
Keesokan harinya...
Hari ini Elsa memutuskan untuk berangkat sekolah, Karena kemarin dia dan temannya sudah tidak berangkat sekolah dan dia juga tidak mau terlalu larut dalam kesedihan setelah kehilangan Justin, Orang yang dicintainya.
Sesampainya di sekolah, tentu saja mereka berdua menjadi pusat perhatian, tapi kali ini selain ada yang memujinya, banyak juga yang merasa kasihan pada Elsa karena mereka semua menyaksikan kejadian itu secara langsung dan tahu pasti bagaimana perasaan Elsa saat itu.
"Elsa..." Ada yang memanggil nama Elsa dari belakang membuat Elsa dan Rosa berhenti untuk melihat kebelakang
"Kak Frans." Gumam mereka berdua
"Lo berangkat hari ini?" Tanya Frans saat sudah berada di depan Elsa
"Seperti yang lo liat."
"Lo yang ku-."
"Jangan membahas itu sekarang." Potong Elsa karena dia tahu ke arah mana Frans akan bicara
"Iya maaf. Oh ya, gue mau ngajak lo ke pasar malam, lo mau ikut gak?"
"Eng-."
"Pasti mau kok kak." Rosa langsung menjawab ajakan Frans membuat Elsa menatapnya tajam
"Okeh, Kalo gitu gue jemput lo jam tujuh malam. Bye." Finish Frans langsung pergi dari sana
Elsa yang kesal langsung mencubit Rosa.
"Aauu... Sakit.. Kenapa sih?" Tanya Rosa tanpa muka berdosa
"Kenapa lo bilang? Maksudnya apa main setuju aja." Kesal Elsa
"Ya gak papa kali, kan sekalian refreshing."
"Tapi gak sama dia juga, yang ada bukan refreshing tapi tambah darah tinggi. Lo tau kan dia tuh orangnya ngeselin pake banget."
"Menurut gue Kak Frans baik kok, mungkin lo harus lebih terbuka lagi sama dia, biar lo tahu kebaikan kak Frans." Jelas Rosa
"Gue tahu dia baik, plus ngeselin." Ucap Elsa menekankan kata terakhirnya kemudian langsung berlalu meninggalkan Rosa sendiri
"Ehh.. tungguin." Seru Rosa sembari menyusul Elsa
Skip Istirahat sekolah...
Seperti sudah menjadi tradisi, Elsa dkk selalu satu meja dengan Frans dkk. Selama makan hanya ada hening di antara mereka, karena mereka juga tidak ingin membuat mood Elsa berantakan setelah kejadian kemarin.
Brakk..
Tiba tiba meja mereka di gebrak oleh seseorang, siapa lagi kalo bukan mak lampir sekolah yaitu Laura dan antek anteknya.
"Heh.. Justin meninggal gara gara lo." Bentak Laura pada Elsa
"Maksud lo apa?! Jangan pernah nuduh kakak gue macem macem." Kecam Rosa yang langsung emosi, entah kenapa dia bisa emosi padahal biasanya dia akan menahannya terlebih dahulu
"Gue ga nuduh, emang iyakan kakak lo penyebab kematian Justin."
"Eh.. Lo buta ya, jelas jelas kemarin kakak gue gak ngapa ngapain Justin."
"Tapi Justin celaka karna nolongin dia." Ucap Tari
"Lo gak usah ikut campur, lo mau aja di perbudak sama dia." Ucap Rosa tersenyum sinis pada Tari
"Jaga ya bicara lo." Hardik Laura
"Lo yang jaga mulut lo, baru dateng main bentak aja, kalo lo gak tau apa apa mending Diem." Ucap Rosa menekankan kata terakhirnya
"Gue tahu semuanya, kakak lo itu emang pembunuh, dia yang udah bunuh Justin."
Plak..
Melihat itu Rosa dan Elsa tersenyum puas kemenangan. tapi posisi Elsa masih duduk sedangkan yang lain sudah berdiri.
"Bang Dave nampar gue?" Tanya Laura memegang pipinya yang memerah
"Iya, karna lo udah keterlaluan."
"Tapi gue gak melakukan kesalahan bang."
"Lo gak tahu akar masalahnya jadi jangan main tuduh orang." Hardik Dave
"Dia emang salah bang, dia yang udah buat Justin meninggal. Dia pembawa sial. Dia pembunuh." Marah Laura menunjuk Elsa, sedangkan yang di tunjuk seolah tidak terjadi apa apa.
Plakk..
Satu tamparan mendarat dipipi Laura lagi yang juga disebabkan Dave, abangnya sendiri.
"Cukup Laura, Cukup. Kali ini lo udah kelewat batas." Bentak Dave
"Sekarang lo minta maaf sama Elsa." Perintah Dave
"Dia yang salah, dia yang mulai duluan. harusnya dia yang minta maaf sama gue." Marah Laura
"Salahnya dimana coba, jelas jelas kak Elsa dari tadi diem aja, bukannya lo yang dateng main gebrak meja dan asal nuduh orang aja." Ucap Rosa tersenyum sinis dengan tangan terlipat di perutnya
"Diem lo. jangan pernah coba komporin bang Dave." Hardik Laura
"Gue gak ngomporin abang lo, gue cuma ngomong sesuai fakta yang ada." Ucapnya santai
"Rosa bener, dari tadi juga Elsa gak gak ngapa ngapain, lo aja yang salah." Timpal Ryan memojokkan Laura
"Ini semua karna lo." Hardik Laura hendak menampar Rosa tapi tangannya di cekal oleh seseorang.
"Jangan sentuh adik gue." Kecam orang itu tak lain adalah Elsa
"Lepasin tangan gue." Laura memberontak dari genggaman Elsa tapi usahanya sangat sia sia
"Kalo gue gak mau gimana?" Ucap Elsa tersenyum sinis
"Kak Dave, apa lo ga pernah ngajarin adik kesayangan lo ini sopan santun, hmm?" Tanya Elsa pada Dave lalu menghempaskan kasar tangan Laura
"Aaauuu.." Laura meringis kesakitan kerena Elsa sangat kuat menggenggamnya hingga tangannya memerah
"Gue minta maaf sama kalian atas nama adik gue." Ucap Dave merasa bersalah
"Udah basi, lo sering minta maaf tapi adik lo masih sama aja kelakuannya." Elsa tersenyum sinis pada Dave dan Laura
"Harusnya lo lebih tegas sama adik lo, supaya dia gak ngelunjak." Timpal Rosa
"Ehh.. denger ya gu-.."
"Cukup Laura. apa lo belum puas terus menerus mencelakai Elsa? Gue udah tau semua kebusukan lo." Bentak Frans yang sedari hanya diam
"Gue udah tahu kalo selama ini lo sering menyewa preman untuk mencelakai Elsa, iyakan?" Tanya Frans berusaha menahan emosinya
"Apa?! preman? Laura apa itu benar?" Tanya Dave pada Laura yang sedang dia seribu bahasa
"Maling mana ada yang mau ngaku, kalo ngaku penjara penuh." Celetuk Maya tersenyum sinis.
**Bersambung...
...----------------...
Jangan lupa kasih Likenya yaa...
Salam dari author**...