
Sore hari nya Adel bangun terlebih dahulu, ia menggeliat dan menatap Kafka yang masih terlelap memeluk tubuhnya.
Dengan perlahan Adel menyingkirkan tangan Kafka dari tubuhnya, setelah itu ia langsung masuk ke kamar mandi.
Sedangkan di halaman belakang Qilla sedang bermain bersama Rendi dan Milsi.
"CK, Abang itu licik mainnya" gerutu Qilla saat kalah terus mainnya.
"Hei kau saja yang tidak bisa" balas Kafka tertawa tipis.
"Ngalah sama anak kecil bisa gak sih" gerutu Qilla kembali.
"Anak kecil bagaimana , udah Sekolah menengah pertama juga. Bukan anak sekolah dasar lagi" olok Rendi.
Milsi terkekeh melihat mereka yang selalu berdebat dimana pun mereka bertemu.
"Aku kan masih imut, dan sangat menggemaskan jadi aku masih kecil" ucap Qilla dengan gaya imut dan centil nya.
"Uekkkkkkk" olok Rendi kembali.
Milsi tertawa melihat wajah Qilla yang merenggut kesal.
"Udahh lah Kak Isel ayo kita pergi saja" ajak Qilla dengan memegang tangan Misel.
"Tidak bisa , Misel akan pergi bersama Abang untuk jalan-jalan" ucap Rendi cepat.
"Aku ikuttttt, yuhuuuu belanja" teriak Qilla dengan senang.
"Pergi saja sendiri" balas Rendi.
"Huaaaaaa Bang Kafka" teriak Qilla kembali.
"Abang udah ihh jangan di gangguin terus" omel Milsi.
"Hehe iya iya sayang" balas Rendi cengengesan.
Milsi memalingkan wajah merah nya dan berlalu masuk bersama dengan Qilla. Qilla menjulurkan lidah nya ke arah Rendi.
"Heiiii tunggu aku" teriak Rendi.
Para Art disana hanya menggelengkan kepala saja melihat kelakuan mereka bertiga.
Di ruang makan semua sudah berkumpul , bahkan Sela , Retika serta para suaminya pun masih ada disana.
Mereka akan makan malam bersama terlebih dahulu baru nanti pulang ke mansionnya.
"Kalian masih disini , kirain sudah pamit pulang" celetuk Kafka yang baru saja tiba di ruang makan bersama Adel.
"Numpang makan dulu napa, Ka" balas Sela dengan sinis.
Kafka memutar bola malas , lalu Kafka duduk di dekat Adiknya. Sedangkan Adel ia duduk di sebelah Kafka.
Para Istri mengambilkan makanan untuk suaminya, hanya Milsi , Qilla dan Rendi yang hanya mengambilnya sendiri.
"Makannya cepat nikah Ren, biar ada yang melayani" goda Kafka dengan melirik Adik iparnya.
Milsi menunduk malu karena Kafka meliriknya dengan senyuman penuh arti.
Adel bingung melihat Milsi yang menunduk sedangkan Kafka dan Rendi terkekeh.
"Ohh iya Mil, nanti Kakak tunggu di ruang kerja ya. Ada yang harus Kakak bahas denganmu dan Kakak mu" ucap Kafka.
"Baik Kak" balas Milsi.
Ayu menatap bingung ke arah Putra nya sedangkan Kafka hanya tersenyum dengan melirik Rendi.
Ayu mengerti dan tersenyum saja. Sedangkan yang lain juga sudah tahu karena mereka bisa melihat bagaimana sikap Rendi pada Adik Adel.
Lalu Elga menyuruh mereka makan dengan tenang tanpa ada pembicaraan.
***
Saat ini Rendi , Milsi , Kafka dan Adel berada di ruang kerja Kafka. Adel sebenarnya bingung tetapi ia memilih diam saja.
"Begini sayang, Rendi yang akan menyampaikan sesuatu yang penting padamu" ucap Kafka yang seolah mengerti ke bingungan di wajah sang istri.
Rendi menghela nafas , lalu ia memulai cerita dan niatnya. Adel melirik Adiknya yang menunduk memainkan jari.
"Aku terserah Milsi saja, jika memang dia mau ya silahkan. Aku tidak akan memaksa ataupun melarangnya melanjutkan sekolah. Tetapi kamu harus sabar membingbing dia yang mungkin saja masih labil" jelas Adel.
