That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 29



Sedangkan di kantor, Rendi merasa sangat bahagia saat kedatangan sang Kekasih. Ia bahkan memesan beberapa camilan dan minuman agar Milsi tidak bosan.


"Abang, aku tidur ya" ucap Milsi yang memang agak lelah.


Rendi menatap ke arah Milsi, lalu ia bangun dan menghampiri Milsi.


"Yaudah kamu tidur di kamar pribadiku" balas Rendi.


Lalu Rendi mengajak Milsi ke kamar Pribadi nya, setelah mengantarkan Milsi ia kembali bekerja.


"Uhhh aku harus cepat-cepat nikahin, Isel" gumam Rendi menghela nafas.


Memang ruang kerja Rendi di pasilitasi kamar pribadi oleh Kafka. Kafka tahu bahwa kadang-kadang mereka harus lembur atau bahkan menginap di kantor.


Rendi langsung mengerjakan kembali beberapa berkas yang memang sudah setengah nya ia kerjakan.


Sedangkan Milsi ia baru saja keluar dari kamar mandi, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk tersebut.


"Huhh aku rasa sangat lelah hari ini, tinggal beberapa hari lagi aku lulus" gumam Milsi.


"Aku tidak akan kuliah, tidak apa menikah muda juga yang penting Bang Rendi menyayangiku" gumam nya kembali.


Perlahan mata nya menutup dan ia tertidur dengan dengkuran halus dari mulutnya.


-Mansion Kafka.


Adel dan Kafka baru saja sampai di Mansionnya, mereka langsung masuk dan duduk di ruang keluarga.


"Apakah Mommy dan Daddy akan lama disana, Mas?" tanya Adel. Pasalnya Ayu dan Elga langsung terbang untuk menjenguk Qilla.


"Tidak tahu, mungkin hanya 1 minggu saja soalnya kan minggu besok Milsi wisuda dan Qilla juga libur. Mommy pasti akan cepat kembali apalagi tau kamu sedang hamil" jawab Kafka lembut.


Adel memeluk tubuh sang suami dengan sayang. Ia selalu merasa sangat hangat bila memeluk suami nya.


"Istirahat nya di kamar ya" ucap Adel menatap manik mata Kafka.


"Iya , kamu juga istirahat ya. Biar Bi Imah yang memasak, jangan membantah" tegas Kafka.


Adel hanya mengangguk patuh saja, ini juga demi dirinya dan calon babby.


"Iyaa mamasku sayang" ucap Adel dengan senyum menggoda.


"Jangan menggodaku sayang, aku sedang lemas saat ini" balas Kafka kesal.


Dengan senyum mengembang Adel langsung duduk di pangkuan Kafka dan memeluk tubuh Kafka.


Tangan lentik Adel menggambar abstrak di dada bidang Kafka, ia sangat senang melihat wajah Kafka yang sedang menahan sesuatu.


"Sayang" ucap Kafka dengan menatap Adel gemas.


Adel langsung duduk di bawah dan langsung tertawa renyah.


"Ampun ya, Mas" ucap Adel dengan mengelus lembut rahang Kafka.


"Sayang jangan menggodaku terus, aku hampir gila menahannya" kesal Kafka dengan mencium gemas pipi Chubby sang Istri.


Gelak tawa Adel terdengar sangat bahagia, lalu ia memeluk kembali tubuh tegap sang suami.


"Maaf ya, sayang" ucap Adel lembut.


"Hmmm" balas Kafka dengan membalas pelukan Adel.


Kafka mencium pucuk kepala Adel dengan sayang, ia sangat bahagia bersama Adel. Apalagi sebentar lagi akan hadir sang buah hati yang akan mengisi hari-hari mereka.


"Tuan, Nyonya apa akan makan malam sekarang?" tanya Bi Imah.


"Siapkan saja ya, Bi. Kami masih menunggu Rendi dan Milsi" balas Adel ramah.


Adel hanya mengangguk dengan senyum manisnya. Lalu ia merebahkan kembali kepala nya pada dada bidang Kafka.


Lama mereka saling memeluk dengan hening tanpa bicara.


Terdengar dari arah luar derap langkah yang semakin mendekat.


"Yaampun kalian, katanya sakit tapi masih bisa bermesraan" ketus Rendi yang baru saja tiba dengan Milsi.


Adel hanya diam saja dan melepaskan pelukan nya perlahan.


"Kalau iri bilang saja" ucap Kafka santai.


Rendi hanya mendelik saja dan langsung membawa Milsi ke ruang makan. Sedangkan Adel hanya menggelengkan kepala saja melihat kelakuan calon Adik ipar dan Suami nya.


Lalu Adel mengajak Kafka ke ruang makan. Bahkan Kafka memeluk pinggang ramping Adel.


Mereka langsung saja duduk di kursi masing-masing dan memulai makan malam nya dengan hening.


"Aku nginep disini ya, Kak" ucap Rendi memelas.


"Tidak boleh" tolak Kafka cepat.


"Ishhh aku tidak akan macam-macam. Lagian kita harus membahas pekerjaan kan, Kak" bujuk Rendi kembali.


Kafka mendengus kesal dan menganggukan kepala nya. Ia juga baru ingat jika ada berkas yang harus mereka bahas.


"Tidak ada kerja malam ini, kamu harus istirahat" tegas Adel dengan menatap tajam Kafka.


Glek.


Kafka langsung menelan ludah kasar dan mengangguk patuh. Sedangkan Rendi ia langsung pura-pura tidak tahu.


Setelah selesai makan malam, Adel langsung menyuruh Kafka masuk ke kamarnya.


"Awas kalau kalian macam-macam aku akan memberi pelajaran yang tak terduga" ancam Adel pada Milsi dan Rendi yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Iya Kak" patuh Milsi menunduk takut.


Lalu Adel pergi ke lantai atas, ia akan istirahat dengan sang suami dan ia juga akan memastikan bahwa Kafka istirahat malam ini.


Setelah kepergian Adel, Rendi langsung meminta Milsi menemani nya mengerjakan pekerjaan yang ia bawa ke Mansion sang Bos.


"Aku buatkan kopi ya, Bang?" tawar Milsi


"Boleh, dengan camilan ya sayang" balas Rendi tersenyum.


"Tunggu sebentar" ucap Milsi lembut. Lalu Milsi melangkahkan keluar dengan senyuman di wajahnya.


Milsi membuat kopi dan juga membawa makanan ringan yang ada di lemari.


"Sedang apa, Non?" tanya Bi Imah.


"Ini lagi buat Kopi dan membawa beberapa camilan, Bi" jawab Milsi ramah.


"Mau saya siapkan?" tawar Bi Imah dengan sopan.


"Tidak usah Bi, ini sudah selesai kok" tolak Milsi dengan halus.


Bi Imah mengangguk dan kembali ke kamar nya untuk istirahat.


.


.


.