
Hari ini hari dimana Milsi akan di wisuda, bahkan Ayu tak tanggung-tanggung ia mendatangkan MUA untuk merias Milsi.
Adel hanya terharu Adik satu-satu nya kini sudah lulus meski hanya SMA tetapi ia bangga.
"Kak, jangan sedih kasihan Dede bayi nya" ucap Milsi menghapus air mata Adel.
Kafka hanya mengusap bahu sang istri agar merasa tenang.
"Kakak hanya bahagia saja, sayang. Dan sebentar lagi tugas Kakak akan selesai karena tugas itu akan berpindah pada Rendi" balas Adel memegang tangan sang Adik.
Rendi mendekat dan merangkul bahu Milsi dengan lembut.
"Tenang saja, Nona. Meskipun aku tidak sekaya Tuan Kafka tapi untuk Milsi dan Anak-anakku kelak aku akan mencukupi nya. Aku akan menjaga nya sebagaimana Nona menjaga nya" ucap Rendi tegas.
"Terimakasih, tetapi jika memang kamu sudah tidak menginginkannya maka kembalikan saja padaku. Dan jika dia salah tegur dengan lrmbut jangan main tangan ya" ucap Adel tersenyum.
"Siap Kakak Ipar" balas Rendi terkekeh.
Ayu mendekat dan tersenyum melihat semua nya.
"Ayo sayang, MUA nya sudah sampai" ajak Ayu pada Milsi.
"Iyaa Mom. Kak aku pergi bersiap dulu ya" pamit Milsi mencium pipi Kakak nya.
Adel mengangguk seraya mengusap lembut kepala sang Adik.
"Are you oke, sayang?" tanya Kafka lembut.
"Aku hanya bahagia sayang. Oh iya apa kita jadi ke Dokter?" tanya Adel.
"Jadi sayang, setelah dari Dokter kita akan ke sekolah Milsi" jawab Kafka lembut.
"Benarkah?" antusias Adel.
"Iyaa , tapi jangan terlalu lelah, oke" ucap Kafka mengusap pipi Adel lembut.
Adel mengangguk dengan antusias.
"Kasihanilah aku yang belum halal dong" celetuk Rendi dengan malas.
"Iyaa , apalagi aku yang jomblo" timpal Qilla jengah.
Adel terkekeh dan menyembunyikan wajah malu nya pada Kafka.
"Hisss dasar para lalat pengganggu" ucap Kafka sinis.
"Ohh iya, apa Daddy belum pulang dari Bandara?" tanya Adel.
"Belum , katanya Daddy akan langsung ke sekolah Kak Isel" jawab Qilla santai.
"Mas, ayo kita bersiap" ajak Adel.
Kafka mengangguk dan beranjak dari duduk nya. Lalu Adel dan Kafka berlalu dari ruang tamu.
"Kenapa kamu belum siap-siap, Dek?" tanya Rendi.
"Sebentar lagi, Abang" jawab Qilla yang sedang asyik dengan ponsel nya.
"Yaudah Abang bersiap dulu ya" pamit Rendi.
Qilla hanya mengangkat tangan tanda setuju saja. Setelah Rendi pergi Qilla pun berlalu ke kamar Milsi.
***
"Yaampun kamu cantik sekali, Kak" ucap Qilla takjub saat masuk ke kamar.
Milsi menunduk dengan malu yang mana membuat Ayu terkekeh.
"Aku yakin sekali, pasti Abang akan menganga kayak orang bo*oh melihat ke cantikan Kakak" celetuk Qilla kembali.
"Yaampun Qilla" ucap Ayu menggelengkan kepala.
Qilla hanya cengengesan dan mulai bersiap agar sang Mommy tidak ngomel.
"Yaudah ayo keluar, sayang" ajak Ayu.
"Mom, apa aku terlihat berlebihan tidak?" tanya Milsi gusar.
"Tidak sayang, kau sangat simple tetapi elegant" jawab Ayu tersenyum.
Milsi menghela nafas lega dan melangkahkan kaki nya keluar kamar bersama dengan Ayu.
Tap
Tap
Rendi langsung mengalihkan pandangannya dan ia langsung terpana oleh ke cantikan Milsi.
Adel langsung bangun dan tersenyum melihat wajah cantik sang Adik.
"Lalat masuk noh" ucap Kafka dengan menampar bahu Rendi.
"Sialan" kesal Rendi.
"Mommm, cantik sekali bidadari ku" celetuk Rendi.
Milsi menunduk malu dengan semburat senyuman di wajah nya.
"Iya dong" bangga Ayu
"Nah benar kan kalau Abang akan terlihat orang bo*oh dengan melihat wajah cantik Kak Milsi" ceplos Qilla yang sudah siap.
"Yaampun gak gitu juga kali, Dek" cebik Rendi.
"Udah-udah. Ayo berangkat" ajak Kafka.
"Maafkan Mommy ya, sayang. Besok lagi akan Mommy temani kontrol nya" ucap Ayu pada Adel.
"Tidak apa, Mom. Aku yang minta maaf karena merepotkan Mommy" balas Adel tak enak.
"Hei , dia juga putri Mommy" ucap Ayu mengelus tangan Adel.
"Yaudah, aku dan Adel duluan ya" pamit Kafka
"Hati-hati, Bang" balas Ayu.
Kafka mengangguk dan langsung menggandeng tangan Adel. Mereka akan ke Rumah sakit dengan di antarkan sopir.
Sedangkan Mommy dan yang lainnya akan bersama Rendi.
Masalah perusahaan Kafka menyerahkan pada Sekertaris nya dan Asisten Rendi.
***
-Rumah Sakit.
Setelah menempuh hampir 1 jam , Adel dan Kafka akhirnya sampai di Rumah sakit.
Mereka langsung masuk karena memang sudah membuat janji.
"Tuan, Nyonya silahkan" ucap perawat dengan sopan.
"Terimakasih" balas Adel ramah.
Lalu Adel dan Kafka di antarkan ke Ruangan Dokter kandungan. Mereka di sambut dengan ramah oleh Dokter Mutia.
"Silahkan , Nona" ucap Dokter dengan ramah.
"Apakah ada keluhan ataupun yang lainnya?" tanya Dokter saat melihat Adel dan Kafka sudah duduk.
Lalu Adel menjelaskan semua nya dengan rinci dan tanpa ada yang ketinggalan sedikitpun.
Dokter Mutia hanya mendengar kan saja dengan setia.
"Baiklah, kita USG dulu ya" ucap Dokter Mutia.
Adel lalu bangkit dan berjalan dengan masih tangan yang di genggam oleh Kafka.
Perawat lalu mengoleskan gel pada perut rata Adel.
"Maaf ya, Nona" ucap Dokter dengan mengarahkan alat USG pada perut Adel.
Kafka merhatikan layar di depan dengan seksama dengan tangan yang masih menggenggam tangan Adel.
Lalu Dokter Mutia menjelaskan semua nya dengan terperinci.
.
.
.