
Hingga jam menunjukan angka 17 barulah terdengar deru mesin mobil yang masuk ke halaman Mansion Kafka.
Dengan penuh semangat Rahma langsung berjalan ke arah luar. Sedangkan yang lainnya hanya menggeleng saja.
Sedangkan di luar Adel keluar dengan di gendong oleh Kafka. Rendi hanya mengekor saja di belakang dengan menelpon seseorang.
"Cu , ahhh yaampun kenapa dengan Adel?" teriak Rahma panik.
Semua orang langsung berhambur keluar. Sedangkan Kafka hanya biasa saja dan terus berjalan membawa Adel ke dalam.
"Nak, kenapa dengan Adel?" tanya Ayu ikut panik.
"Kita tunggu saja Dokter, Nyonya" jawab Rendi ramah.
Lalu Kafka membawa Adel ke kamar nya, dengan segera yang lainnya pun ikut ke lantai atas.
Adel di tidurkan dengan wajah pucat nya, bahkan ia seperti mayat saja.
Rahma dan Ayu segera menghampiri nya karena merasa sangat khawatir.
"Ka, kenapa sampai begini?" tanya Rahma meneteskan air mata.
Kafka mendekat dan memeluk sang Oma.
"Dia hanya kelelahan saja, Oma. Sehabis makan siang Adel ingin camilan bahkan membuat aku geleng kepala ehh setelah nya ia merasa mual dan muntah-muntah" jelas Kafka masih dengan khawatir.
Tak lama kemudian Bi Imah datang bersama dengan Dokter.
"Cepat periksa Cucu ku" tekan Antoni pada Dokter tersebut.
Glek.
"Ba baik Tuan" balas Dokter gugup.
Sang Dokter langsung saja memeriksa Adel dengan teliti.
"Nona tidak apa-apa, ia hanya terlalu banyak muntah jadi badannya lemah. Saya akan pasangkan infus" jelas sang Dokter.
Kafka dengan setia menggenggam tangan Adel. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga sang Istri.
Dokter dan perawat langsung saja memasangkan infus di tangan Adel.
"Sebentar lagi Nona akan sadar, Tuan. Kalau begitu saya permisi" ucap Dokter.
Lalu Bi Imah langsung saja mengantarkan Dokter tersebut keluar.
Elga dan Antoni memilih untuk istirahat saja di kamar masing-masing. Sedangkan Milsi dan Qilla mereka tidak tahu dengan keadaan Adel karena mereka sudah berdiam di kamar.
Ayu mengusap lembut bahu Kafka, ia sangat tahu bahwa sang Putra sangat mengkhawatirkan kondisi Adel.
"Tenanglah, ini sudah hal biasa dalam masa kehamilan awal" ucap Ayu menenangkan.
Eungggghhhh.
Lenguh Adel dan ia mulai mengerjapkan mata nya. Lalu tak lama kemudian ia membuka mata nya dan menatap ke sekeliling.
"Masss" panggil Adel.
"Kenapa sayang? Apakah ingin sesuatu?" tanya Kafka cepat.
"Mau minumm" jawab Adel lemah.
"Mom, Oma" ucap Adel tersenyum lemah.
"Apakah kamu ingin sesuatu, sayang?" tanya Rahma dengan lembut.
"Boleh minta rujak? Rasanya aku ingin rujak, Oma" jawab Adel antusias.
Kafka langsung memberikan air minum yang baru saja ia bawa.
"Mau apa, sayang?" tanya Kafka.
"Ingin rujak, Mas. Tapi buatan Mbak Lala" jawab Adel manja.
"Sebentar Mom telepon dulu, nanti biar di anterin sama sopir ya" ucap Ayu
Adel dengan sangat semangat dan antusias langsung menganggukan kepala nya.
"Apa tidak apa-apa, Mom?" tanya Kafka sedikit khawatir.
"Tidak, Nak. Ini hal wajar bagi yang hamil" jawab Rahma tersenyum.
Adel memegang tangan Kafka dengan tersenyum manis.
"Gapapa kan, Mas?" tanya Adel.
"Tapi jangan banyak-banyak ya" jawab Kafka lembut.
Ayu langsung saja menelpon Mbak Lala dan menyebutkan pesanan sang menantu.
"Ohh iya, Oma dan yang lainnya kapan datang?" tanya Adel dengan berusaha duduk.
"Sayang tiduran saja ya" pinta Kafka.
"Pegal, Mas" rengek Adel.
"Biarkan saja, Nak" ucap Rahma
Lalu Kafka membantu Adel bangun dan menyusun bantal untuk Adel bersandar.
"Oma dan yang lainnya sudah 1 jam yang lalu datang, sayang" ucap Rahma mengusap lembut rambut Adel.
"Lalu Qilla dan Milsi mana?" tanya Kafka
"Ahhh iya kemana mereka" timpal Adel dengan melihat kesana-kemari.
"Udah stay di kamarnya mu-
Brak
"Yaampun kenapa tidak ada yang bilang pada kita kalau Kak Adel sakit" pekik Qilla dengan membuka paksa pintu.
Sedangkan yang ada di dalam hanya mengusap dada karena mereka sangat kaget mendengar pintu di buka dengan sangat kuat.
.
.
.