That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 27



Hari begitu cepat berlalu dan saat ini sudah 1 bulan lamanya Kafka dan Adel membina rumah tangga nya.


Sedangkan mereka juga sudah pindah ke Mansion yang memang Kafka siapkan untuk Adel. Dan untuk Milsi ia tidak di izinkan ikut pindah oleh Ayu.


"Sayang" panggil Adel.


Tetapi ia tidak mendapatkan jawabannya. Lalu Adel masuk ke kamar dan mencari Kafka.


"Mas, kamu dimana?" teriak Adel khawatir.


"Uhuk , a aku di kamar mandi, sayang" jawab Kafka samar tetapi masih bisa di dengar Adel.


Adel langsung saja membuka pintu dan panik melihat sang suami yang sudah pucat duduk di closet.


"Mas, kamu kenapa? Ayo kita keluar dulu" ucap Adel berkaca-kaca.


Kafka mengangguk dan mencoba berjalan dengan di papah oleh Adel.


Setelah di dekat ranjang Kafka langsung mendudukan bokongnya, ia sangat merasa pusing sekali.


"Rebahan dulu ya, hiks" ucap Adel terisak.


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa" balas Kafka mengusap lembut air mata Adel.


"Aku aku takut kamu kenapa-napa, Mas" ucap Adel dengan derai air mata.


Kafka tersenyum lalu menarik pelan tubuh Adel dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa, kamu buatkan bubur ya" pinta Kafka lemah.


Adel langsung terbangun dan segera beranjak pergi ke dapur.


Ia melihat Art yang memang di pekerjakan oleh Kafka untuk membantu Adel.


"Nyonya butuh sesuatu?" tanya Bi imah.


"Tidak, Bi. Aku ingin membuat bubur untuk suami ku dan tolong telepon Dokter keluarga ya, Bi" ucap Adel yang masih fokus membuat bubur.


"Baik, Nyonya" balas Bi imah.


Adel langsung membuatkan Teh hangat dan menyiapkan potongan buah. Ia menata semuanya di nampan dan dengan cepat ke kamar nya kembali.


Ceklek.


"Mas, makan dulu ya" ucap Adel dengan sendu.


Kafka membuka mata nya dan tersenyum melihat wajah Adel yang sangat khawatir bahkan sudah siap menangis kembali.


"Ayo duduk biar aku bantu, aku suapi ya makannya" ucap Adel dengan membantu Kafka bangun.


"Hei jangan sedih begitu, aku tidak apa-apa" ucap Kafka pelan.


Adel hanya diam dan ia menyuapi Kafka dengan telaten. Ia merasa sangat sakit melihat sang suami yang lemah.


Hingga suapan demi suapan bubur buatan Adel habis oleh Kafka.


"Makan buah dulu ya, sebentar lagi Dokter sampai" ucap Adel mengusap lembut lengan Kafka.


"Suapi yaa, dan tolong hubungi Rendi kalau aku tidak bisa ke perusahaan" balas Kafka


"Sebentar" ucap Adel dengan mengambil ponsel Kafka di nakas.


Lalu Adel dengan segera menghubungi Rendi.


"Ren, tolong handle urusan kantor ya. Mas Kafka nya lagi sakit" ucap Adel dengan cepat saat teleponnya di angkat.


Adel langsung membuka pintu kamar nya saat ada yang mengetok.


"Masuk" ucap Adel.


Masuklah Bi imah dengan Dokter Panji, Dokter keluarga Ardmaja.


"Kenapa, Tuan" tanya Dokter


"Aku merasa pusing, lemas bahkan ingin tidur saja" balas Kafka.


Dengan cepat Dokter Panji langsung memeriksa Kafka.


Setelah memeriksa Kafka , Dokter Panji tersenyum dan menatap Adel.


"Nyonya , Tuan hanya kelelahan saja. Istirahat yang cukup akan menstabilkan kembali dirinya" ucap Dokter Panji.


"Terimakasih, Dok" balas Adel ramah.


"Dan saya sarankan , anda memeriksa ke Dokter Obgyn" ucap Dokter kembali sebelum pergi keluar kamar.


Kafka tersenyum melihat Adel yang bingung, ia lalu teringat dengan sesuatu.


Adel langsung melangkahkan kaki nya ke arah kalender yang ada di nakas.


"Massss" pekik Adel


Kafka tertawa dengan renyah lalu ia mengambil sesuatu di dalam laci.


"Sana coba cek, Mas sudah kepikiran kesana karena selama satu bulan ini kamu tidak datang bulan" ucap Kafka lembut dengan memberikan sesuatu di tangannya.


Adel dengan cepat mengambil nya dan melangkahkan Kaki nya ke arah kamar mandi.


"Semoga benar bahwa ada nyawa lainnya yang ada di perut kamu, sayang" gumam Kafka saat melihat Adel yang masuk ke kamar mandi.


Kafka memejamkan mata nya untuk mengurangi rasa pusing yang di dera nya.


Tak lama kemudian pintu kamar di buka dan tampaklah sang Mommy masuk dengan wajah cemas.


"Sayang, kamu kenapa? Dan dimana Adel?" tanya Ayu dengan bingung.


Ceklek.


"Massss" teriak Adel kembali tanpa melihat sang Mommy dan Adik nya yang menatap heran.


Adel langsung kikuk saat melihat tatapan Ayu dan Milsi yang mengeryit bingung.


"Ehh Momm, Dek" malu Adel. Lalu Adel melangkahkan kaki nya ke arah Kafka.


"Bagaimana?" tanya Kafka penasaran.


Ayu , Milsi menatap mereka dengan bingung.


Lalu Adel memberikan hasil test nya pada Kafka. Ayu yang melihat nya pun langsung berbinar dan mengambil alat tersebut.


"Sayang, apakah ini benar? Mom akan menjadi Oma?" tanya Ayu dengan cepat.


Adel mengangguk dengan air mata yang menetes.


Lalu Ayu memeluk tubuh Adel dengan bahagia.


.


.