
Semua anggota sudah berkumpul untuk sarapan pagi. Bahkan Rendi pun ikut sarapan disana bersama keluarga Bos nya.
Setelah selesai , Qilla dan Milsi berangkat di antar supir sedangkan Adel dan Kafka di antar oleh Rendi.
"Mom , Dadd , Aunty dan Uncle kami berangkat dulu ya. Tolong jaga kesehatan kalian" ucap Adel yang memang sering sang mertua kelelahan.
"Iya iya sayang, semoga cepat dapat cucu buat , Mom" balas Ayu terkekeh.
Adel menunduk dengan malu. Sedangkan Kafka mengacungkan jempol nya tanda siap.
Lalu mereka melambaikan tangannya pada Adel dan Kafka.
Mobil melaju dengan ke cepatan sedang. Rendi dengan lihai dan santai nya melajukan mobil tersebut.
Di dalam mobil tersebut hanya hening yang ada di sana. Adel menyenderkan kepala nya pada pundak Kafka dan Kafka merangkul pinggang Adel.
Hampir 1 jam akhirnya mobil yang di lajukan oleh Rendi sampai juga di Bandara. Kafka dan Adel langsung keluar.
Rendi menyuruh salah satu anak buahnya membawakan koper sang majikan.
"Hati-hati Tuan , Nyonya" ucap Rendi.
"Terimakasih, tolong jaga Milsi" balas Adel ramah.
"Siap Kakak ipar" ucap Rendi hormat.
Adel terkekeh dan langsung pergi bersama Kafka, Kafka memeluk pinggang Adel dengan posesif.
"CK, posesif sekali Tuan muda" gumam Rendi terkekeh.
Lalu Rendi kembali melajukan mobilnya ke arah Perusahaan Ardmaja.
-Jet Pribadi.
Adel begitu menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan keluar kaca jendela pesawat. Sedangkan Kafka ia memeluk Adel dari samping.
"Lihatlah Mas, indah sekali bukan" ucap Adel dengan takjub.
"Iya sangat indahhh" balas Kafka melihat wajah Adel yang sedang tersenyum.
Adel mendengus dan memalingkan wajah nya.
"Mas, bukan wajah aku ihhh" gerutu Adel.
Kafka tertawa pelan dan mencubit gemas hidung Adel.
"Sakitttt Masss" rengek Adel dengan kesal.
"Kamu menggemaskan sekali sih , Hunny" ucap Kafka dengan mengacak rambut Adel.
Adel mendengus dan mencubit kedua pipi Kafka dengan tawa yang renyah.
"Sayang stop , stop sakittt" ucap Kafka dengan memegang kedua pipi nya yang di cubit Adel.
"Rasainnn, wleee" balas Adel dengan menjulurkan lidah nya.
Kafka tergelak dengan tingkah sang Istri. Lalu ia menggelitiki pinggang Adel dengan cepat.
"Aaaaaa mas ampunnnnnn" teriak Adel dengan tertawa.
Kafka tertawa dan mengecup seluruh wajah Adel yang memerah karena tertawa.
Lalu mereka berdua bersandar pada kursi pesawat dengan nafas terengah-engah.
Hingga akhirnya mereka berdua tertidur dengan Adel memeluk Kafka.
****
Pulau Maldevis.
Kafka langsung membawa Adel ke Villa yang langsung mengarah ke arah Pantai.
Disana Adel di suguhi pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Jika saja bukan malam hari Adel sudah pasti akan bermain pasir di Pantai.
"Indahhh sekali" takjub Adel.
Kafka tersenyum dan memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.
"Apa kau suka, sayang?" tanya Kafka.
Adel mengangguk dengan cepat , bahkan senyum yang indah terus saja ada di wajah cantiknya.
"Terimakasih, Hubby. Aku bahagia sekali" ucap Adel dengan tulus.
"Sama-sama , karena kebahagiammu adalah sebuah semangat bagiku" balas Kafka sambil mencium pipi Adel.
"Aku mohon , jika suatu saat aku salah kau harus menegur ku terlebih dahulu, jangan dulukan emosi karena itu akan membuat semuanya runyam. Begitu pun aku, aku akan mendahulukan bertanya tanpa harus emosi" ucap Adel lembut, lalu Kafka memutar tubuh Adel hingga berhadapan dengannya.
"Kau adalah separuh aku, Del. Aku tidak akan melakukan kesalahan dengan membiarkanmu pergi dari hidupku" balas Kafka dengan mencium lembut bibir candu nya.
Mereka saling memangut dengan penuh kelembutan , tetapi lama kelamaan lum**an tersebut berubah jadi menuntut.
Kafka membawa Adel ke ranjang yang ada disana , dan dengan di kuasai gairah Kafka langsung melakukan keinginannya. Sedangkan Adel hanya menerima nya tanpa sepatah kata pun.
Malam pertama di Maldevis mereka lewatkan dengan penuh gairah dan keringat. Bagaimana tidak , Kafka menghajar Adel dengan sangat lama , seolah tubuh istri nya itu adalah candu.
Kafka baru menyelesaikannya setelah merasa kasihan melihat Adel yang kelelahan.
"Terimakasih, tidurlah" ucap Kafka dengan mencium lembut bibir Adel.
"Hmmmmm" balas Adel lesu.
Kafka terkekeh dan membiarkan Adel menyelami mimpi nya.
Sedangkan Kafka ia memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Setelah selesai ia memilih duduk dengan memperhatikan wajah Adel yang terlelap pulas.
"Huhhh kau seperti narkoba saja sayang, membuatku candu dengan tubuhmu" gumam Kafka terkekeh.
Lalu Kafka mengusap lembut pipi Adel dengan gemas. Kadang Kafka mencium atau mencubitnya , tetapi saking lelah nya Adel tidak terganggu sama sekali.
"CK, menggemaskan sekali kamu, sayang" ucap Kafka mencium bibir istrinya sekilas.
Lalu Kafka ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh polos Adel.
.
.
.