
Siang hari nya, Rendi dan Kafka izin untuk keluar pada istri mereka. Mereka beralasan ingin pergi bertemu dengan klien padahal mereka akan ke markas.
"Jangan bohong ya" delik Adel pada Kafka.
"Iyaa sayang, jangan telat makan dan istirahat yang cukup" ucap Kafka lembut.
"Nanti pulang nya jangan lupan pesenan aku" ucap Adel tersenyum.
"Siapp sayang. Kalau mau keluar kabari aku dulu, jangan asal keluar ya" balas Kafka
Sedangkan Rendi, ia memutar bola mata nya malas dengan drama yang ada di depannya.
Setelah itu , Rendi dan Kafka langsung pergi dengan melajukan mobil nya. Mereka sudah memasang wajah dingin nan seram nya.
"Bagaimana kondisi wanita itu?" tanya Kafka.
"Dia selalu saja histeris, aku yakin dia akan kembali berpura-pura gila agar di kasihani" jawab Rendi dengan datar.
"Aku tidak akan memberikannya ampunan, dan cari terus keberadaan Rama" ucap Kafka tegas.
"Baik Tuan" patuh Rendi dengan segera.
Raka melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sedangkan Kafka, ia sudah menahan geram nya sejak tadi pada Tya.
Hingga beberapa saat, mereka sampai juga di markas. Anak buah Kafka langsung membukakan pintu dan menyambut nya dengan segera.
Kafka masuk dengan wajah dingin dan datar nya, ia sudah tidak sabar ingin segera menghancurkan wanita yang hampir membuat nya gila.
"Buka pintu nya" ucap Kafka dingin.
Rendi membuka pintu tersebut dan nampaklah wanita yang sedang berteriak histeris dengan tubuh yang di ikat di kursi.
"Ka, kamu datang kesini mau bebasin aku kan?" tanya Tya dengan antusias
Kafka langsung mendekat dan menjambak rambut Tya dengan keras.
"Berani nya kau bermain denganku. Terima akibat dari perbuatan-mu" geram Kafka dengan aura pembunuh yang sudah keluar.
"Sakit Ka, aku begitu karena aku sangat sayang padamu" teriak Tya dengan meringis.
"Bukan sayang tetapi obsesi, kau sudah gila" balas Kafka dengan menghempaskan cengkramannya pada Tya.
Sedangkan Adel, saat ini sedang menikmati camilan di gazebo belakang bersama sang Adik.
Mereka memakan makan banyak makanan karena memang mereka gampang sekali lapar.
"Hahh rasanya aku ingin makan martabak" gumam Adel mengusap lembut perut nya.
"Bi" panggil Adel.
"Iyaa Nyonya" jawab Art yang kebetulan ada disana.
"Tolong belikan Sop Buah, Martabak dan ice cream ya. Ini uang nya" ucap Adel ramah.
Art tersebut menerima uang nya dan mengangguk lalu pergi dari sana.
Milsi di buat melongo dengan pesanan Kakak nya. Ia juga yang lagi ngidam tidak serakus itu.
"Kenapa Kakak jadi rakus" ceplos Milsi dengan heran.
"Hei Kakak bukan Rakus, hanya saja lapar selalu menyerang Kakak" balas Adel kesal.
"Nanti juga kamu akan merasakannya" celetuk Adel santai.
Milsi hanya cengengesan saja. Lalu mereka kembali bercerita dengan camilan yang selalu ada di meja.
Adel merasa bahwa suami nya membohongi nya, tetapi Adel tak berpikiran yang macam-macam.
"*Mas Kafka pasti lagi bermain-main dengan rubah betina itu" batin Adel
"Kenapa mereka berbohong, menyebalkan" batinnya lagi dengan menggerutu*.
Selang tak lama, pelayan yang di suruh Adel sudah datang dengan pesanan Adel.
Adel langsung membuka nya dan menatap dengan berbinar, begitupun dengan Milsi. Mereka memakan tersebut bersama hingga menjelang malam baru mereka masuk ke dalam mansion.
.
.
.