
"Maafin papah Dylan". Papahnya Dylan sontak memeluk Dylan tanpa disuruh dengan tangisan menyesalnya.
Dylan ikut menangis akhirnya merasakan juga kehangatan pelukan dari seorang papah kandungnya yang selama ini sempat hilang.
"Papah menyesal sudah menganggap kamu yang bukan bukan ,itu semua karena papah belum bisa menerima kematian bunda kamu".
Seisi rumah ,Cinta ,Dylan, papahnya Dylan ,mamahnya Dylan, pembantu,maupun penjaga rumahpun meneteskan air mata . Apalagi pekerja rumah yang sudah berkerja dari kecil Dylan hidup juga sangat terharu menyaksikan kejadian yang selama ini mereka harapkan ,bagi mereka tuannya itu terlalu kasar kepada anaknya sendiri.
"Papah mau terima Cinta dan anak Dylan kan?". Lagi lagi Dylan bertanya seperti itu.
"Kenapa engga? Papah dan mamah selalu terima apapun yang kamu minta sekarang". Jawab papahnya Dylan.
Mamahnya Dylan membawa Dylan dan juga Cinta ke kamar lamanya Dylan yang kosong,papahnya juga ikut.
"Kamu anak baik nak ,terima kasih sudah menyadarkan kami soal Dylan". Mamah Kavita mengelus pipi mulusnya Cinta.
"Terima kasih ,Cinta senang akhirnya Dylan mendapatkan hal yang seharusnya dia rasakan". Jawab Cinta lalu tersenyum kearah Dylan.
"Oiya ,papah dan mamah kamu gimana ? Udah tau soal ini?''. Tanya mamah Kavita lagi.
"Terus mamah kamu?". Ucap mamah Kavita.
"Dia pasti tau ko ,mamah pasti udah ngeliatin Cinta dari jauh... Bersama bunda Yoona mungkin". Lanjut Cinta lalu menundukkan kepalanya.
"Mamah kamu udah meninggal?". Tanya iba mamah Kavita.
"Iya ,tepatnya setelah dia ngelahirin Cinta ,sama seperti bunda Yoona ,meninggal sehabis melahirkan anaknya ke dunia".
"Sakit atau apa?". Celetuk papah Danu.
"Sakit gagal hati dan leukimia". Jawab cepat Cinta.
"Yasudah jangan terlalu di bebani ,kamu kan sekarang punya mamah dan papah ,mamah dan papahnya Dylan juga mamah dan papahnya kamu". Mamah Kavita memeluk Cinta.
"Terima kasih". Jawab Cinta membalas pelukannya.