That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 20



Setelah puas mengisi perut , kini Kafka mengajak Adel untuk membeli oleh-oleh , karena besok siang mereka sudah kembali lagi ke tempat asalnya.


Kafka memarkirkan di Pasar yang menjejerkan banyak nya aneka macam oleh-oleh.


Dengan semangat , Adel langsung membawa Kafka berburu oleh-oleh untuk keluarga nya.


Adel memilih beberapa baju , tas , topi , pernak-pernik dan masih banyak lagi, bahkan sampai para Art pun akan Adel kasih oleh-oleh tersebut.


"Yaampun apa masih kurang, sayang? Ini sudah banyak sekali" ucap Kafka dengan menggelengkan kepalanya.


Adel berbalik dan menatap tangan Kafka dan tangannya yang sudah penuh dengan belanjaan mereka.


"Satu lagi yaaaa , mass" rengek Adel dengan menampilkan wajah imut nya.


Kafka mengangguk dengan tersenyum mesum.


"Silahkan , asal nanti kau harus memberikan servis terbaik untuk si juni" balas Kafka dengan terkekeh.


Adel mendengus kesal , ia tahu yang di maksud dengan Kafka.


"Ayolah sayang, malam terakhir kita di sini loh" bujuk Kafka.


"Baiklah , siapkan saja stamina mu" ceplos Adel dengan ketus.


Seketika wajah Kafka langsung bersinar bagaikan matahari yang baru saja menampakan dirinya.


Dengan semangat Kafka mengangguk dan mengikuti kemanapun Adel pergi. Nyata nya Adel tidak membeli satu barang lagi tetapi hampir lima barang yang ia beli.


"Ahhh terimakasih, Mas" ucap Adel saat mereka ada di dalam mobil.


"Apakah senang?" tanya Kafka


Adel menoleh dengan mengembangkan senyum pada sang suami.


"Sangat senang, terimakasih untuk semuanya, Mas" jawab Adel dengan lembut.


"Apapun untukmu, sayang" ucap Kafka mengecup tangan Adel dengan sayang.


Di sepanjang perjalanan pulang ke Villa , tak henti-henti nya Kafka menggoda Adel dengan gombalan receh nya.


"Mas , udah ih perut aku sakit nih tertawa terus" protes Adel.


"Kau tau, kau itu sangat manis jika sedang tersenyum begitu" ucap Kafka terkekeh.


"Dan kau sangat menggelikan jika melontarkan kata gombalan yang receh" balas Adel dengan mengolok.


Kafka tertawa , ia tidak marah ataupun sakit hati dengan ucapan Adel, istrinya. Tetapi ia malah sangat bahagia.


"Hei gombalan receh itu yang membuat wajahmu sampai merona , begitu?" tanya Kafka dengan mengulum senyum.


"Ahhhhhh sudahlah, Mas" rengek Adel dengan memalingkan wajahnya.


Tawa Kafka kembali pecah sampai mengeluarkan air mata nya. Ia sangat bahagia melihat wajah malu sang istri.


Adel mendelik kesal pada suami nya, bisa-bisa nya ia tertawa bahagia begitu.


"Kalau tidak diam , nanti tidak jadi di servis ya" ancam Adel.


Kafka langsung bungkam dan memegang tangan Adel cepat.


"Ini sudah diam sayang, tidak boleh begitu ya ya" bujuk Kafka cepat.


Adel mengulum senyum dengan memalingkan wajah nya ke arah luar.


'Manis sekali kamu, Mas' batin Adel dengan terkekeh.


Adel berjalan terlebih dulu dengan menahan tawa melihat Kafka yang gelagapan.


"Sayang heiiii tunggu" teriak Kafka dengan cepat.


Adel hanya acuh dengan mengangkat bahu nya.


'Ahhhh shitt' gerutu Kafka.


Kafka dengan cepat berlari dan mengangkat tubuh Adel , lalu langsung masuk ke dalam lift.


Di dalam lift , Kafka langsung mencium bibir ranum Adel dengan lembut.


"Hmmmppt" lenguh Adel dengan mengalungkan tangannya pada leher Kafka.


TING!


Lift terbuka dan Kafka langsung membawa tubuh Adel masuk ke kamarnya.


"Mas turunkan aku" berontak Adel


Kafka pura-pura tidak mendengar dan terus saja melangkah maju ke arah ranjang size nya.


Kafka kembali menyerang Adel dengan sentuhan mautnya yang selalu membuat Adel mendesah dan mengerang.


"Uhhhhhhh , ma mas" erang Adel saat Kafka bermain di bukit gunung nya.


Tanpa menunggu lama lagi , Kafka melorotkan semua penghalang di tubuh nya dan tubuh sang istri.


Adel di buat terbang dengan kelakuan sang suami. Sedangkan Kafka , ia merasa puas karena melihat wajah sang istri yang begitu menikmati nya.


***


-Negara T.


Saat ini , Rendi sedang membawa sang kekasih berjalan-jalan di Mall. Rendi dengan semangat menggandeng tangan Milsi, bahkan ia selalu menawari nya berbagai macam pakaian.


"Sayang, aku mohon terima pemberianku ya. Aku janji , sebelum kita menikah hanya 1 kali ini aku membelikanmu berbagai macam pakaian" bujuk Rendi.


Milsi menghela nafas lelah dan menganggukan kepala saja. Ia juga merasa kasihan karena sudah menolak Rendi yang akan membelanjakannya.


"Baiklah , tapi jangan yang mahal dan yang sopan" balas Milsi tersenyum.


"Ahhhhh baiklah , ayo aku yang akan memilihkannya" semangat Rendi dengan cepat.


Seakan mendapatkan lotre , Rendi dengan semangat memilih beberapa baju dan tas. Rendi dengan sengaja memilih pakaian yang mahal tetapi sangat elegant.


Rendi juga menyuruh pelayan toko tersebut membuang Cap Harganya.


Rendi membawa Milsi ke dalam toko perhiasan , awalnya Milsi menolak tetapi dengan wajah memelas dan rayuannya akhirnya Milsi mau juga.


"Mas , ini pasti mahal" cicit Milsi saat melihat kalung yang begitu indah.


"Tidak apa, aku ikhlas" balas Rendi lembut.


"Sudah ya, kita pulang" ajak Milsi dengan memelas.


Rendi menganggukan kepala nya dan membawa Milsi keluar Mall tersebut.


.


.


.