
Skip pagi hari...
Di Kediaman Fernandika...
Di meja makan keluarga, terlihat Hendrik, Risa dan Laura sedang menikmati sarapannya. Sesaat kemudian Dave turun dari lantai atas dan berniat langsung pergi ke sekolah.
"Sarapan dulu Dave." Ucap Risa yang hanya melihat punggung Dave
"Di sekolah aja." Jawabnya singkat tanpa menoleh ke belakang
"Kamu berangkat sama supir." Ucap Hendrik
"Gak, Dave pake mobil sendiri." Dave kini sudah membalikkan badan menghadap keluarganya
"Kamu ingat kan, fasilitas kamu sudah Daddy ambil."
"Ingat. Tapi ini emang mobil Dave."
"Dapet darimana kamu?"
"Dari Elsa Dad." Bukan Dave yang menjawab melainkan Laura, Karena pada saat itu Laura melihat semuanya
"Daddy minta kamu kembalikan mobil itu dan jauhin dia. Dia itu bawa pengaruh buruk buat kamu." Hardik Hendrik yang sudah berdiri dari duduknya begitupun yang lain
"Dave mau temanan sama siapapun itu hak Dave bukan hak Daddy. Lagian Elsa baik kok, tidak seperti dia." Sinis Dave menatap Laura.
"Dave, Laura itu adik kamu. Harusnya kamu bela dia bukan yang lain." Ucap Risa yang sedari tadi hanya diam
"Dave bakal membelanya jika dia benar, tapi nyatanya dia emang salah."
"Dan yah, Entah kenapa sekarang Dave merasa ada yang menjanggal tentang kematian mommy." Tambah Dave yang tiba tiba membahas yang lain
"Ap-apa maksud kamu?" Tanya Risa sedikit gugup
"Kenapa mommy keliatan gugup? apa jangan jangan emang ada sesuatu?" Tanya Dave penuh selidik
"Mommy tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Risa mengalihkan pandangannya dari tatapan Dave
"Oh yah? Tapi rasanya emang aneh, masa iya seorang anak kecil berniat ingin membunuh orang dewasa? Bukankah itu tidak masuk akal?" Tanya Dave sinis membuat Risa makin panik
"Bang Dave apa apaan sih, apa bang Dave nuduh mommy pelakunya?" Laura sudah mulai emosi melihat mommynya di tuduh
"Lo gak tau apa apa, jadi diem aja." Hardik Dave
"Oh Gue tau, ini pasti karna Elsa sama Rosa kan yang udah cuci otak bang Dave."
"Ck.. Ini sama sekali gak ada hubungannya sama mereka."
"Terus kenapa bang Dave mempermasalahkan itu lagi, bukankah sudah jelas Vanda pelakunya."
"Waktu itu kita semua gak melihatnya langsung kan? Dan disana hanya ada mommy lo dan Vanda, bisa jadi itu akal akalan mommy lo yang buat Vanda jadi kambing hitam."
Plakk
Satu tamparan di pipi Dave yang di berikan Daddynya sendiri.
"Cukup Dave!! Daddy gak suka kalo kamu terus terusan menyalahkan mommy kamu." Marah Hendrik karena melihat Risa sudah menangis, padahal itu adalah air mata buaya
"Mulai sekarang dia bukan lagi mommy Dave, mommy Dave hanya mommy Manda, tidak ada yang lain." Ucap Dave yang tersulut emosi
"Rupanya mereka benar sudah mencuci otak kamu, sehingga kamu sekarang jadi pembangkang." Ucap Hendrik
"Berhenti menyalahkan mereka, ini gak ada sangkut pautnya sama mereka."
"Sudahlah, Dave cape untuk debat sama kalian." Finish Dave langsung pergi dari sana
"Dave berhenti..." panggil Hendrik tapi hanya di anggap angin berlalu sama Dave.
"Dad, ini semua gara gara Elsa dan Rosa. Daddy harus kasih pelajaran sama mereka." Ucap Laura ngompor ngomporin ayahnya
"Daddy akan menemui mereka."
Melihat keadaan mansion kosong, Risa langsung menuju kamarnya.
Di Kamar Risa..
Risa terlihat sangat frustasi menghadapi masalah yang ada.
"Haahh... Kenapa mereka harus selamat, dan sekarang Dave mulai curiga sama aku tentang kematian mommynya." Ucapnya frustasi
"Aku harus cari cara lagi buat nyingkirin mereka karna mafia kemarin yang aku kirim gagal." Tambahnya lagi
Risa pun mengambil ponsel milknya kemudian menelpon seseorang yang ia kenal.
"Kamu gimana sih, kenapa mereka semua gak becus buat nyingkirin dua orang aja."
^^^"Kemarin mereka ada yang membantu, dan mereka juga jago beladirinya."^^^
"Sekarang, Aku gak mau tahu, Kamu harus cari orang lagi yang lebih berpengalaman dan tentunya tak terkalahkan."
^^^"Sebernarnya ada, tapi itu akan sulit, karna mereka tidak mudah menerima tugas yang diajukan orang lain."^^^
"Kamu bilang aja, bayarannya tinggi. Dan nanti aku sendiri yang akan meminta bantuannya."
^^^"Apa kamu serius?"^^^
"Iya, kamu atur jadwalnya, biar aku yang melakukannya." Ucap Risa kemudian memutuskan sambungan secara sepihak.
"Aku harus segera nyingkirin mereka, sebelum semuanya terbongkar." Ucap Risa penuh amarah.
"Kali ini aku pastikan semuanya akan berjalan lancar." Ucapnya lagi dengan senyum devil khasnya.
Di Sekolah...
Semua siswa sedang mengikuti pelajaran yang di berikan guru mapel dengan tenang tanpa membuat kegaduhan dalam kelas.
Tak terasa waktu terus berlalu, hingga sekaranh waktunya untuk istirahat.
Kring.. Kring.. Kring..
Bel Istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah kerocongan dari tadi.
Ya seperti biasanya Elsa dkk akan duduk bersama Frans dkk, itupun di meja kramat mereka, karena tidak pernah berganti ganti tempat.
"Ehh.. Kalian tau nggak.." Ucap Romi kepada semua teman semejanya di sela sela makannya
"Nggak." Ucap Frans ketus memotong ucapan Romi
"Gue belum selesai ngomong ogeb, dengerin dulu makanya." Kesal Romi
"Kalian tau kedua perusahaan besar di dunia kan?" Tanyanya yang di angguki temannya
"Katanya bulan depan itu ulang tahun kedua perusahaan besar itu tau." Tambahnya
"Terus kenapa?" Tanya Dave
"Denger denger mereka akan membuat pesta semeriah mungkin dan yang paling mengejutkan, kalian tau apa itu?" Tanya Romi menatap semua temannya
"Apa?"
"Mereka...."
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa kasih Likenya yaa...
Salam manis dari author**...