That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 25



Berbeda dengan Rendi, ia sedang berteleponan ria dengan pujaan hati nya.


"Sayang, istirahat dulu sana udah malam" ucap Rendi lembut.


"Iyaa Abang, Abang juga istirahat sana" balas Milsi


"Hmmm, cepatlah pulang" ucap Rendi sebelum mengakhiri teleponnya.


Rendi lalu menyimpan ponsel nya di nakas dekat ranjang nya.


"Aihh aku sudah tidak sabar untuk menikahi nya" gumam Rendi dengan terkekeh.


Lalu ia memejamkan mata nya karena memang mengantuk.


Ia akan istirahat sampai besok karena memang besok weekend. Rencana ia akan tidur seharian atau bertukar kabar dengan sang kekasih.


***


Pagi hari nya , Kafka sudah sibuk dengan rutinitas baru nya. Yaitu membuat Adel mendesah ataupun membuat Adel Junior!.


"Massss, udah yaa aku lelah" rengek Adel.


"Aisshhhhh sayang sebentar la lagi" ucap Kafka di sela-sela kegiatannya.


Adel hanya pasrah dengan menikmati nya. Entah kenapa seperti hal wajib bagi Kafka setiap pagi ia selalu meminta jatah.


"Ahhhhhhhh sayang" racau Kafka setelah selesai mengeluarkan benih nya.


"Terimakasih dan maafkan aku" ucap Kafka dengan mengecup kening Adel lembut.


Adel membalas dengan senyuman saja. Ia merasa sangat di hargai karena setelah selesai mereka melakukan hubungan, Kafka selalu saja mengucapkan Terimakasih.


"Gendong, aku lemes ke kamar mandi nya" rengek Adel dengan manja.


"Maafkan aku ya" ucap Kafka kembali dengan membawa tubuh sang istri ke kamar mandi.


Adel menyenderkan kepalanya di dada bidang Kafka.


"Tidak apa, Mas" balas Adel lembut.


Mereka melakukan mandi dengan bersama tanpa melakukan apapun lagi.


Kafka dengan telaten memasangkan pakaian dan mengeringkan rambut Adel.


Tok.. Tok.. Tok..


"Maaf Tuan, Nyonya sarapan sudah siap" ucap Mbak Lala di luar.


"Siapkan saja di meja, Mbak. Nanti kami akan turun" balas Kafka


"Baik Tuan" ucap Mbak Lala.


Kafka dengan segera memakai pakaiannya, karena ia tahu bahwa Adel sudah sangat lapar.


"Ayo Mas, maaf ya tidak sempat masak" ucap Adel tersenyum.


"Tidak apa, sayang" balas Kafka mengecup pucuk kepala Adel.


Mereka melangkahkan kaki nya ke arah lift, Karena Kafka tahu bahwa Adel masih sangat lemas.


"Biar Mas ambil sendiri, sayang" cegah Kafka saat melihat Adel ingin mengambilkan makanan untuknya.


"Gapapa Mas, aku juga masih kuat" balas Adel lembut.


Kafka hanya tersenyum dan menerima piring yang sudah di isi oleh Adel.


"Terimakasih, Istriku" ucap Kafka dengan nada menggoda.


"Sama-sama , sayang" balas Adel tersenyum.


Adel makan dengan lahap dan tak menghiraukan Kafka yang selalu melirik nya.


"Sayang, pelan-pelan saja makannya" tegur Kafka.


"Ini juga gara-gara kamu ya, Mas. Aku sampai kelaparan begini" gerutu Adel dengan sebal.


Kafka tertawa renyah, ia mengusap kepala Adel lembut.


"Maaf ya, aku tidak akan mengulangi nya lagi dan sebagai ganti nya kita akan jalan-jalan ya" ucap Kafka tulus.


"Tidak apa, Mas. Aku hanya ingin bersantai saja di halaman belakang , besok lagi aja jalan-jalan nya, Mas" balas Adel tersenyum.


"Baiklah terserah kamu saja, sayang" ucap Kafka.


Adel mengangguk dan kembali fokus melahap makannya.


Sedangkan Kafka hanya menggeleng kepala saja karena Adel menambah lagi makannya.


"Yang kenyang ya, sayang" goda Kafka.


"Ishhh" kesal Adel dengan mendelik.


HAHAHA! Tawa Kafka pecah seketika saat melihat wajah kesal sang istri.


"Biar ada tenaga, yang" goda Kafka kembali.


"Mas , kalau gak diem aku tak kasih jatah ya 1 bulan" ancam Adel kejam.


"Iya-iya sayang gak, gak akan menggoda lagi kok. Ampunn ya" ucap Kafka pasrah.


Adel hanya mengulum senyum melihat wajah Kafka yang panik.


'Yaampun lucu sekali suamiku ini' batin Adel tersenyum.


Setelah selesai makan , Adel mengajak Kafka duduk di gazebo belakang dengan membawa beberapa camilan dan minuman.


"Duduk disini, Mas" ajak Adel.


Kafka hanya patuh saja dan duduk di samping Adel, tetapi dengan cepat Adel langsung merebahkan kepala nya di pangkuan Kafka.


"Kenapa, Hmmm?" tanya Kafka


"Aku merindukan Ayah, Ibu" lirih Adel.


"Nanti kalau aku ada waktu senggang kita ke makam Orangtua mu, ya" ucap Kafka lembut.


Adel mendongkak dan tersenyum cerah.


"Beneran ya, Mas?" tanya Adel memastikan.


"Iyaa sayang, nanti sekalian tunggu Milsi pulang" jawab Kafka lembut.


Adel bangun dan langsung memeluk Kafka.


"Terimaksih, Mas" ucap Adel bahagia.


"Kalau ada apa-apa bilang ya, jangan di pendem sendiri" ucap Kafka mencium hidung Adel.


"Siap Boss" balas Adel terkekeh.


Kafka tertawa pelan dan memeluk tubuh Adel dengan erat.


"Huhh gemesin banget sih, kamuuu" ucap Kafka dengan gemas.


"Hehe aku kan memang menggemaskan, Mas" balas Adel tertawa renyah.


Kafka tertawa ngakak dengan kepedean sang Istri. Ia mencium lembut bibir Adel yang sudah jadi candu nya.


.


.


.