Dave
"Apa yang mereka omongin sampe Daddy lo balikin fasilitas lo dan mereka tidak jadi jauhin lo." Ucap Frans yang terlihat bingung
"Gue gak tahu, yang jelas gue sangat beruntung bisa kenal mereka dan gue ingin lebih dekat lagi dengan mereka." Ucap Dave dengan senyum mengembang
"Iya gue tahu, maksud gue tuh, gue pengin bisa jadi abangnya mereka berdua." Ucap Dave memotong ucapan Frans
"Ohh.. kirain lo mau nikung gue lagi."
"Lo emang abang kandungnya kali." Batin Ryan
"Frans, Lo suka sama Elsa?" Tanya Ryan pada Frans
"Gue udah dari dulu suka, tapi dia malah udah suka sama Justin lebih dulu, bahkan sebelum kenal gue."
"Kalo suka perjuangin. Lagian gue liat Elsa kayaknya mulai nyaman sama lo."
"Lo yakin?"
"Ya gue gak tahu, tapi apa salahnya lo jujur tentang perasaan lo sama dia."
"Apa gue tembak dia yah?" batin Frans
"Kalo lo mau tembak dia, kita bisa bantu kok." Ucap Dave seakan tahu isi hati Frans
"Kalo dia nolak gimana?"
"Ya itu Derita Lo." Ucap semua temannya bersamaan membuat Frans kesal
"HAHAHHA...." Tawa semua temannya
"Dasar teman Lucknut. Temannya lagi susah bukannya bantuin malah ngejekin." Gerutu Frans
"Masalah di terima atau ga, itu urusan belakangan. Yang penting lo udah udah jujur sama dia." Ucap Dave setelah berhenti tertawa
"Tapi dia masih belum melupakan Justin."
"Ya gini aja bro, Lo deketin dia terus, buat dia senang dan nyaman deket sama lo." Jelas Ryan
"Wihhh... mentang mentang sekarang udah punya pacar, jadi dia tau kalau masalah pdkt." Celetuk Romi
"Iya dong. Malahan yah perjuangan gue buat dapetin dia sangat sulit." Sombong Ryan.
"Sulit apanya?" Tanya Frans
"Iyalah sulit, gue harus terus bahayain diri sendiri untuk bisa deket sama dia."
"Bahayain? Maksudnya?" Tanya Dave
"Iya, gue malahan sampe masuk..." Ucapan Ryan berhenti karna dia hampir saja keceplosan
"Duhh beg* banget sih, kenapa ni mulut ga bisa diem coba." batin Ryan merutuki kebodohannya sendiri
"Masuk apa?"
"Masuk ke hatinya itu karna bantuan dari Elsa, dia yang bantuin gue dapetin Rosa." Ucap Ryan yang bisa mengatasi rasa gugupnya itu
"Jadi Elsa yang bantuin lo?" Tanya Frans
"Iya."
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa kasih Likenya yaa...
Salam manis dari author**...