That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 14



Pagi hari nya , Kafka dan Adel sudah bersiap bahakan sudah rapi. Mereka lalu berjalan keluar karena akan sarapan bersama di Restorant Hotel tersebut.


Kafka meringis melihat cara jalan Adel yang agak pelan bahkan seperti menahan sakit.


"Sakit banget ya" ucap Kafka dengan mengusap lembut pipi Adel.


"Tidak apa-apa, Mas. Sudah resiko nya kok" balas Adel tersenyum.


CUP


Kafka mengecup pucuk kepala Adel dengan lembut. Lalu Kafka memeluk pinggang Adel kembali.


TING


Pintu lift terbuka dan mereka langsung melangkah ke meja yang mana disana keluarga nya sedang berkumpul.


"Widih , lihatlah pengantin kita nihhh" celetuk Andi dengan tertawa.


"CK, diam kau" serkas Kafka.


Lalu Kafka menyuruh Adel duduk terlebih dahulu.


"Kenapa dengan jalan kamu, Del?" tanya Sela dengan menahan senyuman.


"Apasih , Sel" balas Adel menahan malu.


Ayu dan Orangtua yang lainnya hanya tersenyum melihat wajah Adel yang merona malu.


"Makan dulu kasihan pengantin baru nya kelaparan" celetuk Antoni yang mana membuat mereka tertawa.


Adel semakin di buat malu oleh celetukan Keluarga suaminya.


"Sel , kemana Milsi dan Qilla?" tanya Adel saat tak melihat sang Adik.


"Oh mereka tadi pulang duluan bersama Rendi" jawab Sela.


Adel mengangguk dan mengambil makanan untuk Kafka. Tetapi belum juga bangun Kafka sudah melarangnya.


"Biar aku saja ya" ucap Kafka lembut.


"Tapi , Mas..


Belum juga selesai Adel berbicara Kafka sudah mengambil piring yang ada di tangannya.


"Sudah duduk saja, Del. Biar dia bertanggung jawab" ucap Raka dengan terkekeh.


Adel hanya tersenyum malu saja , bahkan wajah nya pun sudah kembali merona karena malu.


Mereka diam dan memulai sarapannya , Adel makan seikit lahap karena memang ia merasa kelaparan karena semalam melewatkan jam makan malam nya.


Setelah selesai sarapan mereka langsung memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Ayu , Elga , Bunda akan ke mansion Pranss dan Utari dulu ya. Mungkin lusa baru akan ke mansioan kalian" ucap Rahma


"Iya Bunda , kalau begitu kami duluan ya. Hati-hati" balas Ayu memeluk sang Bunda.


Elga , Kafka dan Adel pun ikut berpamitan pada Oma Rahma. Mereka berpisah di lobby Hotel tersebut.


Adel dan Kafka masuk ke mobil yang berbeda dengan Orangtua nya.


Kafka memeluk Adel dan mencium pucuk kepala Adel dengan sayang. Bahkan Kafka memasangkan gorden penghalang antara dirinya dan sang sopir.


Sedangkan sopir tersebut tersenyum geli melihat tingkah laku Tuan Muda nya. Tetapi ia juga merasa sangat bahagia melihat Tuan Muda nya yang bahagia.


Adel merebahkan kepala nya pada dada bidang Kafka , lalu ia memejamkan matanya yang mengantuk.


Di mansion , Qilla sedang bermain dengan Milsi dan Rendi, mereka bermain sepeda di halaman depan.


"Abang Ren , ayo kita balapan" tantang Milsi.


"Jangan Kak, Bang Rendi kan sudah tua jadi tidak bakal.kuat mengayuh nya" ceplos Qilla membuat Rendi menganga.


"Hei aku masih kuat ya, bahkan aku bisa mengalahkan kalian" kesal Rendi.


"Ayo kalau begitu, jika Abang kalah beaok harus bawa kami belanja ke Mall. Dan jika kami kalah Abang akan jadi pacar Kak Milsi" celetuk Qilla.


"Siap" balas Rendi santai.


"Hei kok jadi pacar sih, Dek" protes Milsi.


"Ehh tidak bisa di rubah karena sudah DEAL" tekan Rendi dengan tersenyum senang.


"Dek bisa di rubah kan?" rengek Milsi pada Qilla.


"Tidak bisa , Kak" balas Qilla pura-pura lesu.


"CK kalian ini ahhhh" gerutu Milsi dengan prustasi.


Rendi terkekeh saja melihat wajah imut Milsi yang menggerutu kesal.


Lalu mereka bersiap dan memulai pertandingannya. Qilla dan milsi awalnya sangat semangat untuk menang tetapi lama kelamaan energi Qilla habis dan akhirnya mereka kalah.


"Yahhhhhh Adekkkkkkkk" keluh Milsi


Qilla memasang wajah lesu nya.


"Aku lelah Kak, aku ingin minum" ucap Qilla duduk di bawah.


Rendi menghampiri mereka yang sedang duduk berselonjor.


"Hai pacar" goda Rendi pada Milsi.


Milsi memalingkan wajah nya karena malu, entah kenapa ia merasa sangat merona saat di goda Rendi.


"Ahhh aku ke dalam dulu ya, Kak" pamit Qilla dengan cepat.


Milsi dan Rendi duduk di kursi yang ada di sana.


"Abang? Ini kan hanya bercanda jadi jangan menggoda ku terus" gerutu Milsi


"Hei siapa yang bercanda , aku serius. Aku akan menunggumu hingga kau lulus sekolah. Dan aku akan melamarmu pada Adel dan Kafka" ucap Rendi dengan tegas.


Milsi tercengang ia kira Rendi hanya bercanda saja , tetapi Milsi melihat ketulusan yang terpancar di mata nya.


"Aku tau kamu bingung , tetapi aku sangat serius Mil, karena aku sudah sangat lama menyukai mu" jujur Rendi dengan menggenggam tangan Milsi.


"Aku aku kan masih kecil , Abang" balas Milsi gugup.


"Tidak apa , aku yakin kamu bisa dewasa dengan cepat. Aku akan segera menemui Kakak mu" ucap Rendi.


"Baiklah, aku akan tunggu" balas Milsi lembut.


Rendi merasa sangat bahagia saat Milsi tidak menolaknya. Jujur saja ia sudah menyukai Milsi dari sejak lama, bahkan diam-diam ia selalu mengawasi Milsi saat di sekolah.


.


.


.