
Sedangkan Milsi ia langsung berlari dan memeluk sang Kakak.
"Kakak tidak apa?" tanya Milsi khawatir.
Adel menggelengkan kepala seraya mengusap lembut kepala sang Adik.
Lalu Qilla menghampiri Adel dan ikut memeluk sang Kakak ipar.
"Ehhh lepaskan nanti dede bayi nya ke jepit" pekik Kafka dengan panik.
Qilla dan Milsi langsung melepaskan pelukannya dan menatap Adel dan Kafka gantian.
"CK, kalian dari mana saja?" tanya Ayu gemas.
"Nih Abang Rendi dan Kak Isel abis mojok" ceplos Qilla dengan santai.
Pletak.
"Asal ceplos saja" kesal Milsi dengan menjitak kepala Qilla.
"Sakittt" rajuk Qilla dengan wajah merenggut.
"Bodo amat" ketus Milsi.
Tok... Tok...
"Maaf Tuan, ini rujak dari Mansion Utama" ucap Bi Imah dengan sopan.
Adel langsung berbinar dan mengadahkan tangannya agar cepat-cepat ia memakannya.
"Kasih Adel, Bi" ucap Kafka.
"Baik Tuan" balas Bi Imah dengan cepat.
Lalu Bi Imah langsung memberikan mangkuk yang berisi rujak buatan Mbak Lala.
"Kak bagi dong" ucap Qilla.
"Tidak, kamu minta saja lagi sama Mbak Lala atau beli saja" jawab Adel dengan fokus ke rujak yang di genggam nya.
"Pelitt" pekik Qilla kesal.
Seketika Adel langsung tersedak dan batuk-batuk. Kafka dengan cepat memberikan air minum.
"Uhukk Uhukk" batuk Adel.
"Uhuk, yaudah nah makan aku sudah tak mau" ucap Adel menunduk.
Lalu Adel membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ia memunggungi semua orang.
Qilla merasa bersalah dan menatap Mommy dan Oma nya.
"Minta maaf, begitulah Ibu Hamil sayang" bisik Ayu lembut.
"Kak Adel, maafkan aku , aku hanya bercanda saja. Jangan sedih ya" ucap Qilla sedih.
Adel tetap diam dan bahkan memegang tangan Kafka dengan kuat.
"Mom, Oma kalian istirahat saja. Aku juga akan istirahat" ucap Kafka.
"Abang" ucap Qilla lirih.
"Tidak papa, Kakak mu hanya sedang tidak mood" balas Kafka tersenyum.
Lalu Milsi membawa Qilla keluar kamar bersamaan dengan Ayu dan Rahma. Kafka menutup pintu dan ikut berbating dengan Adel.
"Sini peluk dulu" ucap Kafka tersenyum.
"Aku sesek nafas loh sayang" ucap Kafka dengan godaan.
Adel langsung melonggarkan pelukannya dan mengusel wajah nya di dada Kafka.
"Kenapa, hmmm?" tanya Kafka lembut.
Adel menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Aku tidak tau kenapa mood ku jadi gini, tadi aku merasa sangat sakit hati saat mendengar pekikan Qilla, padahal hanya bercanda saja dia" cerita Adel menghela nafas.
"Itu sudah biasa bagi Bumil sayang, jangan khawatir Qilla juga tidak marah kok" ucap Kafka mengusap lembut punggung Adel.
"Tapi aku tak enak, Mas" rengek Adel.
"Besok minta maaf saja" balas Kafka
Adel mengangguk dan kembali memeluk Kafka.
"Mas mandi dulu, ya" ucap Kafka lembut.
"Hmmm, jangan lama" balas Adel sambil agak menjauh dari Kafka.
Kafka tersenyum dengan menganggukan kepala nya. Lalu ia berlalu ke kamar mandi.
Sedangkan Adel kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata nya, hingga tanpa sadar ia terlelap dengan pulas.
***
Sedangkan di bawah , para Orangtua dan yang lainnya sedang membahas acara pernikahan Rendi dan Milsi.
"Bagaimana, Ren?" tanya Ayu yang menunjukan dekorasi.
"Aku terserah, Isel" balas Rendi tersenyum.
Milsi hanya menunduk malu, lalu ia melihat pilihan Ayu.
"Mom, jangan terlalu glamor aku tak suka" ucap Milsi dengan lembut.
Ayu menganggukan kepala dan mulai mencari lagi. Ia melihat ada dekor yang sangat elegant tapi terkesan mewah.
"Bagaimana kalau ini?" tanya Ayu pada Milsi.
Milsi melihat dan mencocokannya dengan gaun pengantin.
"Bagus Mom, simple dan elegant" jawab Milsi.
"Yaudah yang ini aja, ya" ucap Ayu.
Milsi mengangguk dan melihat Qilla yang sedang memakan camilan dengan rakus.
"Aku lapar, jangan mandanginnya gitu amat" sinis Qilla.
Milsi hanya terkekeh dan kembali fokus melihat-melihat untuk acara pernikahannya.
Sedangkan Rendi ia berbicara dengan Elga dan Antoni, mereka membicarakan bisnis dan bisnis saja.
***
Saat ini Kafka sudah kembali berbaring di samping sang Istri, lalu ia memainkan ponsel nya dan membaca artikel tentang kehamilan.
.
.
.