That Woman, Is Mine!

That Woman, Is Mine!
Bab 23



Selesai makan malam , mereka semua berkumpul di kamar Qilla. Milsi dan Adel membantu Qilla membereskan barang-barangnya untuk besok.


Tok ... Tok ...


"Masuk" ucap Kafka.


Ceklek.


"Maaf Tuan, di luar Nyonya dan Tuan Besar sudah datang" ucap Mbak Lala sopan.


"Oh baiklah, buatkan minuman dulu ya, Mbak. Aku akan turun sebentar lagi" balas Kafka


Mbak Lala hanya menganggukan kepala dan pergi dari sana.


"Mom , Dadd ayo ke bawah. Oma dan Opa sudah sampai" ajak Kafka.


"Ayo, sayang kamu di temani Adel dan Milsi dulu ya" ucap Ayu lembut.


"Oke, Mommm" balas Qilla


Ayu , Elga dan Kafka melangkah keluar kamar Qilla dengan beriringan.


Adel membereskan kembali barang-barang Qilla dengan cepat.


Sedangkan di bawah , Kafka sudah memeluk sang Oma yang memang ia rindukan.


"Dimana , Adel?" tanya Oma Rahma.


"Ishh Oma, ini disini ada aku kenapa Adel yang di tanyakan" gerutu Kafka.


"Disini, Oma" ucap Adel yang baru saja tiba dengan senyuman manis nya.


Oma Rahma langsung melepaskan pelukan Kafka dan berjalan mendekati Adel.


"Ahhhh Cucu ku" ucap Oma Rahma bahagia.


Adel terkekeh melihat wajah masam suaminya. Begitupun dengan Ayu dan yang lainnya bahkan Antoni sudah tertawa geli.


"Ayo duduk sayang" ajak Kafka pada Adel.


Oma Rahma langsung mendelik dan mengajak Adel duduk di sofa yang agak jauh dari Kafka.


"Adel bersama Oma dulu, kau sudah puas kan kemarin bulan madu bersama nya" ucap Oma Rahma dengan ketus.


"Baiklah Oma, tapi nanti malam Adel akan tetap tidur denganku" ucap Kafka penuh penekanan.


"Iyaa , pelit amat sih" gerutu Oma Rahma.


"Bukan pelit, Oma. Tapi kan Oma pengen punya Cicit" ucap Kafka santai.


Blushhh


Adel langsung menunduk malu dengan ucapan sang suami. Sedangkan yang lainnya hanya terkekeh saja.


"Ahhh benar juga ya. Baiklah, nanti kalau kalian punya kabar baik beritahu Oma" ucap Oma Rahma tegas.


"Siap kanjeng ratu" balas Kafka.


Mereka bercanda dan bercerita dengan seru, bahkan Kafka sangat bahagia saat menggoda sang istri.


Sedangkan Milsi dan Qilla langsung saja tidur karena kelelahan. Bahkan ponsel Milsi berdering pun tidak membangunkan mereka.


****


Pagi hari nya , Rendi , Kafka dan Adel mengantarkan Keluarga nya ke Bandara.


Bahkan Rendi terlihat sedang kesal tetapi entah apa yang membuatnya kesal.


Sesampai nya di Bandara, Rendi memeluk Milsi sebentar.


"Jaga kesehatan ya, terus kasih kabar dan jangan lupa angkat bila aku nelpon" ucap Rendi pada Milsi.


Milsi pamitan pada Kakak dan Kakak iparnya.


"Jangan merepotkan mereka ya, Dek" ucap Adel


"Iya Kak. Kakak jaga kesehatan, aku hanya 1 minggu saja kok" balas Milsi.


Adel memeluk Milsi kembali dan melepaskannya. Adel melambaikan tangan saat semuanya masuk ke dalam pesawat.


"Ayo sayang" ajak Kafka.


"Mass , mau ke kantor?" tanya Adel.


"Iya , tapi kamu ikut ya" pinta Kafka.


Adel memeluk Kafka seraya menganggukan kepala nya.


Sedangkan Rendi sudah menunggu di mobil, ia sangat malas melihat kemesraan Tuan dan Nyonya nya.


Mobil yang mereka tumpangi melaju di jalanan yang cukup lenggang karena memang sudah waktunya bekerja. Adel terus saja memeluk Kafka, ia merasa nyaman dekat dengan sang suami.


Sesampainya di Perusahaan , Kafka dan Adel langsung masuk ke ruangannya. Rendi juga langsung menuju ke ruangannya.


"Sini aku bantu kerjakan" ucap Adel


"Terimakasih, sayang" balas Kafka lembut. Adel hanya mengangguk saja dan memulai bekerja.


Sedangkan di bawah , para karyawan juga di buat bahagia karena mereka juga mendapatkan oleh-oleh dari Adel dan Kafka.


"Ahhh yaampun , baik sekali Mbak Adel dan Tuan Kafka. Semoga mereka selalu bahagia" ucap Karyawan A.


"Iyaa , dari dulu Mbak Adel itu baik banget. Ahhh aku sangat bahagia mempunyai Bos seperti mereka" balas teman nya.


Mereka lalu memulai bekerja kembali. Begitulah Karyawan Ardmaja , dari dulu tidak ada pengkhianat ataupun karyawan yang sombong.


***


-Negara I


Ikmal dan sang istri begitu bahagia menjalani hari-hari nya.


Mereka sudah mempunyai dua buah hati, bahkan Ikmal merasa seperti mendapatkan undian, ia begitu bahagia mendapat Istri yang sangat baik , lembut dan bahkan menyayangi nya.


"Mas, tolong jaga Riziek" ucap Keila.


"Kau mau kemana sayang?" tanya Ikmal dengan lembut.


"Aku akan melihat Putri kita dulu" jawab Keila tersenyum.


"Kan Meila sedang di Pesantren sayang" ucap Ikmal dengan gemas.


"Ahhj yaampun aku lupa, Mas" balas Keila cengengesan.


Ikmal mencium bibir Keila dengan kilat. Ia merasa sangat gemas dengan kelakuan sang Istri.


"Duduk disini , bawa Riziek juga" ucap Ikmal


Keila datang dengan membawa Riziek di gendongannya yang sedang menyusu.


"Yaampun jago Ayah, sini Ayah sudah rindu dengan mu" ucap Ikmal membawa Riziek ke gendongannya.


Keila dan Ikmal begitu bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Meski banyak sekali rintangan bahkan tak jarang ada wanita yang mengaku hamil oleh Ikmal.


Tetapi Keila tidak percaya begitu saja, ia memilih menanyakan dulu pada sang suami.


.


.


.