That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 45



Senja sudah menunjukan pesona nya. Adel dan yang lainnya sudah bersiap untuk pulang karena mereka sudah sangat puas seharian di Pantai.


Di sepanjang perjalanan Adel terlihat memeluk Kafka dengan manja. Bahkan Rendi sangat merasa jengah dengan kelakuan kedua nya.


"Ren, kita makan malam nya di pinggir jalan. Cari stand yang cukup enak" ucap Adel dengan antusias.


"Siap kanjeng ratu" balas Rendi terkekeh.


"CK" decak Adel kesal.


Sedangkan Kafka hanya menggelengkan kepala saja, sudah jadi kebiasaan antara Rendi dan Istri nya akan selalu menjahili setiap kali bertemu.


Rendi langsung menghentikan laju mobil nya saat mereka sampai di stand makanan seafood. Tempat nya yang nyaman dan kelihatannya sangat menggugah selera.


"Cepetan pesen" rengek Adel pada Kafka.


"Iyaaa sayang, ini mau pesen. Kamu sama Milsi duduk saja sana" ucap Kafka dengan gemas.


Adel mengangguk dan mencari tempat duduk yang nyaman.


"Hati-hati, Kak" tegur Milsi saat melihat Kakak nya yang tidak sabaran.


"Hehe" cengengesan Adel dengan tanpa dosa nya.


Setelah memesan makanan , Rendi dan Kafka menghampiri para Istri nya. Mereka duduk lesehan agar nyaman buat Adel.


Kring Kring


"Waw siapa nih yang Vcall" ucap Adel dengan bahagia.


Lalu ia dengan segera mengangkat telepon tersebut.


"Yaampun Kakak Ipar, kenapa makin chubby" pekik Qilla dengan terkekeh.


"Ihhhh mana Mommy, Kakak rindu sekali pada Mommy" ucap Adel mengkrucutkan bibir nya.


"Ada apa sayang?" tanya Ayu dengan lembut.


"Mommmm" panggil Adel dan Milsi.


"Apa kabar Mom? Kenapa belum kesini?" tanya Adel dengan merajuk


"Kabar Mom baik, sabar ya sayang. Jika nanti Adik mu libur , Mom akan langsung terbang kesana" jawab Ayu tersenyum.


"Beneran yaaa" ucap Milsi dengan antusias.


"Iyaa sayang. Bagaimana apa sudah ada kabar bahagia belum?" tanya Ayu pada Milsi.


"Khmm, do'akan saja yaa Mom. Soalnya udah telat hampir 2 minggu" jawab Milsi melirik Rendi yang menganga.


"Waw aku akan menjadi Aunty lagi" pekik Qilla senang.


Seorang pelayan menyajikan makanan di meja Adel dengan begitu banyak nya.


"Makanlah dulu, nanti kita lanjutkan" ucap Ayu dengan lembut.


"Oke, bye Mom" balas Adel dan Milsi.


Tanpa menghiraukan tatapan Rendi, Milsi langsung saja makan bersama dengan Adel dan Kafka.


"CK, makan dulu napa. Habis ini kita periksa Milsi" ucap Kafka jengah.


"Hmmmm" balas Rendi


Lalu mereka makan dengan sangat menikmati. Bagaimana tidak, masakannya yang enak, udara sejuk dan juga pemandangannya yang alami.


"Sangat nikmat" ucap Adel dengan mengusap perut buncit nya.


"Sayang pasti kamu kenyang sekali" ucap Adel dengan terkekeh.


"Gimana gak kenyang, makan udah kayak yang kelaparan" celetuk Rendi.


"Ishh biarin kan aku makan untuk 2 orang" balas Adel santai.


"Sudah jangan debat, ayo pulang" ajak Kafka


"Tapi mampir dulu ya, Bang" ucap Milsi.


"Iyaa, nanti kita ke Rumah sakit dulu" balas Kafka tersenyum.


"Ohh iya, apa mereka juga makan?" tanya Adel


"Makan juga, tapi mereka tidak disini karena tidak menyukai seafood" jawab Kafka


Sedangkan Adel hanya berOh ria saja. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Dengan penuh semangat Rendi melajukan mobil nya menuju ke Rumah sakit. Bahkan di sepanjang jalan, tangan Rendi selalu menggenggam tangan sang Istri.


Hingga 1 jam kemudian, mereka sampai di Rumah sakit keluarga Kafka.


Mereka langsung saja masuk karena memang sudah membuat janji.


Adel dan Kafka memilih menunggu saja di dalam mobil. Karena Kafka melihat disana ada Tya.


"Mas, bukan kah itu Tya?" tanya Adel dengan menunjuk wanita yang sedang mengamati mobil nya.


"Hmmm iya. Makannya kita tunggu saja disini" jawab Kafka cuek.


Terlihat Tya mendekati mobil tersebut, tetapi sebelum itu terjadi salah satu anak buah Kafka langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil ke arah luar.


"Maaf Tuan, Nyonya. Tuan Rendi menyuruh saya untuk mengantarkan kalian terlebih dahulu" ucap anak buah nya dengan sopan.


"Hmmm tidak apa. Kau tepat waktu" balas Kafka datar.


Sedangkan Adel hanya tersenyum tipis saja. Ia merasa heran dengan suami nya, padahal jika bersama nya dia akan sangat hangat tetapi jika dengan oranglain, Suami nya akan berubah dingin dan datar.


Sedangkan di Rumah sakit, Tya masih saja disana dengan wajah bingung nya.


"Bukannya tadi seperti mobil Kafka" gumam Tya penasaran.


Lalu Tya menghampiri security disana dan bertanya tentang mobil tersebut.


"Apakah mobil yang barusan keluar adalah mobil Tuan Kafka?" tanya Tya


"Bukan Nona, itu salah satu pelanggan yang selalu cekup disini" jawab security tersebut.


"Untung udah di kasih tahu duluan sama anak buah Tuan Kafka" batin security lega.


Tya langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Yaampun dia sombong sekali" ucap security tersebut dengan menggelengkan kepala.


.


.


.