
Pernikahan~
****
Pagi hari nya , semua orang sudah bersiap dengan style masing-masing. Bahkan Kafka sudah sangat tampan dengan setelan tuxedo yang melekat di tubuh nya.
Kafka menarik nafas lalu membuangnya dengan pelan , ia terus saja mengulangi nya hingga ia merasa tenang.
Elga mendekati Putra tunggalnya , ia menepuk pelan pundak Kafka.
"Rileks saja , jangan gugup. Nanti malam apalagi jangan gugup , biar Cucu Daddy cepat hadir" goda Elga untuk mencairkan suasana.
"Dadd" kesal Kafka.
"HAHAHA! Santai saja, Son. Daddy percaya kamu pasti bisa" ucap Elga dengan lembut.
"Ohh iya Dadd , aku akan membawa Adel dan Milsi setelah 1 minggu tinggal di mansion utama" ucap Kafka
"Tidak apa , itu hak kamu , Daddy hanya berpesan agar kamu menjaga , menghargai istrimu , jika ada masalah jangan asal gampang emosi , cari tahu dulu benar apa salahnya. Dan jangan pernah percaya akan omongan orang luar" nasihat Elga dengan serius.
"Jika selisih paham jangan langsung emosi , Ka. Selesaikan dengan kepala dingin" lanjut Elga kembali.
"Iyaa Dadd , aku mengerti" balas Kafka dengan memeluk sang Daddy.
"Ayo cepat bersiap , kita akan segera keluar" ucap Elga.
Kafka mengangguk dan membenarkan pakaiannya. Setelah siap Kafka dan Elga langsung berjalan menuju keluar kamar.
Di Ballroom Hotel hanya ada keluarga inti saja yang menghadiri acara Akad. Sedangkan untuk resepsi Kafka akan melanjutkannya nanti jam makan siang sampai jam enam sore.
Kafka berjalan dengan gagah dan aura yang sangat dominan , apalagi ia di dampingi sang Daddy, Elga.
Kafka duduk di depan penghulu dan wali untuk Adel , Adel menunjuk Pak Ustadz yang ada di mesjid dekat rumah nya dulu.
Kafka merasa sangat gugup , bahkan ia menghembuskan nafas beberapa kali.
Pak penghulu memulai acara dengan sangat khidmat dan semua orang merasa tegang.
Kafka di dampingi sang Opa dan Daddy nya. Oma dan juga Mommy nya pun ada di belakang dirinya.
Kafka menjabat tangan wali Adel dengan tegas. Lalu acara Ijab Qobul pun dimulai , dimana sang wali mengucapkan dan Kafka langsung menjawabnya dengan sekali tarikan nafas.
Semua keluarga dan kerabat mengucapkan kata 'SAH' dengan serempak. Ayu bahkan sampai meneteskan air mata nya karena merasa terharu.
Elga langsung menepuk pelan pundak Kafka dengan wajah bahagia dan haru nya. Semua yang hadir turut bahagia.
"Bisa di panggilkan mempelai wanita nya" ucap Pak penghulu.
Lalu Qilla berjalan keluar ruangan tersebut dan ia langsung menjemput sang Kakak ipar nya.
Kafka menunggu sambil menandatangani beberapa berkas. Setelah selesai ia menunggu Adel dengan gelisah.
Tak lama kemudian munculah Adel dengan di gandeng oleh Milsi dan Qilla.
Semua orang bahkan Kafka pun menganga dan berdecak kagum melihat ke cantikan Adelia Saras. Adel memakai gaun berwarna putih yang menjuntai ke belakang dengan punggung yang terbuka, di tangannya membawa bunga yang sangat indah.
Rambut panjang Adel di sanggul dengan sedemikian rupa dan meninggalkan beberapa anak rambut di depan , mahkota kecil yang menambah kesan elegant dan cantik nya seorang Nyonya Kafka.
Adel terus berjalan dengan sangat anggun , senyum yang menghiasi wajah nya dengan tulus. Para sahabat meneteskan air mata bahagia nya , bahkan Sela sudah menangis tetapi dengan wajah penuh bahagia.
Setibanya Adel di depan Kafka ia menunduk dengan wajah yang memerah malu.
Kafka tersadar saat sang penghulu menyuruh Adel duduk dan menandatangani beberapa berkas. Setelah selesai menandatangani beberapa berkas , Adel dan Kafka langsung acara tukar cincin.
Adel menyalami tangan Kafka dengan memejamkan mata , tanda ia sangat khidmat.
'Inilah pilihanku , aku berdoa semoga Pria yang baru saja menjadi Imam ku akan terus selamanya bersamaku dengan suka maupun duka. Dan aku memohon padamu Ya-Rabb semoga Pria inilah yang terakhir bagi hamba' batin Adel dengan khusu.
Kafka membalas dengan mencium kening Adel lembut.
'Semoga kamu wanita satu-satu nya yang ada di sampingku sebelum nanti akan ada Putri kita' batin Kafka
Setelah selesai mereka langsung ke atas pelaminan dan di lanjutkan dengan sesi pemotretan keluarga.
Kafka menggenggam tangan Adel dengan lembut, ia tidak melepaskan sedikitpun.
Hampir semua keluarga sudah berphoto dan ada yang dari mereka langsung menikmati hidangan yang tersedia disana.
Sedangkan Rendi ia langsung mengecek ke Aula Hotel yang ada di lantai bawah , yang luasnya melebihi Ballroom Hotel tersebut.
Akad dan Resepsi memang beda tempat , Kafka memilih Aula untuk Resepsi nya karena memang tamu yang akan datang sangatlah banyak.
Rendi mengecek dengan beberapa anak buahnya.
.
.
.