That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 44



Sesampai nya di Pantai, Adel langsung saja berbinar senang.


"Ayo sayang" ajak Kafka.


"Mas, kok sepi ya?" tanya Adel melihat sekeliling


"Sudah di booking sama suami tuh" jawab Rendi dengan santai.


"Iyaa, biar kamu lebih leluasa dan nyaman" timpal Kafka.


Adel hanya menghela nafas dan mengangguk saja. Selalu saja begitu!.


Kafka , Adel, Rendi dan Misel langsung ke pondok yang ada disana. Dengan segera Adel membuka sandal nya dan langsung berjalan menuju bibir pantai.


Sedangkan Rendi dan Kafka, mereka akan membakar ikan di pinggir.


Adel di temani oleh Milsi, mereka berjalan-jalan dengan santai. Dari kejauhan beberapa boddyguard menjaga mereka.


"Kak, kok aku ingin kelapa muda ya" ucap Milsi dengan wajah tak sabaran nya.


Adel mengeryit dan sekian detik kemudian tersenyum senang.


"Ayo kita ke pondok" ajak Adel dengan semangat.


Mereka langsung menghampiri Rendi dan Kafka yang sedang membakar ikan.


"Mas" panggil Milsi.


Rendi mendongkak dan melihat wajah sang Istri seperti menginginkan sesuatu.


"Kenapa sayang?" tanya Rendi.


"Aku ingin kelapa muda ituuu" jawab Milsi dengan menunjukan pohon kelapa.


"Beli saja ya. Tuh disana ada" ucap Rendi


"Gak mau, pengen langsung petik. Kamu suruh saja anak buah kamu" rengek Milsi.


"Baiklah, tunggu disini dulu" ucap Rendi mengalah.


Dengan semangat Milsi langsung menganggukan kepala nya.


"Kenapa sayang?" tanya Kafka pada Adel.


"Mungkin ngidam, Mas" jawab Adel asal.


"Mas, ingin ikan nya" ucap Adel dengan mengusap perut buncit nya.


Kafka memberikan piring yang berisi ikan sudah matang.


Tak lama kemudian Rendi datang membawa 2 buah kelapa muda yang sudah di kupas.


Milsi dengan semangat langsung menyambar dan meminum nya.


"Pelan-pelan, Dek" tegur Adel.


Milsi hanya menganggukan kepala seraya tersenyum malu.


Lalu mereka makan siang dengan bakar ikan. Mereka begitu menikmati liburannya.


***


"Noh Bu Dewi" ucap si A


Terlihat sekertaris Kafka menghampiti mereka dan duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Bu, yang tadi itu benar calon istri muda Tuan Kafka?" tanya Karyawan A


"CK, bukan lah. Dia itu adalah Nona Tya yang dari dulu terObsesi pada Tuan Kafka, dan sekarang dia kembali lagi setelah kabur dari Kota M. Yang aku dengar sih dia ngincar Bu Adel" jawab Dewi.


"Yaampun, aku kira benar. Dia gila kayak nya masa iya ngincar menantu kesayangan Ardmaja" balas temannya.


"Kita lihat saja nanti, dia tidak tahu aja bagaimana Bu Adel. Luar nya saja terlihat kalem , baik dan lembut. Tetapi jika di usik, taring harimau nya keluar" ucap Karyawan lainnya.


Mereka terus saja membicarakan Tya. Dan mereka juga sangat tidak menyukai nya karena Tya itu tipe cewek sombong.


Hingga waktu nya tiba mereka kembali bekerja dan masuk ke dalam ruangan masing-masing.


Sedangkan Dewi, ia sedang membahas pekerjaannya dengan tangan kanan Kafka. Karena Rendi juga tak masuk jadi Kafka mengutus anak buah yang memang sudah ahli.


"Dew, bagaimana tadi wanita gila itu?" tanya Lelaki tersebut.


"CK, dia menyangka bahwa rencananya berhasil untuk memanasi Bu Adel , padahal kenyataannya NOL" jawab Dewi terkekeh.


"Hahaha! Biarkan saja. Dia salah mencari lawan" ucap Lelaki tersebut.


Lalu mereka kembali fokus dengan pekerjaannya.


***


-Pantai


Terlihat Kafka yang sedang memeluk Adel dari belakang. Mereka duduk di pinggir pantai dengan Adel menyandarkan kepala nya pada dada bidang Kafka.


"Mas, aku merindukan Mommy" ucap Adel dengan memeluk lengan Kafka yang sedang mengusap lembut perut nya.


"Sebentar lagi Qilla akan libur, jadi kemungkinan mereka akan kesini" balas Kafka lembut.


"Hmmmm, habis dari sini langsung pulang?" tanya Adel.


CUP.


Dengan gemas Kafka mengecup bibir candu Adel.


"Ihhhhh" kesal Adel.


"Mau main kemana lagi?" tanya Kafka.


"Boleh tidak kita makan malam di pinggir jalan?" tanya balik Adel.


"Boleh, asal jangan terlalu malam" jawab Kafka dengan mengecup pucuk kepala Adel.


Adel tersenyum senang, mereka begitu menikmati waktu siang menuju sore hari di pinggir pantai.


.


.


.