
Skip malam hari...
Saat ini Elsa, Rosa, Mario dan juga Justin sedang makan malam bersama di sebuah Restaurant yang cukup mewah, di sela sela makannya mereka isi dengan perbincangan kecil.
"Lo kenapa tiba tiba pindah kesini?" Tanya Mario menatap Justin
"Pengin pindah aja, lagian disana gue sendirian gak ada temennya." Jawab Justin
"Iyalah, mana ada yang mau temenan sama lo yang rese nya minta ampun." Celetuk Rosa
"Bener banget Ros, mana ada yang betah deket deket ama dia." Timpal Elsa melirik Justin
"Ada kok."
"Siapa?"
"Lo, buktinya lo deket sama gue." Ucap Justin sembari mendekatkan bangkunya pada Elsa dan Elsa hanya memutar bola matanya malas
"Ngomong ngomong, Lo makin gendut aja Sa." Tambah Justin tanpa menatap Elsa
"Apa lo bilang? gue gendut? body goals gini di bilang gendut? Fiks, lo harus periksa mata secepatnya." Protes Elsa di bilang gendut
"Enak aja, mata gue sehat gini kok."
"Mana coba gue liat."
Justin menatap mata Elsa begitupun sebaliknya, mata mereka bertemu yang jaraknya bahkan hanya beberapa senti saja. Rosa dan Mario hanya memperhatikan mereka berdua.
Deg
"Kenapa perasaan gue gak pernah berubah sama lo. padahal gue udah coba melupakannya." Batin Justin
"Apa lo emang nganggep gue sebagai adik lo? Jujur gue ingin lebih dari itu, tapi... apa itu mungkin?" batin Elsa
Justin sebenarnya ingin mengungkapkan perasaannya pada Elsa, Tapi dia takut Elsa hanya menganggapnya sebagai sahabat gak lebih, karena jika itu terjadi maka hubungan mereka akan rentan. Jadi lebih baik seperti ini hanya mencintai dalam diam dari pada akan sakit hati nantinya.
"Ekheemmm... Kita jadi nyamuk nih?" Celetuk Mario mengaggetkan Elsa dan Justin
"Eh, Itu mata lo ada beleknya." Ejek Elsa agar tidak terlalu canggung
"Mana ada, lo aja yang siwer." Protes Justin
"Hahaha...." Tawa Rosa dan Mario pecah melihat tingkah laku Elsa dan Justin.
"Elsa, Rosa." Panggilan seseorang secara tiba tiba membuat Elsa dan yang lain melihat kearahnya.
Mereka semua sangat kaget melihat siapa yang dihadapannya saat ini, yang ternyat adalah Keluarganya Upss... maksudnya mantan keluarganya.
Disana ada Dave, Hendrik, Laura dan juga Risa orang yang telah membunuh mommynya.
"Kak Dave." Ucap Elsa melihat Dave
"Iya, dan mereka keluarga gue. Ini dad-.." Ucapan Dave terpotong Elsa
"Kita udah tahu." Ucap Elsa dingin
"Hah?!"
"Kan kemarin pas ultah Kak Frans ada mereka." Tambahnya
"O iya gue lupa. Emm apa kita boleh gabung di meja kalian, lagian ini cukup besar mejanya." Ucap Dave hati hati
"Eng-.."
"Boleh." Elsa memotong ucapan Rosa dan menatapnya memberi isyarat tertentu
"Apa apaan sih bang, gue gak mau satu meja sama mereka." Kesal Laura
"Kalo gak mau silahkan pergi, lagian bukan kita yang minta." Seru Elsa dingin
"Udahlah, lagian kan kalo rame lebih seru, iyakan dad?" Ucap Dave menatap Ayahnya
"Iya, gak masalah juga."
"Silahkan duduk." Mario mempersilahkan mereka duduk
"Om perhatiin wajah kalian berdua sangat familiar sekali." Ucap Hendrik mengawali pembicaraan menatap Elsa dan Rosa
"Masa sih om? Apa mungkin emang om pernah liat kita dimana gitu." Ucap Elsa dengan santainya
"Om gak ingat itu."
"Coba om ingat lagi, mungkin emang kita yang lupa." Sekarang Rosa yang mencoba memancing
"Udahlah dad, mungkin emang muka mereka yang pasaran." Ketus Laura
"Sayang, kamu gak boleh gitu, mereka juga teman kamu." Ucap Risa lembut
"Heh.. dasar muka dua." Batin Elsa
"Kalian masih punya Orang tua?" Tanya Hendrik tiba tiba
"Nggak." Ucap Elsa dan Rosa berbarengan
"Saudara?"
"Hanya Rosa saudara kandung saya." Ucap Elsa tegas
"Kalo kalian mau, kalian boleh nganggep gue abang kalian." Ucap Dave penuh harap
"Ngga perlu, lagian udah ada bang Mario." Tegasnya lagi
"Kan gak papa kalo kalian punya dua abang angkat." Dave masih terus memohon, entah kenapa dia ingin sekali menjadi abang dari Elsa dan Rosa
"Satu saja cukup, yang penting dia selalu menjaga, melindungi dan selalu percaya sama adiknya tanpa meragukannya sedikitpun dan itu udah lebih dari kata cukup." Ucap Rosa menatap Mario berniat menyindir Dave
Dave terdiam seketika mendengar penuturan Rosa.
"Saya liat, keluarga om sangat harmonis sekali." Ucap Justin yang sepertinya hanya untuk basa basi saja
"Iya, om sangat senang memiliki keluarga yang harmonis seperti sekarang tapi..." Hendrik menggantungkan ucapannya
"Tapi apa om?"
"Kalau boleh jujur sebenarnya om memiliki dua anak lagi." Ucapnya sendu
"SANDRA dan VANDA." Ucap Elsa tiba tiba membuat semua menatapnya
"Kok kamu tahu?"
"Kak Dave udah cerita sama kita." Jawabnya enteng sedangkan Hendrik hanya ber oh ria
"Emm.. Elsa boleh nanya gak om?"
"Nanya apa?"
"Apa om benar benar tidak peduli dengan anak om yang pergi itu?" Tanya Elsa membuat Hendrik menghembuskan nafasnya pelan
"Om peduli, tapi om gak tau dimana dia sekarang."
"Apa om udah mencarinya?" Tanya Rosa
"Dulu om sudah mencarinya kemana mana tapi hasilnya nihil, mereka hilang bagai di telan bumi."
"Terus om nyerah begitu aja?" Tanya Elsa
"Mau gimana lagi, om berpikir mungkin saja mereka udah tiada karena sama sekali tidak ada jejaknya." Ucapnya sendu memikirkan nasib kedua anaknya
Bagai tersambar petir di siang bolong, hati Elsa dan Rosa benar benar sangat sakit mendengar sendiri kalau ayahnya bahkan sudah menganggap mereka sudah tiada.
Hancur? Itu pasti, tapi untuk saat ini mereka harus tetap tegar agar mereka mantan keluarganya itu tidak curiga.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa kasih Likenya yaa....
Salam manis dari author**...