That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 8



Mereka semua terlarut dalam cerita dan bercanda bersama , hingga waktu semakin larut dan mereka memutuskan beristirahat di kamar masing-masing.


Adel berjalan ke arah kamar belakang , ia sudah sangat lelah ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur.


Tetapi baru saja ia akan membuka pintu , tubuh nya melayang karena di angkat oleh seseorang.


"Ahhhh" teriak Adel karena kaget.


"Jangan berisik" ucap Kafka.


Ya yang mengangkat Adel adalah Kafka , ia ingin berbincang terlebih dulu bersama Adel.


Kafka membawa Adel ke ayunan yang di halaman belakang agar mereka bisa santai.


"Ka mau kemana? Udah malam" protes Adel dengan memukul lengan Kafka.


"Kita berbicara dulu ya sebentar" pinta Kafka.


Adel mendesahh panjang dan mengiyakan keinginan Kafka.


Sesampainya di ayunan , Kafka menurunkan Adel dan mereka berdua duduk dengan berdampingan.


"Ada apa Ka? Apa kamu menyesal akan pengakuan mu tadi?" tanya Adel dengan takut.


Pletak


Kafka menyentil dahi Adel dengan gemas.


"Sakit" gerutu Adel dengan wajah cemberut.


Kafka terkekeh lalu mengusap lembut dahi Adel.


"Aku tidak menyesal, Del. Bahkan aku sangat bahagia sekali. Terimakasih banyak , selama ini kau selalu ada buatku , perhatian bahkan kau merelakan waktu istirahatmu demi hanya untukmu. Dan maafkan aku karena aku baru menyadarinya saat ini" ucap Kafka lembut.


Adel hanya tersenyum dengan menatap manik mata Kafka yang penuh dengan kejujuran dan ketulusan.


"Aku tidak apa, Ka. Kau tau , aku sempat tidak percaya bahwa aku sangat menyayangimu , aku merasa sangat jauh berbeda antara aku dan kamu , Ka. Tetapi hatiku tidak bisa bohong aku tetap saja menyayangimu , bahkan saat kau tidak membalas perasaan ku pun aku sabar dan aku mencoba memendam semuanya. Tetapi sekarang? Aku lebih sangat bahagia saat kamu membalas semuanya. Terimakasih sayang" ucap Adel dengan lirih di akhir ucapannya.


Kafka terkekeh melihat wajah malu Adel saat menyebutnya dengan sayang.


"Hei coba sebutkan lagi" goda Kafka


Adel semakin malu dan ia memeluk Kafka dengan menyembunyikan wajah nya di dada Kafka.


"Hahaha hei aku suka sekali dengan nama panggilan itu" ucap Kafka kembali nada menggoda.


"Kaaaaaaaa" rengek Adel dengan malu.


Kafka tertawa dan memeluk Adel dengan sayang.


"Terimakasih , aku sangat sangat mencintaimu sayang" ucap Kafka penuh dengan kelembutan.


Adel mengeratkan pelukannya menyalurkan rasa bahagia nya.


Lalu mereka kembali berbincang hangat bahkan Adel sudah merebahkan kepalanya di pangkuan Kafka.


Milsi sejak tadi ada disana bahkan ia menitikan air mata bahagia melihat Kakaknya yang sangat bahagia.


"Aku senang Kak, semoga kebahagian selalu bersamamu. Ayah dan Ibu pasti sangat bahagia melihat senyum bahagia itu hadir kembali di wajahmu" gumam Milsi.


Lalu Milsi pergi dari sana , ia akan melanjutkan kembali tidurnya.


Sedangkan Adel , ia tertidur di pangkuan Kafka , Kafka tersenyum kecil melihat Adel yang kelelahan.


Kafka membawa Adel ke kamarnya dan menidurkannya di kasur king size miliknya. Setelah menidurkan Adel , Kafka lalu merebahkan tubuhnya di samping Adel.


Mereka tertidur dengan Kafka memeluk Adel dengan lembut. Kafka mencium kening Adel sebelum terlelap tidur.


****


Pagi hari nya Adel bangun lebih dulu dan menggeliat pelan karena merasa tubuhnya sangat berat.


"Uhhh yaampun aku ketiduran dan Kafka malah membawa ku kemari bukannya ke kamarku" gerutu Adel.


"Jangan menggerutu ini masih pagi" ucap Kafka yang masih memejamkan mata.


"Awas dulu Ka, nanti Oma dan Opa tau aku malu" ucap Adel


"Hmmmm" dehem Kafka lalu melepaskan Adel.


Adel bangun dan langsung berlari keluar kamar Kafka. Kafka hanya terkekeh dan ia juga ikut bangun.


Semua orang sudah berkumpul di ruang makan , bahkan Adel dan Milsi pun ikut serta disana. Para Art tidak merasa iri maupun pilih kasih melihat Milsi dan Adel makan satu meja dengan majikannya , bahkan mereka merasa bahagia melihat Kakak dan Adik itu bahagia.


Dengan telaten Adel mengambilkan makanan untuk Kafka dan dirinya. Sang Oma tersenyum melihat bagaimana Adel mengerjakan tugasnya dengan sangat lihai.


Lalu mereka sarapan dengan tenang dan damai, mereka sangat menikmati sarapannya.


Milsi maupun Adel tidak canggung karena mereka sudah beberapa kali ikut ke mansion Pramudya.


Setelah selesai sarapan , Kafka dan Adel langsung pergi untuk melakukan Fitting dan membeli Cincin.


Sedangkan Rendi , Elga dan Ayah Antoni pergi memantau Hotel yang akan di pakai besok acara. Bahkan anak buah mereka sudah menyebar di berbagai sudut untuk mengawasi berjalannya pekerjaan mereka.


Rendi benar-benar mengatur agar acara nya berjalan dengan sangat lancar dan tanpa kendala.


Bahkan Elga dan Antoni sangat kagum dengan kerja Rendi. Tak jarang Kafka dan Rendi memenangkan tander besar atas kolaborasi kecerdasan mereka.


.


.


.