That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 35



Pagi hari nya semua sudah kumpul di meja makan. Bahkan Qilla sudah lengket kembali dengan Adel.


Mereka makan dengan sangat tenang, kecuali Qilla yang memang suka bikin suasana rusuh.


"Kak, suapin dong" pinta Qilla pada Adel.


"Sini piringnya" ucap Adel lembut.


Kafka hanya mendelik saja pada sang Adik yang selalu bikin mood nya ancur.


"Mom, besok Mommy saja ya yang ke sekolah Isel" ucap Adel


"Iyaa sayang, kamu istirahat saja sama Oma" balas Ayu lembut.


"Iya kamu jangan capek-capek" timpal Oma Rahma.


Adel hanya mengangguk dan terus saja menyuapi Adik iparnya.


Setelah semua selesai sarapan, mereka langsung pergi dengan urusannya masing-masing.


Begitupun dengan Ayu , Milsi dan Qilla mereka akan pergi ke Butiq dan ke WO untuk acara pernikahan Milsi.


Sedangkan Adel ia akan di Rumah dengan Oma dan Opa nya.


"Bun, aku pergi dulu ya" pamit Ayu dengan mencium pipi Rahma.


"Hati-hati" balas Rahma


"Sayang, Mom pergi dulu ya. Kamu jangan kecapean ya" ucap Ayu mencium pucuk kepala Adel.


"Hati-hati Mom" balas Adel lembut.


Ayu mengangguk dan berjalan keluar dari Rumah. Ia akan pergi di antar oleh Elga. Setelah kepergian yang lainnya, Adel dan Oma Rahma langsung beranjak ke gazebo belakang untuk bersantai.


"Oma bakal lama gak disini?" tanya Adel dengan sibuk sama camilan.


"Tidak sayang, Oma lusa juga sudah pulang" jawab Rahma.


"Loh kok sebentar saja sih. Kan sebentar lagi pernikahan Isel" ucap Adel berhenti mengunyah.


"Iyaa sayang, karena disana juga ada sanak saudara Opa mu yang sedang sakit" balas Rahma lembut.


"Yaudah gapapa deh" ucap Adel pasrah.


Rahma dan Adel bercerita tentang masa kecil Kafka, bahkan Adel dengan sangat antusias mendengarkannya.


***


Sedangkan di Butiq, Ayu dan Milsi sedang memilih gaun yang akan di pakai besok saat wisuda oleh Milsi.


Ayu dengan antusias memilihkan beberapa gaun yang sangat indah dan elegant.


Tetapi Milsi memilih gaun yang sederhana jauh dari kesan mewah nya. Ayu tidak bisa berbuat apa-apa karena Milsi sudah memilih dengan yakin.


"Mom, dimana Qilla?" tanya Milsi


Ayu hanya tersenyum dan menunjukan Qilla yang sedang memilih pakaian, padahal di keranjang nya sudah banyak yang ia pilih.


"Yaampun Qilla" ucap Milsi dengan menggelengkan kepala.


Qilla langsung menengok dan cengengesan saja. Ia menyudahi belanja nya dan langsung ke kasir.


"Hehe mumpung sama Mommy, Kak" ucap Qilla berbinar.


Milsi hanya memutar bola mata nya malas, ia merasa salut pada Qilla, padahal baju-baju itu akan ia sumbangkan pada panti asuhan.


Setelah selesai di Butiq, Ayu membawa mereka ke tempat WO yang akan menangani pernikahan Milsi.


***


"Pengen makan martabak" gumam nya.


Lalu Adel meraih ponsel yang ada di nakas di pinggir ranjang.


*Tuttt


Tuttt


Tuttt*


Panggilan Adel sama sekali tidak di angkat oleh Kafka. Bahkan Adel sudah beberapa kali mencoba nya.


"Mas Kafka kemana ya" gumam Adel lirih.


"Yaampun kenapa pengen sekali makan martabak" gumam Adel kembali.


Hufth. Helaan nafas Adel terdengar sangat sedih saat ia mencoba beberapa kali menelpon sang suami.


"Yaudah lah nyuruh suami Bi Imah aja" ucap Adel bangun dari tidurannya.


Adel keluar kamar dan langsung turun. Ia sudah sangat ingin memakan martabak.


"Bi, Bi Imahh" panggil Adel.


"Iyaa Non" jawab Bi Imah dari arah belakang.


"Bi , tolong belikan martabak ya sama suami Bibi. Aku ingin sekali martabak" titah Adel dengan menahan ludah nya.


Bi Imah tersenyum lalu menganggukan kepala nya.


"Ini uangnya, Bi" ucap Adel memberikan uang selembar berwarna merah.


"Aku ingin martabak manis dan telur. Terus belikan juga untuk yang lainnya" ucap Adel kembali.


"Siap, Non" balas Bi Imah.


Lalu Adel pergi ke kamar nya kembali. Ia mendengar ponsel nya yang berbunyi.


"CK, sudah tidak butuh sekarang mah" kesal Adel saat melihat siapa yang menelponnya.


Adel lalu mematikan panggilannya dan juga ponselnya. Ia duduk di balkon kamar menunggu suami Bi Imah membelikannya martabak.


"Awas saja jika pulang, aku akan cuekin" gumam Adel kembali dengan kesal.


Ia membaca buku tentang kehamilan agar tidak bosan dan menambah pengetahuannya.


-Perusahaan Ardmaja.


Sedangkan di Perusahaan, Kafka sedang uring-uringan karena ponsel Adel tidak aktif.


"Yaampun sayang, kenapa buat aku khawatir saja" gumam Kafka.


Lalu ia kembali menelpon Adel tetapi tidak aktif. Kafka bangun dan memasangkan jas nya.


Kafka berjalan keluar ruangannya, lalu ia masuk ke ruangan Rendi.


"Gue akan pulang, undur jadwal meeting nanti" ucap Kafka


Setelah berbicara seperti itu , Kafka langsung pergi dari ruangan Rendi.


Sedangkan Rendi menatap bingung Kafka yang sudah pergi dari ruangannya.


.


.


.