"Terimakasih , aku akan selalu sabar dan mengajarkannya, Del" balas Rendi bahagia.
Milsi menatap Kakaknya dengan penuh binar bahagia.
"Terimakasih , Kak" ucap Milsi tersenyum.
"Belajarlah lebih dewasa, Dek. Karena kamu akan segera menjadi istri. Kakak harap kamu akan selalu bahagia, sayang" ucap Adel dengan tulus.
Milsi berdiri dan memeluk Kakaknya dengan sangat erat. Bahkan ia meneteskan air mata nya.
"Kakak berharap kamu selalu begini, jangan sombong sayang, rendah hati tapi jangan rendah diri , ingat jaga diri baik-baik" nasihat Adel.
"Baik Kak, aku akan selalu mengingatnya Kak" balas Milsi.
"Oh iya , besok kami akan berangkat ke Maldevis untuk bulan madu" ucap Kafka.
"Semoga cepat ada Kafka junior ya" ucap Rendi tulus.
"Pasti dong" balas Kafka dengan pongah.
Rendi memutar bola mata nya malas. Ia ingin sekali menjitak kepala Bos nya itu.
"Ayo sayang kita harus membereskan barang yang akan di bawa besok" ajak Kafka lembut.
"Baiklah, Mas" balas Adel.
Lalu Adel menatap Adiknya dengan tersenyum.
"Aku juga akan ke kamar, Kak. Aku mau istirahat karena besok harus sekolah" ucap Milsi
"Baiklah , belajar yang benar" balas Adel.
Milsi menganggukan kepala dan berjalan keluar ruangan bersama dengan Rendi.
Kafka dan Adel pun keluar dan berjalan ke arah kamarnya. Adel memeluk lengan Kafka dengan manja.
Kafka hanya tersenyum saja. Dia merasa sangat senang melihat istrinya yang manja.
"Kita hanya perlu membawa sedikit baju dan yang lainnya sayang, nanti disana sudah tersedia kok" ucap Kafka.
"Baiklah Mas, mungkin 1 koper besar saja ya buat barang berdua kita" balas Adel.
"Iyaa sayang, jangan lupa membawa Lingeria" bisik Kafka dengan senyum mesum nya.
"Issshhh Mas kau ini" gerutu Adel yang memalingkan wajahnya.
Adel langsung mencubit pinggang suami nya dan menabok pantat nya.
"Hahaha iya iya ampun sayang" ucap Kafka karena Adel terus saja menaboknya.
"Hehh rasakan ya , siapa suruh ngegoda mulu ya kamu, Mas" gerutu Adel dengan tersenyum.
Lalu Kafka memutarkan tubuhnya dan menyerang Adel dengan menggelitiki nya.
"Hahaha Mas ampun" ucap Adel dengan tertawa.
"Tidak ada ampun ya sayang, rasakan ini" balas Kafka dengan kembali menggelitiki Adel.
Adel tertawa dengan keras bahkan ia sampai mengeluarkan air mata nya.
Kafka tertawa puas dan melepaskan tangannya dari pinggang Adel.
"Hah hah hah mas kau kau keterlaluan" ucap Adel dengan ngos ngosan.
Kafka tertawa renyah dan merebahkan tubuhnya di samping Adel.
"Keterlaluan bagaimana sayang, kamu sendiri yang memulai nya" balas Kafka dengan nafas ngos-ngosan juga.
Mereka tertawa pelan bersama dan Adel langsung memeluk tubuh Kafka.
"Hah aku lelah, untung aku tidak ngompol disini, Mas" gerutu Adel dengan menepuk dada bidang Kafka.
"CK, aku akan pakaikan pempers jika kau ngompol sayang" ucap Kafka terkekeh.
Adel mendelik kesal yang mana membuat Kafka merasa sangat gemas dan menciumi wajah nya.
"Udah ahh Mas, kapan aku bereskan barangnya" protes Adel dengan mengkrucutkan bibir nya.
"Gemesin banget sih. Besok saja sayang, nanti aku bantuin. Sekarang tidur saja aku lelah karena terus tertawa" balas Kafka memeluk tubuh Adel.
"Hah baiklah aku juga lelah di gelitiki kamu. Kalau begitu selamat malam Hubby" ucap Adel lembut.
"Selamat malam to , Hunny" balas Kafka sambil mengecup kening Adel lembut.
