
Hampir seharian Adel dan Kafka hanya menghabiskan waktu di halaman belakang. Adel merasa sangat malas untuk pergi jalan-jalan.
Dari arah belakang, seorang pelayan datang memberitahu bahwa makan siang sudah jadi.
"Ayo makan siang dulu, terus istirahat ya" ajak Kafka
"Hmmm , oke" balas Adel
Lalu mereka berjalan dengan sesekali bercanda yang mana membuat para Art tersenyum bahagia.
"Lihatlah, Tuan muda sangat bahagia ya. Aku selalu berdoa semoga mereka tetap seperti itu" ucap Art lainnya.
"Iyaa, kita jadi ikut senang lihat nya" balas Art lainnya.
Mereka terus saja menggosipkan Tuan muda dan Nyonya muda nya.
Sedangkan di meja makan, Adel sedang menyuapi bayi besar yang sangat manja.
"Nambah lagi?" tanya Adel
"Iyaa , tapi kamu makan lagi yaa" jawab Kafka
"Iyaa, sayangku" ucap Adel dengan sok imut.
HAHAHA! Tawa Kafka pecah , ia sangat senang dengan keadaan ini, dimana dirinya dan sang Istri yang selalu menggoda bahkan bisa membuat suasana hidup.
"Udah ih ketawa mulu, nanti keselek sayang" tegur Adel ketus.
"Hehehe Uhuk Uhukk" batuk Kafka dan dengan segera Adel menyodorkan air minum.
"Nahh kan, rasain" ucap Adel dengan terkekeh.
Kafka mendelik dan menjitak kepala Istri nya karena sebal.
"Hahaha, yaampun maafkan aku, Masku sayang" olok Adel dengan tawa renyah nya.
Kafka hanya diam dan terus makan saja, ia sungguh kesal dengan Adel yang selalu bisa saja mengolok nya.
Setelah puas makan siang, mereka beranjak masuk ke kamar untuk istirahat. Sebelum istirahat Kafka dan Adel bersantai di balkon kamar nya.
"Mas, coba Vidio Call Mommy" ucap Adel.
"Kangen ya?" tanya Kafka dengan terkekeh.
"Hehe iyaa, Mas. Sekalian kan besok kita akan pindahan" jawab Adel tersenyum.
"Sebentar" balas Kafka.
Lalu Kafka masuk ke kamar dan mengambil ponsel nya.
Adel duduk berdekatan dengan Kafka, mereka masih menunggu panggilannya yang belum di jawab oleh Momm Ayu.
"Kenapa gak di angkat juga ya" ucap Kafka heran.
"Emmm coba ke Daddy, Mas" saran Adel.
Kafka mencoba menelpon sang Daddy tetapi sama saja tidak di angkat. Lalu Kafka menelpon ke telepon rumah.
"Bi, apa Mommy dan Daddy tidak apa?" tanya Kafka.
"Baiklah, terimakasih" ucap Kafka
Tut.
Kafka langsung menaruh ponsel nya di meja dekat tempat duduknya.
"Mom sama Daddy sudah istirahat, sayang" ucap Kafka.
"Yaudah tidak papa, ayo kita juga istirahat" balas Adel.
Lalu mereka memutuskan untuk tidur karena hari memang sudah malam.
***
Sedangkan Milsi, ia masih saja bertukar cerita dengan sang kekasih. Ya , sejak tadi Rendi menelpon Milsi hanya ingin mengetahui kabar dan memang ia sangat merindukannya.
"Abang, besok lagi ya sudah malam. Besok Abang kan kerja" ucap Milsi.
"Hmmm baiklah, sayang. Jaga dirimu dan cepatlah kembali" balas Rendi.
"Iyaa, sebentar lagi kok" ucap Milsi. Lalu ia mematikan sambungan telepon bersama Rendi.
Milsi duduk di sofa kamar dengan mengadahkan wajah nya ke arah langit-langit kamar.
"Ayah, Ibu , sekarang Aku dan Kakak sudah bahagia dengan kehidupan kita masing-masing, semoga Ayah dan Ibu juga bahagia disana ya" gumam Milsi sendu.
Milsi melangkahkan kaki nya ke arah ranjang dan ia langsung terlelap di samping Qilla. Milsi sangat merindukan Ayah dan ibu nya yang sudah lama meninggal.
Keesokan pagi nya, Milsi sudah terbangun dan membantu para Art disana.
"Nona , biar kami saja" ucap Art disana.
"Tidak apa, Bi. Aku senang kok membantu" balas Milsi ramah.
"Biarkan saja, Bi. Karena memang ia suka membantu disana juga" ucap Ayu yang baru saja tiba di sana.
"Baik Nyonya Muda" balas Art patuh.
Milsi, Ayu dan para Art disana langsung saja berkutat dengan sayuran dan yang lainnya.
Sedangkan yang lainnya masih saja bergelung dengan selimut.
"Nyonya, maaf semalam Tuan muda menelpon" ucap salah seorang Art.
"Benarkah? Ada apa katanya, Bi?" tanya Ayu
"Tidak tau, saya bilang kalau Nyonya dan yang lainnya sudah istirahat" jawab Art.
"Yaudah nanti saya telepon balik, Bi" ucap Ayu ramah.
Art tersebut mengangguk dan pergi dari sana. Sedangkan Ayu ia menerka-nerka , karena tidak biasanya Kafka menelpon sampai ke telepon Rumah.
.
.
.