That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 15



Milsi dan Rendi mengalihkan pandangannya saat beberapa mobil masuk ke halaman mansion Ardmaja.


"CK, kau malah pacaran" ucap Andi dengan menggelengkan kepala.


Milsi menundukan kepala nya karena merasa malu saat hampir semua orang menatapnya.


Rendi mengabaikan ucapan Andi dan mendekati Kafka.


"Semua nya sudah di atur dan minggu depan sudah bisa di tempati' ucap Rendi.


"Bagus , kalau begitu aku masuk dulu" balas Kafka.


Mereka masuk ke mansion dan duduk di ruang keluarga.


Adel meringis saat akan duduk , bahkan ia beberapa kali menguap.


"Kamu istirahat saja, sayang" ucap Ayu lembut.


"Iyaa , kamu kayak lelah banget" timpal Retika yang sedang memangku Putri nya.


Adel mengangguk dan berdiri, karena memang ia sangat masih lelah dan mengantuk.


"Mau kemana, sayang?" tanya Kafka saat ia masuk ke dalam mansion.


"Antar istrimu istirahat, Nak" ucap Ayu


Kafka melihat wajah Adel yang memang lelah dan mengantuk.


"Ayo sayang" ajak Kafka.


"Kalau begitu aku masuk dulu ya semuanya" pamit Adel dengan tersenyum.


Mereka hanya mengangguk saja.


"Jangan di kerjain lagi , Ka" celetuk Tama dengan terkekeh.


"Tidak lah , Om. Kasihannn" balas Kafka dengan mendapatkan cubitan di pinggangnya.


"Sakit sayang" ringis Kafka pada Adel.


Adel hanya melotot saja dan berjalan dengan pelan ke arah Lift.


"Sayang tunggu" teriak Kafka dengan berjalan.


Tama , Andi dan Raka tertawa ngakak melihat bagaimana Kafka yang sudah bucin pada Adel.


Kafka memasuki lift dengan menggandeng tangan Adel, Kafka memeluk tubuh istrinya.


"Mas gendong ya , kamu pasti capek" bujuk Kafka.


Adel hanya mengangguk saja. Lalu Kafka langsung menggendong Adel.


TING.


Pintu lift terbuka dan Kafka langsung membawa Adel ke kamar nya.


"Tidurlah dulu" ucap Kafka lembut.


Adel tersenyum dan memejamkan matanya yang memang sudah berat karena mengantuk.


Kafka mengecup kening Adel lembut. Lalu ia turun kembali ke ruang keluarga.


Sedangkan Milsi , ia sedang membereskan semua barang Kakak nya.


"Ahh aku akan kesepian" gumam Milsi sedih.


"Huhh aku harus bagaimana jika memang Bang Rendi ngomong sama Kakak" gumam nya kembali.


Mbak Lala masuk dengan mengeryit heran melihat Milsi yang sedang melamun.


"Katak loncat" kaget Milsi.


"Mbak ihhhhh" gerutu Milsi saat melihat Mbak Lala yang sedang tertawa.


"Kenapa melamun melulu , itu kerjaan belum kelar juga" ucap Mbak Lala dengan masih saja tertawa.


"Ini lagi di kerjain kok" balas Milsi terkekeh.


"CK, alasan saja. Ahh aku tau , kau sedang memikirkan Tuan Rendi ya" olok Mbak Lala


Milsi memalingkan wajah nya yang bersemu merah karena malu.


"Gak , apasih Mbak ini" balas Milsi lirih.


Mbak Lala tertawa melihat Milsi yang malu-malu mau.


"Mbak dukung kok , Tuan Rendi itu baik Mil, aku yakin dia serius dengan mu" ucap Mbak Lala lembut.


"Aku merasa tidak pantas, Mbak. Aku dengannya berbeda jauh , dan aku aku takut kalau Orangtua nya tidak merestui" lirih Milsi


"Aku yakin dia tidak memandang mu dari sana nya , Dek. Dia itu yatim piatu" balas Mbak Lala.


Milsi hanya tersenyum getir saja , ia akan membicarakannya pada Kakak nya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.


"Bicaralah terlebih dulu kepada Kakak mu" saran Mbak Lala.


"Iya Mbak" balas Milsi.


Lalu mereka kembali membereskan barang-barang Adel.


Sedangkan Kafka , ia saat ini sedang berada di ruang kerja nya bersama dengan Rendi.


"Ada, Ren?" tanya Kafka.


Rendi menghela nafas dalam lalu membuangnya. Ia menatap Kafka dengan serius.


"Aku akan melamar , Milsi" ucap Rendi dengan tegas.


"Apa kau yakin? Dia itu masih sekolah dan mungkin saja ia ingin meneruskan ke jenjang Universitas, Ren" balas Kafka menghela nafas.


"Aku sudah berbicara dengannya, aku akan menikahi nya setelah lulus Sekolah dan aku juga akan mengizinkan dia kuliah" ucap Rendi bersikeras.


"Hmmm , besok saja kita bicarakan dengan Milsi dan juga istriku. Aku tidak akan melarangmu, Ren" ucap Kafka menepuk pundak Rendi.


"Terimakasih, aku tidak akan membuatnya bersedih karena aku sangat menyayangi nya" janji Rendi dengan tegas.


Kafka mengangguk dan berlalu keluar dari ruanh kerja nya.


"Aku harus berbicara pada Om dan Tante" gumam Rendi.


Lalu ia berdiri dan berjalan menghampiri Ayu dan Elga yang ada di ruang keluarga.


Sedangkan Kafka ia berjalan masuk ke kamarnya.


Kafka langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Adel , ia masih saja terlelap tidur dengan pulas.


"Uhhh pules banget tidurmu, sayang" gumam Kafka saat melihat Adel yang tidak terganggu sama sekali.


Kafka masuk kedalam selimut yang sama dengan Adel, lalu ia merebahkan tubuhnya di samping Adel.


Lalu Kafka memeluknya dan memejamkan mata.


.


.


.