
Di Kamar Dave...
Dave terlihat sedang duduk di balkon kamar dengan termenung.
"Apa begini rasanya gak dipercaya sama orang, apalagi itu Daddy sendiri." Gumamnya
"Apa dulu kalian juga seperti ini?" Tambahnya lagi.
Kemudian dia mengambil ponsel di sakunya dan menelpon seseorang.
^^^"Hallo."^^^
"Hallo Sa, maaf gue ganggu lo."
^^^"Gak papa, emang ada apa?"^^^
"Apa lo ada waktu? gue pengin ketemu."
^^^"Sekarang?"^^^
"Iya, di cafe xxx, gimana?"
^^^"Oke."^^^
Dave langsung mematikan sambungan telepon.
"Kenapa gue pengin ketemu Elsa yah? Ahh.. udahlah mending gue jalan sekarang dari pada dia nunggu lama." Ucap Dave
Dengan segera ia mengambil jaket dan berjalan keluar untuk menemui Elsa. Karena fasilitasnya udah dicabut, jadi dia ke Cafe menaiki Taxi.
Sesampainya di Cafe..
Dave memasuki cafe dan menengok kanan kiri mencari seseorang, tak butuh waktu lama, dia melihat orang itu dan langsung berjalan menuju meja orang itu.
"Udah lama?" Tanyanya pada orang itu, yang tak lain adalah Elsa
"Baru aja, ada apa?" Tanya Elsa langsung pada intinya
"Gue cuma butuh teman curhat aja."
"Emang ada apa?"
"Tadi setelah pulang sekolah, Daddy tiba tiba nampar gue karna dia tahu gue habis nampar Laura di sekolah." Ucapnya penuh kesedihan
"Apa lo cerita semuanya?"
"Laura, dia memutar balikkan fakta, dan Daddy lebih percaya sama dia."
"Sudah gue duga, mana mungkin dia berkata jujur." batin Elsa
"Sekarang lo tahu kan, sifat adik lo sebenarnya."
"Hmm.. Ternyata dia sangat licik, kenapa dulu gue sempet berpikir dia baik." Keluh Dave
"Itu emang lo nya aja yang naif." Sinis Elsa
"Lo bener, gue terlalu naif, sampe gue gak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."
"Mungkin yang lo rasakan saat ini, sama seperti perasaan adik lo waktu itu."
"Tapi waktu itu, gue belum tahu siapa yang salah."
"Kalo ternyata adik lo yang benar, apa yang akan lo lakuin?
"Gue akan minta maaf sama mereka berdua."
"Heh.. Minta maaf? Lo pikir setelah apa yang lo lakukan pada mereka, Mereka akan memaafkan lo dengan mudah gitu?" Ucap Elsa tersenyum sinis
"Mungkin itu akan sulit bahkan sangat sulit. Tapi gue akan melakukan apapun agar mereka mau memaafkan gue."
"Bagaimana jika mereka ingin balas dendam sama keluarga lo?"
"Gue akan membantu mereka jika memang itu yang terbaik."
"Bagaimana jika mereka sampai ingin membunuh?" Tanya Elsa bertubi tubi
"Kalo itu... Ehh.. Tunggu, kenapa lo jadi banyak tanya?" Dave tersadar jika Elsa dari tadi terus menerus bertanya padanya
"Gue penasaran aja." Jawabnya santai
"Udahlah jangan bahas itu lagi. Mending kita pesen makanan, gue laper." Dave mengalihkan pembicaraan agar Elsa tidak bertanya lagi dan hanya di jawab anggukan dari Elsa.
Elsa yang juga tidak ingin membuat Dave curiga, akhirnya diam dan tidak bertanya lagi.
Mereka berdua segera memesan makanan, setelah makanan datang mereka segera menyantapnya dan hanya ada dentingan sendok di meja itu.
Selesai makan, mereka keluar cafe untuk segera pulang ke mansion, tapi saat di parkiran cafe, Elsa bingung karena tidak melihat mobik Dave.
"Gak ada, tadi gue naik taxi."
"Taxi? Sejak kapan lo naik taxi?"
"Mungkin sekarang dan seterusnya gue akan naik Taxi terus."
"Kenapa bisa gitu?" Tanya Elsa yang masih bingung
"Semua fasilitas gue di cabut Daddy, karna gue gak mau minta maaf sama Laura."
"Gue antar lo pulang." Tawar Elsa
"Gue bisa sendiri."
"Udah, masuk aja." Akhirnya Dave pun menyetujuinya dan mereka segera memasuki mobil, dengan Elsa yang menyetir mobilnya.
Dalam mobil mereka hanya ada hening. Elsa mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu sembari fokus kedepan karena sedang menyetir. Setelah selesai Elsa memasukkan ponselnya kembali.
"Nanti depan belok kiri." ucap Dave menunjukkan arah
"Gue udah tahu."
"Loh, kok lo tau dimana mansion gue, padahal gue gak ngasih tau lo." Tanya Dave bingung karena dia belum memberitahu
"Siapa sih yang gak tahu mansion keluarga Fernandika."
"Hehee... Iya gue lupa."
Elsa terus melajukan mobilnya menuju mansion Dave.
Sesampainya di Mansion..
Elsa hanya mengantarkan Dave sampai depan pagar mansion.
"Makasih yah, lo mau mampir dulu?" Tanya Dave setelah mereka turun dari mobil
"Gak ah, males."
"Males ketemu manusia ular itu." batin Elsa
Saat mereka ngobrol tiba tiba ada sebuah sport keluaran terbaru berhenti disana, dan seseorang yang keluar dari mobil itu menghampiri mereka.
"Nona, ini mobilnya." Ucap orang itu memberikan kunci mobil pada Elsa
"Terimakasih, kamu boleh kembali." Orang itu hanya mengangguk kemudian pergi dari sana bersama temannya yang tadi naik motor
"Nih.. buat lo." Elsa memberikan kunci mobil itu pada Dave
"Gue? kenapa buat gue?"
"Kalo semua fasilitas lo di cabut, berarti lo gak bisa naik mobil ke sekolah dong. Udah terima ini." Elsa langsung memaksa Dave untuk menerimanya
"Tap-."
"Gue gak nerima penolakan. Gue pergi dulu."
"Eh tunggu, Emm.. Apa gue boleh meluk lo?" Tanya Dave hati hati dan Elsa hanya mengangguk
Greb
Dave memeluknya dengan erat.
"Gue kangen pelukan lo bang." batin Elsa kemudian membalas pelukan Dave
"Kenapa rasanya nyaman sekali, seperti memeluk Sandra dan Vanda." Batin Dave
Dave pun melepas pelukannya.
"Makasih yah." Ucap Dave tersenyum
"Hmm.." Hanya deheman dari Elsa kemudian Elsa menatap semua penjuru mansion dengan intens.
"Mansion ini penuh kenangan dengan mommy, dan gue akan merebut semua kenangan itu kembali." batin Elsa
Elsapun langsung masuk ke mobilnya dan melajukannya menjauhi mansion besar itu.
"Rasanya gue sangat nyaman deket sama lo dan adik lo, entah perasaan apa ini, yang jelas bukan seperti cinta pada lawan jenis tapi seperti rasa sayang pada adik." Ucap Dave melihat mobil Elsa yang sudah jauh.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa kasih Likenya yaa...
Salam manis dari author**...