
-Mansion Ardmaja.
Saat ini Qilla sedang bermanja dengan Milsi, walaupun sudah remaja tetapi Qilla sangat manja ketika ada di Rumah nya.
"Kak Isel ayo kita belanja sebelum aku pindah sekolah" ajak Qilla.
"Kenapa harus pindah sih, Dek" protes Milsi.
"Aku ingin mandiri , Kak. Aku ingin seperti Mommy dulu yang hidup sederhana dan berdiri di kaki sendiri" jawab Qilla mantap.
Misli menatap Qilla dengan penug ke kaguman , ia sangat bangga bisa mengenal keluarga sebaik keluarga Ardmaja dan Pramudya.
"Kau tau, Dek? Dulu Kakak berpikir bahwa orang kaya itu sombong dan tidak akan mau berteman dengan kita yang miskin , tetapi apa yang Kakak rasakan sekarang? Kakak ini hanya orang miskin tetapi keluarga besar kamu menerima Kakak dan Kak Adel. Jika memang kamu menginginkan sahabat yang tulus , maka belajarlah jadi wanita sederhana , disana kita akan melihat bahwa sekalipun dia kaya atau konglomerat jika memang dia tulus dan baik dia akan tetap menjadi sahabat mu bagaimana pun keadaanmu" nasihat Milsi dengan penuh kelembutan.
"Kau benar Kak, kau tau apa alasanku untuk pindah?" tanya Qilla.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya balik Milsi.
"Karena aku menginginkan sahabat yang tulus agar bersahabat denganku, tidak memandang aku yang anak Daddy Elga. Aku ingin memiliki sahabat seperti Kakak yang apa adanya bahkan Kakak sudah seperti Kakak kandungku" jawab Qilla dengan lirih.
Milsi memeluk erat Qilla, ia merasa sangat kehilangan karena sebentar lagi akan berpisah dengan Qilla.
"Dengarkan aku, Dek. Setibanya disana kau harus belajar beladiri , jangan menunjukan sisi lemah dan jangan gampang di dekati siapapun itu , mau cowo ataupun cewe. Karena jika memang dia benar-benar dengan kita dia akan selalu berada di dekat kita , mau secuek apapun kita" ucap Milsi kembali.
"Siap komandan" balas Qilla.
Lalu mereka tersenyum dengan saling memeluk.
Ayu dan Elga yang sedari tadi ada disana bahkan mendengar percakapan mereka merasa sangat takjub dengan ke dewasaan Milsi.
Lalu Ayu dan Elga menghampiri mereka yang sedang tertawa renyah.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Mall" ajak Elga dengan antusias.
"Mauuuu , ayo kita shoping" teriak Qilla semangat.
Ayu dan Milsi menggelengkan kepalanya saja dengan bibir melengkung tersenyum.
"Ayo sana kalian bersiap dahulu" titah Ayu dengan lembut.
"Oke Mommm" balas Qilla cepat. Lalu ia menarik tangan Milsi dengan cepat agar Mom dan Daddy nya tidak berubah pikiran.
"Putri kita sudah dewasa ternyata" ucap Elga merangkul pundak Ayu.
"Iyaa , dia sangat bijak dan cerdas" balas Ayu kagum.
Tak lama kemudian datanglah Qilla dan Milsi yang sudah rapih.
"Lets Go" ucap Qilla bahagia.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil yang akan di bawa oleh Elga sendiri.
Di sepanjang jalan , Qilla terus saja bercerita dengan sangat antusias , mereka mendengarkan dengan terkekeh.
-*Abang Rere.
'Kau lagi dimana, sweety?'
-Sweety Sel
'Aku lagi di jalan akan ke Mall dengan Qilla , Nyonya dan Tuan*'
Lalu Milsi memasukan ponselnya kembali karena mereka sudah sampai di Mall yang mereka tuju.
Dengan penuh semangat Qilla berjalan menggandeng tangan Milsi untuk masuk. Sedangkan Ayu dan Elga mengukuti nya dari belakang.
-Maldevis.
Saat ini pengantin baru sedang menikmati udara pagi di Pantai. Bahkan Adel bergelayut di lengan Kafka.
Mereka berjalan-jalan kecil di pinggir Pantai.
"Mas , Qilla berangkat kapan?" tanya Adel.
"Nanti sepulang kita dari sini, sayang" jawab Kafka
"Mas makan seafood disitu yuk" ajak Adel dengan menunjuk stand restoran.
Kafka mengangguk dan langsung berjalan ke arah stand tersebut , dengan tangan yang bertendeng di pinggang ramping sang Istri.
Semua yang menatap mereka merasa sangat iri dengan Adel. Bagaimana tidak iri , siapa yang tidak tau Kafka sang pembisnis muda dengan ketampanan yang nyaris sempurna.
Setelah sampai , Adel langsung memesan menu seafood ke sukaannya. Kafka hanya mengiyakan saja setiap kali Adel bertanya.
"Mas , gapapa kan aku makan seafood porsi banyak?" tanya Adel dengan cengengesan.
"Apapun untukmu, mau kau borong sekalipun silahkan asal kau memakannya , sayang" jawab Kafka dengan santai.
"Ihhhhh emang aku apaan makan sebanyak itu" kesal Adel dengan wajah cemberut.
Kafka tergelak dan tertawa renyah.
"Siapa tau aja tuh perutmu muat, sayang" goda Kafka.
"Hei mana ada , ada juga kamu tuh yang harus makan banyak , perutmu kecil begitu" olok Adel
"CK , ini sispacx sayang. Dari pada perut buncit seperti busung lapar" balas Kafka tertawa.
"Hahaha lucu kali ya kalau kamu begitu, Mas" ceplos Adel dengan tertawa.
"Hei nanti kamu berat lagi nahan beban suami mu tercinta ini" goda Kafka.
Adel langsung berhenti tertawa dan bersemu merah, ia memalingkan wajah nya karena malu.
Sontak Kafka langsung tertawa dengan ngakak. Ia selalu puas jika sudah menggoda Istri nya.