That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 57



Sore hari nya, Kafka bangun lebih dulu. Dia melihat ke samping yang mana pemandangan tersebut yang membuat senyuman nya merekah.


Terlihat kedua wanita yang masih terlelap dalam tidur nya.


Kafka beranjak bangun dan menatap sang Istri dengan lembut.


Cup


Kafka mengecup kening Adel dengan lembut, lalu ia beralih pada sang Putri.


"Princess, kau sangat menggemaskan tetapi lebih menggemaskan lagi Mommy-mu" ucap Kafka terkekeh.


Lalu Kafka mengecup pipi Baby Jen dengan lembut, setelah itu ia langsung saja pergi ke kamar mandi.


Terdengar suara gemircik air dari dalam kamar mandi membuat Adel membuka mata nya.


"Uhh jam berapa ini" gumam Adel dengan beranjak bangun.


"Ternyata sudah sore" gumam nya kembali, lalu Adel memindahkan guling ke samping Baby Jen.


Setelah itu, Adel langsung ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian Kafka.


Di rasa selesai, Adel kembali ke kamar nya karena takut Baby Jen bangun.


"Eh anak Mommy bangun ya" ucap Adel tersenyum.


Lalu Adel meraih tubuh sang Baby, setelah itu Adel memberikan asi pada Baby Jen.


"Haus ya sayang, uhh lahap sekali" ucap Adel dengan mengusap lembut pipi Jen.


Ceklek.


"Ehh udah pada bangun" ucap Kafka tersenyum.


"Iyaa Dadd, Princess juga ingin mandi" balas Adel dengan suara anak kecil.


"Yaudah Daddy pakai baju dulu sana" ucap Adel saat Kafka akan mendekat.


"Yahh , baiklah" pasrah Kafka dan pergi ke ruang ganti.


Setelah puas dengan asi, Adel langsung memandikan sang Putri. Ia memang masih baru menjadi Mommy tetapi dia sudah terbiasa dengan Bayi sejak dulu.


Dia tidak lama-lama memandikan Baby Jen, setalah selesai dengan acara mandi nya.


Adel membawa Baby Jen ke atas ranjang.


"Kita pakai baju dulu ya sayang, terus nanti kamu tidur lagi oke" ucap Adel tersenyum.


"Wah Putri Daddy sudah cantik" ucap Kafka yang baru saja keluar dari kamar ganti.


"Titip Jen ya, aku akan mandi dulu" ucap Adel tersenyum.


"Iyaa, jangan lupa pakai air hangat" balas Kafka.


*Siap, Dadd" kekeh Adel.


Kafka tersenyum dan naik ke atas ranjang, ia terus saja mengajak bicara sang Princess.


"Udah wangi, udah seger, sekarang ngantuk ya" ucap Kafka dengan menggendong Baby Jen.


Kafka mengajak Baby Jen duduk di sofa yang di pinggir kaca besar.


Mereka duduk disana dengan pemandangan kota pada sore hari.


"Mau tidur lagi ternyata, wah pinter nya langsung tidur. Uhh kau memang Princess yany sangat pintar" ucap Kafka dengan mengecup pipi dan kening Baby Jen.


"Jadilah wanita yang periang, kuat dan pintar, Nak. Seperti Mommy mu yang sangat cantik, bukan paras nya saja yang cantik tetapi juga hati nya" ucap Kafka dengan lirih.


Kafka lalu beranjak dari duduk nya, ia meletakan Baby Jen di boxs bayi milik nya.


"Tidur ya, Dadd?" tanya Adel yang baru keluar.


"Iyaa, Momm. Sana pakai baju dulu" jawab Kafka tanpa memalingkan mata nya dari Baby Jen.


"Hehe, sabar ya Dadd" goda Adel dengan menoel pipi Kafka.


"Mommy Jenika" kesal Kafka dengan wajah memelas.


"Iyaa Daddy kenapa?" tanya Adel dengan tersenyum


"Mommmmmmm" pekik Kafka tertahan.


Tawa Adel langsung pecah dan ia langsung berlari ke kamar ganti.


Sedangkan Kafka menggeleng kan kepala nya dengan kelakuan sang Istri.


"Huh awas saja kau, Mom. Kalau sudah boleh akan aku langsung terkam kau" gumam Kafka dengan tersenyum.


.


.


.