That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 12



Selama acara berlangsung Kafka tak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya pada Adel.


Tetapi wajah nya sangat dingin apalagi kalau ada wanita yang secara terang-terangan menatapnya dengan penuh minat.


Satu persatu para tamu naik ke pelaminan dan mengucapkan selamat pada mereka.


Adel selalu membalas nya dengan senyuman. Bahkan sampai Kafka merasa dongkol melihat Adel yang selalu tersenyum.


Kafka mengajak Adel turun dan menghampiri para relasi bisnis, Kafka akan mengenalkan Adel pada seluruh Dunia bahwa dia adalah wanita yang sangat berharga baginya.


"Selamat Tuan Muda Kafka dan Nona Adel" ucap Herman kolega bisnis Kafka.


"Terimakasih Pak Herman" balas Adel.


"Bukankah ini Sekertaris anda ya, Tuan? Saya kira Istri anda dari kalangan Model ataupun pembisnis lainnya" celetuk Tya dengan nada merendahkan.


Kafka mengepalkan tangannya dengan erat , tetapi dengan cepat ia membalas perkataan tersebut dengan sangat menyakitkan.


"Tidak apa mau sekalipun dia dari jalanan pun aku tetap akan menikahinya. Dan nyatanya dia lebih unggul dari Model ataupun pembisnis dan dia adalah Ratu nya" bangga Kafka dengan mengusap lembut pipi Adel.


"Cih palingan juga dia memberikan tubuhnya padamu bukan, Tuan" ucap Tya kembali.


Pak Herman dan Istrinya langsung melotot tajam. Mereka tidak mau kalau Putri nya akan membuat masalah disana.


"Tya" bentak sang Ibu.


"Benarkan bu, mana mungkin seorang sekertaris bisa menikahi majikan kalau tidak dengan" ucap Tya dengan sengaja menggantung ucapannya.


Emosi Kafka sudah berada di ubun-ubun, jika saja Adel tidak menahannya sudah pasti ia akan melayangkan tamparan pada wanita itu.


"Jaga ucapan anda Nona Muda Herman, anda tau ? Anda tidak apa-apa nya di bandingkan Istri saya. Anda hanya tau belanja dan berpesta, berbanding dengan Istri saya , dia tau cara segalanya" balas Kafka dengan aura dinginnya.


Tya langsung di seret paksa oleh sang Ibu karena ia sudah merasa malu dengan kelakuan Putri nya.


"Maafkan putri saya" ucap Pak Herman.


Kafka hanya menatap datar dan membawa Adel pergi dari sana.


Adel hanya menganggukan kepala saja pada Pak Herman. Lalu ia mengikuti langkah kaki suaminya, Kafka.


Ayu melihat wajah Kafka yang emosi dan wajah Adel yang sendu.


"Nak , kenapa?" tanya Ayu


"Tidak apa, Mom. Kami hanya lelah saja dan kami ingin mengambil minuman saja" jawab Adel lembut.


"Baiklah , jika kalian lelah sebaiknya istirahat saja karena sebentar lagi acara akan selesai" ucap Ayu dengan tersenyum.


Kafka hanya diam saja dan membawa Adel kembali untuk pergi ke kamarnya.


Elga menghampiri Ayu yang sedang menatap ke pergian Putra dan Menantu nya.


"Sayang" panggil Elga.


"Iya mas" ucap Ayu.


"Kenapa?" tanya Elga


Elga mengeryit sama bingung dengan Ayu.


"Nanti kita cari tau saja, sayang" ucap Elga menggandeng tangan istrinya.


Lalu mereka menghampiri beberapa kolega bisnis kembali dan membiarkan Kafka beristirahat bersama Adel.


Kafka membawa Adel ke kamar pengantin yang sudah di siapkan. Terlihat di wajah Kafka yang masih emosi.


Klik.


Kafka mengunci kamar tersebut.


"Aku mandi duluan ya" ucap Kafka dengan lembut.


"Yaudah , aku buka aksesoris ini dulu" balas Adel dengan menunjuk tatanan rambutnya yang banyak aksesoris.


Kafka mengangguk dan tersenyum lembut. Lalu ia melangkahkan kaki nya ke kamar mandi.


Sedangkan Adel , ia duduk di kursi rias yang ada disana. Satu persatu Adel membuka aksesoris tersebut dan gaun yang ia pakai.


Adel mengganti gaunnya dengan kimono yang ada disana karena tidak ada pakaian milik dirinya disana.


Hampir 20 menit dan keluarlah Kafka dengan handuk sebatas pinggangnya. Adel langsung menunduk malu.


"Mandi dulu sana" titah Kafka terkekeh.


"Hmmm baiklah, Ka. Pesan makanan ya aku lapar" cicit Adel dengan wajah bersemu malu


"Hahaha baiklah sayang" balas Kafka dengan tertawa geli melihat wajah Adel.


Lalu Adel dengan cepat masuk ke kamar mandi. Sedangkan Kafka ia masih tertawa kecil melihat bagaimana wajah malu sang istri.


Kafka mengambil ponsel nya dan menelpon pegawai Hotel agar mengirimkan makanan ke kamarnya.


Setelah selesai Kafka duduk dengan santai di sofa kamar yang ada disana.


"Ck. Menggemaskan sekali, ingin rasanya aku melahapmu sekarang, sayang" gumam Kafka dengan terkekeh.


Tak lama kemudian Adel selesai dengan ritual mandinya. Ia melangkah dengan pelan ke arah meja rias.


Tetapi belum juga sampai tubuhnya sudah melayang karena di angkat Kafka.


"Masssss" kaget Adel dengan tangan yang sudah memegang pundak Kafka.


Kafka hanya cengengesan dan duduk di pinggir ranjang.


Kafka mendudukan Adel di pangkuan tanpa menunggu lama ia langsung mendaratkan ciuman di bibir tipis Adel.


Adel diam dengan menegang.


.


.


.