That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 41



Kini hari berjalan dengan sangat damai dan bahagia. Sejak pernikahan Rendi dan Milsi, Adel lebih banyak diam di Rumah atau sesekali ia akan mengikuti suami nya ke Perusahaan.


Usia kandungannya sudah menginjak 4 bulan, perut nya sudah terlihat membuncit. Di bulan ke 4 ini, Adel merasa lebih segar dan tidak gampang lelah.


"Masss, aku ikut ya ke kantor" rengek Adel dengan gemas nya.


"Haiss mana bisa aku menolakmu sayang, bersiaplah kalau begitu" ucap Kafka dengan mengelus perut sang Istri.


CUP


Adel langsung mengecup bibir Kafka sekilas, setelah itu ia langsung lari ke kamar ganti.


"Jangan lari-lari Bumil, perut udah buncit gitu juga gak ada takut-takut nya" ucap Kafka dengan menggelengkan kepala.


Lalu Kafka duduk di sofa yang ada disana. Ia membuka beberapa email yang masuk ke ponsel nya.


"Tau aja kamu, Nak. Hari ini memang lumayan banyak kerjaan sih, jadi aku semangat terus kalau ada Bumil" gumam Kafka tersenyum.


Adel berjalan dengan sangat anggun apalagi di sertai dengan senyuman manis nya.


"Yaampun Bumil ini kenapa cantik sekali sih" ucap Kafka dengan nada menggoda.


"Lebih sexy kan" goda Adel balik.


"Beuhhhh bukan lagi sayang" balas Kafka tertawa.


Lalu mereka tertawa dan berjalan keluar dari kamar. Mereka akan sarapan terlebih dahulu apalagi akhir-akhir ini Adel lebih sering lapar.


Sesampai nya di Ruang makan, Adel langsung melayani Kafka dengan sangat baik. Setelah itu baru ia mengambil untuk nya sendiri.


Mereka makan dengan tenang dan sesekali dengan saling menyuapi. Adel selalu saja di manjakan oleh Kafka, meski kadang membuat Adel risih.


Mom Ayu dan Daddy Elga memilih untuk menemani sang Putri Bungsu yang sedang menempuh pendidikan. Mereka tidak bisa membiarkannya sendirian , meski masih ada boddyguard.


Setelah selesai mereka langsung saja berangkat. Kafka menyuruh Rendi lebih dulu ke kantor tanpa menjemputnya.


"Mau beli camilan dulu tidak?" tanya Kafa saat mobil sudah melaju.


"Eummmm tidak deh, nanti saja" jawab Adel santai.


Kafka mengelus perut buncit Adel dengan lembut. Itu adalah rutinitas baru nya sekarang.


Di sepanjang perjalanan, Kafka terus saja menggenggam tangan Adel.


Hingga beberapa saat akhirnya mereka sampai di Perusahaan Ardmaja.


Kafka membukakan pintu untuk Adel. Mereka masuk dengan wajah yang sangat segar dan bahagia.


"Selamat pagi Pak , Bu" sapa Resepsionis dengan sopan.


"Pagi" balas Adel ramah.


Lalu mereka langsung masuk ke dalam Lift khusus untuk petinggi disana. Adel terkenal sangat ramah di kawasan Perusahaan tersebut.


Ting.


Pintu Lift terbuka, Kafka langsung membawa Adel masuk ke Ruangan nya.


"Kamu duduk saja disitu ya, kalau ingin apa-apa bilang saja" ucap Kafka dengan lembut.


Kafka hanya menganggukan kepala saja, ia tidak bisa menolak karena kalau menolak sudah pasti Adel akan merengek.


Kafka membiarkan Adel duduk di kursi kebesarannya, sedangkan ia duduk di depan Adel.


Mereka langsung saja memulai bekerja dengan tenang. Adel sudah terbiasa dengan pekrrjaan Kafka jadi ia tidak canggung lagi.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" ucap Kafka tanpa mengalihkan pandangan nya.


Masuklah Rendi dengan beberapa berkas di tangannya.


"Ini beberapa berkas harus anda tandatangani" ucap Rendi dengan santai.


Kafka mendelik kesal, yang ini juga belum selesai sudah datang lagi yang baru. Begitu pikir Kafka.


"Ambil lah, Mas. Itu adalah pundi-pundi uang" kekeh Adel dengan mengejek.


"Yaudah taro saja, hari ini jangan ada jadwal meeting" ucap Kafka tegas.


"Baik, Pak" balas Rendi.


Lalu Rendi pamit undur diri, ia akan mengerjakan beberapa tugas lainnya.


Setelah kepergian Rendi, Kafka langsung saja menelungkupkan wajah nya pada berkas yang ada di hadapannya.


"Sabar, ayo semangat biar cepat selesai" ucap Adel mengelus lembut kepala Kafka.


"Hmmmm, aku hanya merasa lelah saja" balas Kafka lemah.


"Jangan dong, harus semangat" ucap Adel lembut.


Kafka mengangguk tersenyum. Begitulah Kafka, ia akan merengek bahkan sangat manja pada Adel saja. Sedangkan di luaran sana ia akan sangat garang, dingin dan tegas.


Adel dan Kafka melanjutkan kembali pekerjaannya. Bahkan Adel sudah memesan banyak makanan dan minuman karena ia sudah merasa lapar.


"Mas" panggil Adel


"Kenapa?" tanya Kafka.


Lalu Adel menyodorkan ponsel nya pada Kafka, terlihat Kafka sangat syok dan menatap Adel seraya menggelengkan kepala.


"Coba selidiki dulu, Mas" ucap Adel lembut.


"Iyaa, aku akan menyuruh anak buahku untuk masalah ini" balas Kafka.


"Siapa yang berani-berani bermain denganku. Akan ku cari kau" batin Kafka geram.


Kafka mengembalikan ponsel Adel dan setelah itu mereka istirahat terlebih dahulu.


Adel menikmati beberapa camilan yang ia pesan tadi.


.


.


.