
Kafka masuk dengan raut wajah yang sulit di mengerti. Ia langsung saja naik ke lantai atas dan mengabaikan semua orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Kenapa dengan anak itu" heran Elga.
"Paling kangen dengan istri nya, Mas" ucap Ayu santai.
Lalu mereka membahas kembali untuk acara Wisuda Milsi besok.
Sedangkan Kafka ia langsung saja masuk ke dalam kamar dan mencari Adel.
"Sayang" panggil Kafka
Hening , tidak ada jawaban sama sekali. Lalu Kafka mencari ke kamar mandi dan kamar ganti, tetapi Nihil semua nya kosong.
Kafka tertegun melihat Adel yang masuk ke kamar dari arah balkon dengan tangan yang menenteng martabak.
"Sayang, kenapa tidak menjawab telepon ku tadi dan kenapa Ponsel nya malah mati?" tanya Kafka khawatir.
"Aku sengaja matikan" balas Adel cuek bahkan tanpa menoleh ke arah Kafka.
"Ada apa sayang?" tanya Kafka lembut.
"Kamu tadi kemana? Aku tuh ingin makan martabak tapi kamu malah tidak mengangkat teleponku" ucap Adel dengan merajuk bahkan air mata sudah menetes.
Kafka menghela nafas dan duduk di sebelah Adel dan mengusap air mata nya.
"Maaf, tadi aku lagi meeting. Ponsel nya lagi di charger di ruanganku" balas Kafka lembut.
"Iyaa lebih penting pekerjaan daripada aku dan anak kita" ketus Adel dan beranjak dari duduk nya.
Lalu Adel keluar kamar dan menutupnya dengan agak keras.
"Ahhh harus membujuk nih" gumam Kafka terkekeh.
"Dasar Bumil, untung aku sudah di kasih tahu bahwa Bumil kadang mood nya buruk" gumam nya kembali seraya melangkahkan kaki nya ke kamar mandi.
***
Di ruang keluarga semua orang terheran-heran melihat wajah cemberut dan bahkan masih ada sisa air mata di pelupuk mata nya.
Adel duduk dengan mulut penuh martabak di sisi Oma nya.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Rahma lembut.
Adel menghela nafas dan menyenderkan kepala nya di bahu Oma Rahma.
"Aku kesel sama Mas Kafka, ma masa aku telpon dari tadi gak di angkat ehh tau nya lagi meeting padahal aku udah ngiler banget pengen martabak" cerita Adel dengan wajah di tekuk.
"Terus sekarang Kafka nya mana?" tanya Antoni.
"Tau, sibuk sama berkas kali" jawab Adel malas.
Antoni dan Elga tertawa kecil , mereka pernah merasakan di posisi saat ini dulu.
"Sayang?" panggil Kafka yang baru saja tiba.
Adel langsung pindah di dekat Ayu dan Elga. Ia bahkan memalingkan wajah nya karena masih kesal.
"Mom, yang lainnya aku sama Qilla ke kamar duluan ya" pamit Milsi tersenyum.
"Iyaa, kamu kan besok ada acara sayang jadi istirahat ya" ucap Ayu lembut.
Milsi dan Qilla langsung saja pergi setelah pamitan, mereka tidak akan ikut campur masalah ke uwuan Adel dan Kafka.
Sedangkan Kafka ia langsung duduk di samping Ayu dan memasang wajah memelas pada Mom nya.
"Mom aku tidur dengan Mommy ya" pinta Adel.
Uhuk
Elga dan Kafka langsung batuk bahkan sampai melototkan mata nya.
"Terus Daddy bagaimana sayang? Sama Qilla aja ya" bujuk Elga dengan cepat.
"No sayang, sama aku ya. Kamu kan gak bisa tidur kalau tidak memeluk aku" bujuk Kafka dengan wajah memelas.
"Gak , aku masih kesel sama kamu, Mas" ucap Adel ketus.
"Gapapa aku tidur di sofa saja ya. Asal kita masih satu kamar" bujuk Kafka kembali.
Rahma dan Antoni sudah kabur lebih dulu, bahkan Ayu dan Elga pun ikut pergi dari sana.
"Yaudah iya, awas saja kalau naik ke ranjang" ancam Adel.
"Iyaa sayang, ayo kita ke kamar" ajak Kafka
"Jangan pegang-pegang" ketus Adel
Kafka hanya mengangguk dan menghela nafas kasar. Kafka mengikuti Adel di belakang nya.
Sesampai nya di kamar, Adel langsung ganti pakaian dan merebahkan tubuh nya di ranjang size.
Sedangkan Kafka ia merebahkan tubuhnya di sofa dan memakai selimut yang ia ambil tadi.
Adel melihat Kafka yang meringkuk seperti bayi kedinginan.
"Huhh kenapa aku ingin sekali memeluk Mas Kafka" gumam Adel lirih.
Adel sudah kesana kemari tetapi ia tidak bisa tertidur sama sekali.
"Masss" panggil Adel
Kafka yang memang belum tidur pun langsung mendongkak.
"Kenapa sayang?" tanya Kafka
"Mau peluk" rengek Adel yang sudah berkaca-kaca.
Kafka tersenyum dan langsung menghampiri Adel.
"Kan kan pasti pengen peluk, dasar Bumil sayang" batin Kafka tertawa.
"Yaudah sini tidur" ucap Kafka lembut.
Adel langsung merebahkan tubuh nya dan memeluk Kafka dengan erat.
"Selamat malam sayang. Maaf ya tadi aku mengabaikan mu" ucap Kafka mencium pucuk kepala Adel.
"Jangan gitu lagi" balas Adel lirih.
"Iya sayang tidak akan" ucap Kafka mengusap perut Adel.
Lalu mereka memejamkan mata nya. Adel langsung terlelap di pelukan Kafka yang hangat.
.
.