That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 49



Dewi membawa rekaman tersebut dan langsung memberikannya pada Kafka.


Rendi langsung menghubungkan pada laptop disana. Mereka melihat apa saja yang ada disana.


Hingga dimana sebelum kejadian tersebut seorang lelaki menyamar menjadi OB dan memasukan sesuatu ke dalam minuman Kafka.


"Sebentar" ucap Adel.


"Ren, coba perbesar pas wajah nya" titah Adel dengan serius.


Lalu Rendi memperbesar nya, Adel langsung mengeryit dan terus saja meneliksik siapa orang tersebut.


"Sayang apa kau kenal?" tanya Kafka


"Seperti nya aku mengenal dia, sebentar aku ingat-ingat" jawab Adel dengan serius.


"Ahhh ya aku ingat, dia adalah Rama Adiwiguna" ucap Adel dengan yakin.


"Siapa dia?" tanya Kafka bingung.


Rendi juga terlihat bingung dan ia melihat lelaki yang ada di layar.


"Dew, kau pasti ingat dia. Dia adalah Rama yang dulu pernah mengungkapkan perasaannya padaku, tetapi aku menolak nya. Karena dia itu seorang playboy dan pemain wanita" jelas Adel dengan serius.


"Tapi setauku dia kan sudah tidak bekerja lagi disini" ucap Adel kembali.


"Dia itu adalah Kakak sepupu Tya" ucap Rendi


"Apakah benar?" tanya Kafka.


"Iyaa, aku yakin sekali soalnya aku pernah bertemu dengan Orangtua nya. Dan aku yakin sekali mereka pasti bersekongkol" jawab Rendi cepat.


"Cepat kau hubungi anak buah kita dan suruh cari lelaki tersebut" perintah Kafka.


"Pantesan tadi aku melihat dia ada di seberang jalan" ucap Dewi.


"Kenapa tidak bilang" balas Rendi gemas.


"Aku tidak tau, Tuan. Yang aku kira dia sedang menunggu temannya saja" ucap Dewi membela diri.


"Sudahlah. Kalian kembali ke ruangan kalian saja" ucap Kafka datar.


"Baik Tuan" jawab mereka serentak.


Sedangkan Adel ia masih memikirkan tentang masalah tersebut.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan" tegur Kafka.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu mencari Rama saja" balas Kafka menenangkan.


Adel memeluk Kafka dan berusaha tenang. Ia tidak habis pikir, ia kira Rama tidak akan membalas semua nya.


"Aku takut dia akan melukai orang-orang yang ada di sekelilingku" batin Adel cemas.


Kafka hanya bisa mengusap punggung Adel agar ia merasa tenang saja.


"Ayo kita pulang" ajak Kafka.


"Tapi ke Rumah sakit dulu" ucap Adel mengingatkan.


"Iyaaa, kita akan kesana dulu untuk mengecek Baby" balas Kafka tersenyum.


Lalu Adel bangun dan berjalan beriringan dengan Kafka. Mereka sebisa mungkin menampilkan wajah tenang nya.


***


Saat ini Tya sedang mengamuk di markas Kafka. Ia tidak terima bahwa ia akan kalah seperti ini oleh Adel.


"Lepaskannn saya" teriak Tya


Tetapi ia tidak bisa apa-apa. Karena tangan dan kaki nya di ikat dengan kuat.


"Semoga Rama bisa selamat dan bisa kabur" gumam Tya.


"Aku sudah menunggu hari ini, tetapi sial nya aku gagal. Bahkan aku sudah rela berpura-pura gila agar terlepas dari Orangtua ku" gumam Tya dengan menahan emosi.


"Awas saja kau Adel, aku akan membalas semua ini" gumam nya kembali.


Tya mengamuk kembali agar ia bisa di bebaskan. Ia sangat takut berada disana.


"Ck, berisik sekali wanita itu" gerutu anak buah Kafka.


"Maklum wanita gila, dia kira Nyonya kita akan kalah apa sama dia" kekeh temannya.


"Iyaa, dia sangat salah mencari lawan" timpal yang lainnya.


Lalu mereka kembali bermain kartu untuk mengurangi rasa jenuh nya.


.


.


.