That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 21



Rendi begitu bahagia saat pulang berkencan dengan Milsi tanpa gangguan dari Qilla. Ia merasa bahwa didikan Adel begitu melekat di diri Milsi.


"Kenapa senyum-senyum begitu, Bang?" tanya Milsi heran.


Rendi menengok sebentar lalu fokus kembali ke depan.


"Aku merasa bahagia dan bersyukur , aku ingin kau selalu berada bersamaku selamanya. Aku sudah tidak sabar untuk menghalal kan mu, sayang" jawab Rendi lembut.


Milsi bersemu merah dengan ucapan Rendi.


"Aku dan Kak Adel yang lebih bahagia dan bersyukur , Bang. Karena kami memiliki pasangan yang sangat menyayangi kami dengan tulus. Aku aku merasa tak pantas dengan status kita yang beda, tetapi Abang membuktikan bahwa status tidaklah penting" ucap Milsi lembut.


Tangan Rendi langsung mengelus kepala Milsi dengan sayang.


Sesampai nya di mansion Ardmaja, Milsi keluar dengan beberapa papperbag di tangannya.


Qilla sudah bersidekap dada dengan memandang Milsi sinis. Sedangkan Milsi hanya cengengesan saja.


"Selamat siang, Nona Qilla" goda Milsi dengan menyodorkan papperbag.


Qilla mendengus sebal dan mengambil barang tersebut.


"Awas aja kalau gak bagus" gerutu Qilla


Milsi hanya tersenyum dan masuk bersama Qilla. Sedangkan Rendi langsung kembali karena akan menjemput Kafka ke Bandara.


"Baru pulang, Nak?" tanya Ayu lembut.


Milsi menghampiri Ayu dan Elga seraya langsung menyalami tangannya.


"Iya, Mom. Maaf lama ya" jawab Milsi tak enak.


"Tidak apa, asalkan kamu bahagia, Nak" ucap Ayu lembut.


Sedangkan Elga mengeryit melihat ke antusiasan Putri bungsu nya yang sedang membuka Papperbag.


"Wowwww amazing" kagum Qilla.


"Apa sih, Dek?" tanya Elga penasaran.


"Ini Dadd, tas keluaran terbaru tetapi aku dan Kak Isel couple" jawab Qilla dengan menyodorkan tas mewah.


Ayu tersenyum melihat ke antusiasan Putri nya. Ia tahu meski bukan barang branded dan cukup mahal tetapi apapun yang di belikan Milsi , Qilla selalu menerima dengan senang hati.


Mereka mengobrol dengan sesekali bercanda ria. Qilla dengan mulut ceplas-ceplosnya selalu saja membuat mereka tertawa.


"Ohhh iya, apakah Abang jadi pulang hari ini?" tanya Qilla.


"Jadi, mungkin sebentar lagi akan sampai" jawab Elga santai.


"Wow pasti Kak Adel membawa banyak hadiah untukku" ucap Qilla bahagia.


"Bukan buat kamu aja kali, Daddy juga pasti dapat" olok sang Daddy.


Qilla mendelik dan melongos saja, karena ia selalu kalah berdebat jika dengan sang Daddy.


"CK, aku pasti lebih banyak dapat oleh-oleh nya" bangga Ayu dengan tersenyum.


"Mommy" rengek Qilla kesal.


HAHAHA! Tawa mereka pecah seketika karena melihat wajah Qilla yang sudah memerah menahan kesal.


"Assalamualaikum" ucap seseorang dari luar.


"Yaampun anak itu" omel Ayu dengan kesal.


Tetapi dengan gerakan cepat Milsi dan Qilla berlari ke arah pintu.


Elga menggeleng tak percaya dengan kelakuan sang Putri bungsu nya yang kadang absurd.


"Yaampun, kenapa Putri kita jadi begitu ya, Mas" ucap Ayu gelengkan kepala.


"Mungkin Mommy nya dulu juga begitu" ucap Elga dengan segera pergi sebelum sang istri berteriak.


"Massssssss" teriak Ayu kesal.


Elga hanya cekikikan saja dengan terus berjalan menghampiri Putra dan Menantunya.


Sedangkan Ayu, ia langsung mengejar sang suami.


Sedangkan di luar , Qilla dan Milsi masih memeluk Adel dan Kafka dengan erat.


"Sayang, lepaskan kasihan Kakak mu kecapean, biarkan dia istirahat dulu" ucap Rendi pada Milsi.


Seketika Milsi langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah sang Kakak yang tersenyum tetapi masih terlihat wajah lelah nya.


"Maaf" ucap Milsi tak enak.


"Tidak apa, tapi nanti lagi ya. Kamu sama Qilla bongkar oleh-oleh saja. Kakak capek banget" balas Adel lembut.


Kafka tersenyum melihat istrinya yang selalu lemah lembut pada Keluarga tetapi jika dia sedang badmood maka singa betina nya yang keluar.


"Yaudah gapapa, ayok Kak Isel kita bongkar" ajak Qilla yang sudah melepaskan pelukannya.


Kafka menjitak kepala Adiknya karena teriak di dekat telinga nya.


"Sakittttt Abang" kesal Qilla.


"Jangan berteriak kayak di Hutan saja" dengus Kafka sambil membawa Adel masuk.


Saat masuk Kafka dan Adel di suguhkan dengan wajah sang Daddy yang tersenyum tetapi sang Mommy yang menahan kesal.


"Lanjutkan saja Mom , Dadd aku dan istriku akan istirahat dulu ya" ucap Kafka malas.


Ayu mendengus tetapi menganggukan kepalanya.


"Istirahat ya, Ka. Jangan buat mantu Mommy kelelahan lagi" ucap Ayu santai.


"Tidak akan Mom, nanti saja itumah gampang" balas Kafka enteng.


Seketika tangan Adel langsung mencubit perut sispecx suaminya, Kafka. Kafka meringis dan memasang wajah polos nya.


"Mom , Dadd kami ke kamar dulu ya. Nanti kita berkumpul lagi" pamit Adel lembut.


Elga menganggukan kepala dengan tersenyum.


"Iya , Nak" balas Ayu tersenyum.


Lalu Kafka membawa Adel untuk menggunakan Lift saja agar Adel tidak kelelahan kembali.


.


.


.