Lalu mereka memejamkan mata nya dengan wajah tersenyum bahagia. Kafka merasa sangat bahagia dengan kehadiran Adel di kehidupannya.
****
Pagi hari nya , Adel dan Kafka sudah bangun sejak tadi dan saat ini mereka sedang membereskan barangnya.
Mereka akan berangkat selesai sarapan pagi bersama. Karena mereka akan pergi dengan jet pribadi jadi Kafka akan lebih santai.
"Kamu mandi duluan, Mas" ucap Adel
"Oke" balas Kafka yang selesai dengan menaruh koper nya di dekat pintu.
"Nanti aku siapin pakaiannya ya. Aku akan kebawah untuk memasak" ucap Adel tersenyum.
"Tolong siapkan kopi ya, sayang" pinta Kafka.
"Baik, Mas" balas Adel.
Setelah itu Kafka masuk ke kamar mandi dan Adel menyiapkan pakaian Kafka sebelum keluar kamar.
Setelah selesai , Adel berjalan ke arah luar dan turun untuk memasak.
"Sudah bangun kamu, Dek" ucap Adel pada Milsi yang sedang membantu Mbak Lala.
Milsi menoleh dan tersenyum mengangguk.
"Mbak biar aku saja yang masak" ucap Adel ramah.
"Baiklah, Nyonya" patuh Mbak Lala.
Adel terkekeh geli mendengar kata Ngonya. Lalu Mbak Lala pergi mengerjakan tugas lainnya.
Adel dan Milsi akan masak ayam crispy , capcay dan sop iga kesukaan Kafka. Mereka memulai masaknya dengan senyuman di wajah cantik mereka.
Milsi membantu memotong semua bahannya dan Adel membuat bumbu untuk capcay dan sop iga.
Mereka memasak dengan sangat cekatan dan lincah, Milsi membuat Ayam goreng crispy dan beberapa teman lainnya, seperti goreng kentang dan yang lainnya.
Hingga beberapa saat kemudian mereka selesai memasak dan Milsi membantu menata nya di meja makan.
Adel lalu membuatkan kopi pesanan Kafka ia juga membuatnya untuk sang Daddy mertua nya.
Sedangkan Milsi ia mengambil wadah untuk bekal dirinya dan Qilla. Memang mereka selalu saja membawa bekal dari rumah.
"Wahh sudah harum saja ini, sayang kenapa masak tidak ajak-ajak, Mommy" ucap Ayu
"Tidak apa, Mom. Lain kali kita masak beraama" balas Adel.
"Kalau begitu aku ke atas dulu ya, Mom. Mau bersiap dan memanggil Mas Kafka" pamit Adel
"Iya sayang" balas Ayu lembut.
Setelah kepergian Adel , Ayu mendekati Milsi yang sedang asik menata bekal makannya.
"Ini buat kamu dan Qilla ya, sayang?" tanya Ayu.
"Iya, Mom. Ini sudah selesai, aku takut Qilla akan makan sembarangan dan nanti sakit perut lagi" jawab Milsi tersenyum
"Oh iya Nak, apa kamu sudah tahu bahwa Qilla akan pindah ke Negara Oma nya. Dia akan bersekolah disana!" tanya Ayu kembali.
"Tau Mom, makannya nanti sepulang aku sekolah dia ngajak belanja ke Mall. Pasti Qilla akan lama disana ya, Mom?" tanya Milsi kembali.
"Mungkin sampai lulus S1 nya, sayang. Jangan bersedih, nanti kamu bisa menjenguknya kok kesana" hibur Ayu memeluk Milsi
"Iya , Mom" balas Milsi.
Setelah itu Ayu pergi untuk memanggil suami dan juga Putri bungsunya.
Sedangkan Rendi ia baru saja tiba di kediaman Ardmaja karena semalam ia pulang ke Apartemennya.
Rendi langsung melangkahkan kaki nya ke arah dapur dan ia melihat Milsi yang sedang menuangkan air minum.
"Sayang , boleh buatkan kopi tidak?" tanya Rendi dengan lembut.
Milsi terperanjat kaget karena ia tidak tau kalau ada yang masuk kesana.
"Ihh ngagetin banget sih" omel Milsi.
Rendi hanya terkekeh dan duduk di kursi yang ada disana. Sedangkan Milsi ia membuatkan kopi untuk Rendi.
.
.